
Keesokan harinya
Didepan sebuah kaca besar. Sejak 40 menit yang lalu, putri bungsu keluarga Courtland berdiri tegak didepan cermin, posisinya tidak bergeser sedikitpun menatap pantulan diirinya didalam sana.
Warna matanya terus berubah sejak 15 menit yang lalu. Niatnya yang ingin menghias rambutnya terhenti karena berubahan pada wajahnya.
Ara merasa bahwa wajahnya terlihat seperti seorang yang kejam. Warna matanya yang semula biru kini berubah menjadi light grey, terus seperti itu tanpa henti.
Cloe
Gadis kejam itu ingin mengambil alih tubuhnya, dan Ara tidak bisa membiarkan begitu saja.
"Berhenti Cloe!! Aku tidak mengijinkanmu mengambil alih tubuhku!! " ucap Ara. Terdengar geraman keras di dalam pikirannya. "Aku tidak butuh ijinmu Ara. Berhenti melawanku!! " Cloe menjerit. Suaranya terdengar begitu nyaring membuat Ara merasakan sakit dikepalanya.
Ara menggerakkan tangannya yang terasa berat. Meraih tombol disamping dinding. Itu adalah alarm yang dipasang tuan Revano, sebagai peringatan jika Cloe bertingkah seperti ini.
Tidak lama terdengar suara hentakan sepatu yang berlari bersautan masuk kedalam kamar. Kemudian pintu terbuka kencang akibat dobrakan Javin.
"Ara!! " langkah Javin terhenti. "Little princess, turunkan pisaunya" ucap Javin hati-hati.
Pasalnya saat ini Ara tengah mengacungkan pisau tajam kearah mereka. "Little princess... " panggil Neoura lembut.
"Sepertinya itu bukan Ara, bang! " ujar Rafael. "Tapi-- siapa dia? "
Terdengan suara sepatu lain yang berlari masuk. Galih dan Rion muncul dengan raut khawatir. "Who is she? " Tanya Rion. Rafael dan Neoura menggeleng tanda tidak tau.
Javin berjalan mendekat dengan hati-hati, "little princess, abang mohon... Turunkan pisau itu! " Ara tidak mengindahkan perkataan abangnya, gadis manis itu hanya terus menatap tajam mereka.
Galih memejamkan matanya, menggumamkan nama seseorang didalam hati. Perlahan matanya kembali terbuka, netranya berubah menjadi dark blue.
Ara mematung begitu netranya menangkap sepasang berwarna dark blue didepan pintu. Perlahan tangannya yang memegang pisau turun, melemparkan benda tajam tersebut ke lantai.
Javin menoleh mengikuti arah pandang sang adik. "Masev? " ucapnya. Rion, Rafael, dan Neoura spontan menoleh pada Galih yang sudah bertukar tempat dengan alter egonya.
"Kau tidak mendengar perintah ka Bella, Sayang?" Suara berat milik Masev terdengar. Tubuh Ara bergetar mendengar suara berat kekasih dari sosok yang mengambil alih tubuhnya. Suaranya yang berat terdengar penuh ancaman.
"Kau harus paham ketika seseorang berbicara dengan baik padamu, bukan begitu? "
Ara mundur, kakinya terus melangkah mundur hingga punggungnya menghantam tembok. Masev melangkah maju dengan pelan, aura gelapnya menguar.
"Cloe.... "panggilnya lembut.
"Biasanya kau menyambutku dengan gembira. Kenapa sekarang tubuhmu bergetar, hm? "
CRRRKKK
suara tulang yang diremukkan terdengar. Dengan gerakan cepat Masev mencekik leher Ara. Cloe memberontak, tangannya terjulur berusaha meraih wajah sang kekasih.
"Mas--vshsshshh lep--assshshsh" suaranya tercekat, Cloe merasakan pasokan udaranya mulai menipis.
"Masev cukup!! " teriak Rion.
"Ini peringatan terakhir dariku, jika kau masih berontak.... Kau tau apa yang bisa aku lakukan kan sayang? " Masev melepaskan cekikannya. Ara terduduk lemas, jantungnya berdebar cepat mencari pasokan oksigen.
Netra light grey itu melirik tajam kekasihnya. "Begitu caramu memperlakukan kekasihmu? " sinisnya. Masev hanya memandang dengan datar.
"Aku akan menjadi anak baik, tapi kau temani aku disini! " pintanya.
Masev menoleh kebelakang, memberi kode agar semua orang keluar dari sana. "Baiklah" ucap Masev setuju.
Neoura meraih lengan sang suami. "Ayo ka, biarkan mereka disini" Javin mengangguk berjalan keluar dari kamar adik bungsunya.
Setelah memastikan semua orang keluar, Cloe bangkit, menerjang cepat tubuh kekar kessukaannya. "Aku rindu. Lebih dari sebulan kau tidak mengunjungiku~"
"Kau tau situasinya seperti apa? Jangan mencari masalah dan jangan membuatku marah! Aku tidak suka terlibat dengan siapapun"
"Aku hanya ingin membantu" Cloe mengelak. "Jadi-- apa kita akan bersenang-senang? "
Masev mendengus malas, berbalik keluar menuju ranjang. Karena saat ini mereka tengah berada di ruang ganti.
.
.
"Maafkan Darren, dad! Darren tidak bisa mendidik Sin dengan baik. Maafkan Darren hiks hiks" Darren menangis bersimpuh dikaki daddynya. Memohon ampun karena merasa gagal menjadi seorang kaka.
Jason dan Galih tidak bisa menahan kesedihan mereka. Keduanya memalingkan wajah tidak tega melihat sahabat mereka hancur seperti ini.
Galih mengepalkan kedua tangannya erat. Ia ingin marah tapi tidak tau harus melampiaskannya pada siapa. Tidak tega melampiaskannya pada mereka yang bahkan tidak tau apapun.
"Darren" panggil sang daddy. "Bangunlah nak. Kau tidak perlu bersimpuh seperti ini "
"Apa yang dilakukan adikmu itu bukanlah kesalahanmu. Adikmu melakukannya atas pemikirannya sendiri, atas keinginannya, dan bukan paksaan dari orang lain" tuan Sevin menarik tubuh putranya memeluknya dengan erat.
"Darren sudah menjadi kaka yang baik, yang bertanggung jawab penuh atas adiknya. Kamu melakukannya dengan baik, nak. Jangan menyalahkan dirimu, apa yang dilakukan adikmu adalah pilihannya sendiri"
Tuan Sevin begitu tenang, hatinya tabah mendengar apa yang dilakukan putri tunggalnya. Pria paruh baya itu hanya percaya rencana tuhan lebih baik dari apapun.
Sepasang netra miliknya menatap Galih, kaka dari adik yang menjadi korban keegoisan putrinya. "Galih" yang dipanggil tersenyum, bejalan menghampiri, memeluk sosok yang dianggapnya sebagi orang tuanya sendiri.
"Tidak apa-apa paman. Galih sudah menerima, ayah dan ibu juga sudah berlapang dada. Tapi maaf, mungkin-- kami tidak akan bisa memandang Sin seperti dulu"
"Paman mengerti nak, terimakasih karena mau memaafkan Sin. Paman sudah ikhlas dengan apapun yang terjadi padanya nanti, tapi mungkin bibimu masih membutuhkan waktu"
"Galih mengerti. Bolehkah Galih bertemu bibi? " Tuan Sevin mengangguk. "Tentu. Masuklah"
Galih izin untuk masuk, diikuti Jason dibelakangnya. Begitu masuk, pandangannya langsung tertuju pada sosok yang kini tengah bersandar diatas ranjang.
"Bibi" panggil Galih. Sosok itu tersenyum, nyonya maiva, ibu kandung Darren dan Sin. "Galih, apa kabar? Sudah lama bibi tidak melihatmu" Tanya nyonya Maiva lembut.
"Maafkan Galih karena jarang mengunjungi bibi. Galih terlalu sibuk akhir-akhir ini, dan Ka Kevin yang begitu manja tidak mau bepergian sendiri" keluhnya kesal. Ibu Darren tertawa kecil, "suami mu adalah big baby"
"Kenapa tidak mengajak Carissa kesini, Jason? " menatap Jason yang duduk di ujung ranjang.
"Dia sedang bersama Ara, bibi. Carissa baru bisa menemuinya hari ini, karena sejak kembali ia sibuk mengurus pekerjaannya" Jelas Jason.
"Ara ya? Sudah lama bibi tidak melihatnya, sejak.... "
"Isabella tidak mengijinkan Ara keluar, bibi. Mereka menjaganya dengan ketat"
"Dia pasti sangat manis dan cantik sekarang"
"Dan cerewet" tambah Galih. Mereka bertiga tertawa, mengingat Ara dulu begitu cerewet.
"Bibi rindu mereka, apa mereka masih mau bertemu bibi? " nyonya Maiva kembali sedih mengingat perbuatan putrinya.
Galih menggenggam tangan ibu angkatnya itu. "Tidak ada alasan bagi mereka untuk menjauh dari bibi dan paman. Kalian adalah keluarga mereka, orang tua mereka, bagaimana bisa mereka menjauhi kalian? "
"Ara bahkan masih berharap Sin kembali pada mereka, bibi. Jadi jangan berpikiran seperti itu lagi, oke? " sambung Jason.
Lelaki itu berpindah kesebelah kiri nyonya Miva, kemudian memeluknya erat diikuti Galih yang berada disebelah kanan.
"Bibi harus tau kalau kami sangat menyayangi bibi. Bibi adalah ibu kami, apapun yang terjadi tidak akan pernah merubah hubungan kita" ucap Galih dengan tegas.
Nyonya Maiva menangis tersedu, memeluk kedua putranya dengan erat, seolah tidak ingin kehilangan mereka walau hanya sedetik.
Darren yang melihat dari balik pintu begitu bersyukur karena memiliki mereka dalam hidupnya.
....
"Kamu benar-benar mencintai seseorang ketika kamu tidak bisa membencinya meskipun ia telah menyakitimu."
....
T B C?
BYE!