Her And Bitter Memories

Her And Bitter Memories
45.



Persis seperti perkataan Jeno kemarin bahwa hari ini mereka akan kembali menemui dan menghabiskan waktu bersama keluarga mereka.


Sejak pukul 6 pagi, Jeno, Geo, Kanfa, dan Hiro sudah berkeliaran di jalan untuk mencari sarapan. Namun akhirnya yang menjadi tujuan mereka adalah pasar pagi yang berada tak jauh dari pusat kota.


"Hoaaammm" Kanfa menguap lebar setelah menghabiskan suapan terakhir bubur miliknya.


Hiro yang berada duduk di depannya mendelik. "Gua tampol lo ya!"


"Sorry sorry, ngantuk gua Ro" ucap Kanfa dengan kedua tangan yang di tangkup di depan wajah.


Geo mendengus, lalu menendang sebelah kaki Kanfa cukup keras. "Ngantuk-ngantuk bubur semangkok abis"


"Hehehehe"


Hiro tak lagi menghiraukan Kanfa, fokusnya kini beralih pada sepupunya itu yang hanya diam sejak tadi. "Mau langsung ke mansion?" tanya Hiro.


Tidak ada jawaban dari Jeno, matanya memandang fokus pada orang-orang yang tengah berlalu lalang.


Cukup lama Hiro menunggu jawaban dari yang keluar dari mulut sepupunya itu, sampai akhirnya Jeno bangkit dari duduknya dan mulai melangkah entah kemana.


"Gua mau keliling" hanya itu yang keluar dari mulut Jeno sebelum cowok itu mulai menghilang menyatu dengan orang-orang yang memenuhi pasar.


"Soulmate lu Ge" Kanfa menepuk pelan bahu Geo. "Sepupu lu goblok" balas Geo ngegas.


"Wkwkwk"


Jeno melangkah tak tentu arah, cowok itu hanya mengikuti kemana kakinya berjalan. Lebih tepatnya ia sengaja mengulur waktu agar terlambat datang ke mansion Courtland.


Mata Jeno berpendar menatap sekitarnya, pertama kalinya ia menyusuri pasar pagi seperti ini. Biasanya ia hanya akan datang ke tempat-tempat seperti street food yang jelas hanya berisi makanan bukan pasar pagi yang berisi berbagai macam pedagang.


"Apa ini yang di lakukan orang-orang setiap hari? Aku bahkan hampir tidak pernah pergi keluar untuk sarapan" Jeno bergumam lirih.


Nyatanya menyenangkan sekali melihat banyak orang di tempat seramai ini saat pagi hari. Sepertinya mulai sekarang ia akan pergi setiap weekend untuk mencari sarapan di luar.


Tanpa Jeno sadari bibirnya menyunggingkan senyum tipis, benar kata orang bahagia itu sederhana.


"Ouh?? Tuan muda Jeno!!" Seruan lantang seorang pria paruh baya membuat beberapa orang menoleh ke arah Jeno.


Jeno jelas terkejut, ia tidak menyangka bahwa akan ada seseorang yang mengenalinya di sini.


"Salam tuan muda" pria paruh baya yang bisa Jeno tebak sepertinya salah satu pedagang di pasar ini membungkuk hormat diikuti orang-orang yang mulai mengetahui keberadaan Jeno.


"Jangan membungkuk seperti itu paman" ucap Jeno tak enak. Dirinya tidak suka jika orang yang lebih tua darinya bersikap hormat berlebihan seperti ini padanya.


"Maafkan saya karena tak mengenali anda sebelumnya tuan muda" ucap pria paruh baya itu lagi.


"Jeno saja, paman. Aku hanya Jeno disini bukan cucuk Revano Courtland"


"Tapi--"


"Aku tidak menerima penolakan" ucap Jeno tegas.


"Permintaan anda adalah perintah bagi kami"


Jeno mendengus geli kemudian pamit dari sana untuk kembali berkeliling.


Geo, Kanfa, dan Hiro masih setia duduk di tempat semula. Ketiganya tengah fokus pada ponsel masing-masing sambil menunggu Jeno kembali.


Drrtt drrrtt


Wajahnya yang semula terlihat santai dengan cepat berubah menjadi panik saat membaca nama yang tertera pada layar ponsel miliknya.


"Mampus luhhh, hah Jeno anjing!!" umpatnya kesal.


Kanfa dan Hiro saling pandang, keduanya jelas paham siapa yang membuat Geo menjadi sepanik ini.


"Paman Galih.." gumam keduanya kompak.


"Ha-halo pah"


"Geo dimana sayang? Kan kemarin janji mau sarapan bareng papah"


"E-eeh anu itu pah--"


"Geo udah sarapan ya?" tanya Galih dengan nada sedih. Kepanikan Geo semakin menjadi, ia tentu saja tak ingin jika sang papah sampai sedih karena dirinya tak menepati janji.


"Aduh tukang buburnya gimana sih ini?! Masa porsi nya dikit banget, jadi laper lagi kan" Hiro menyeletuk dengan suara yang cukup keras.


Nada suaranya di buat seolah-olah sedang kesal karena kelaparan. Geo mengacungkan jempol pada sahabatnya itu.


"Si Jeno kemana si? Nyari jajanan lama banget. Gak tau apa ini gua udah kelaperan" sahut Kanfa.


"Memangnya Jeno kemana?" tanya Galih. "Tadi si bilangnya mau nyari cemilan buat di jalan, tapi udah setengah jam gak balik-balik anaknya. Kayanya sih bingung mau beli apa, maklum pah Jeno kan baru pertama kali ke pasar pagi" jawab Geo panjang lebar.


Galih mengangguk kecil. "Yaudah kalau gitu papah tunggu Geo disini ya, nanti kita sarapan bareng"


"Loh? Papah belum sarapan?"


"Belom, papah kan nungguin Geo"


"Ehhhh?! Yaudah kalau gitu Geo mau cari Jeno dulu nanti abis itu Geo langsung ke mansion ya pah"


"Oke sayang. Hati-hati ya"


"Iya papah"


"Aissh Jeno bajingan!!!"


"Mampus aja ini kita!!"


"Mana kenyang banget lagi perut gua bangsat"


"Dah dah kita cari dulu si Jeno. Ayo!!!"


Ketiganya pum bangkit, kembali berjalan masuk ke area pasar. Tidak membutuhkan waktu lama untuk mereka bisa menemukan Jeno karena cowok itu kini tengah berjalan balik dengan sebuah paper bag besar di tangannya.


"WOI JEN!!" Teriak Hiro. Jeno yang merasa namanya di panggil mendongak, mendapati ketiga sahabatnya berdiri di tengah jalan.


"Lama banget lu ah. Ayo ke mansion, papah udah nungguin gua ya anjir" seru Geo begitu Jeno berada di hadapannya.


"Gua lupa. Ayo" balas Jeno santai.


"Bocah asu"


****


See you!!