Her And Bitter Memories

Her And Bitter Memories
BAB 53



Jason, Darren, dan Galih tiba dirumah sakit xx. Galih berlari menuju resepsionis, bertanya dimana ruang operasi berada.


"Permisi, sus. Dimana letak ruang operasi? " Tanya Galih pada salah satu perawat yang berjaga.


"Apa anda keluarga dari pasien wanita yang datang dengan tubuh berlumuran darah? " Tanya perawat tersebut.


"Berlumuran darah? " Galih kaget.


"Iya tuan. Pasien wanita itu tadi dibawa oleh seorang lelaki dengan tubuh penuh darah" jelas sang perawat.


Galih mengeluarkan ponselnya, menunjukan foto Aldre pada perawat tersebut. "Apa dia lelaki yang suster maksud? "


Suster tersebut mengangguk. "Iya tuan. Dia orangnya"


"Kalau begitu, anda bisa berbelok kekiri anda, sampai bagian ujung nanti anda bisa berbelok kearah kanan, disana ruang operasinya, tuan"


"Terimakasih suster"


"Sama-sama. Semoga pasien cepat sembuh"


"Terimakasih"


Galih berbalik, menghampiri Darren dan Jason. "Ayo ka, lewat sana" mereka melangkah menuju lorong yang dimaksud suster.


Tidak butuh waktu lama ketiganya tiba di depan ruang operasi. Pemandanga Aldre yang tengah menunduk dengan pakaian penuh darah menyambut kedatangan mereka.


Jason melangkah cepat menghampiri Aldre. Meraih bahu lelaki itu menghadap kearahnya. "Apa yang terjadi? Kenapa pakaianmu penuh dengan darah? Jawab Aldre!! "


Aldre hanya diam. Suara isakannya terdengar. "Jangan menangis sialan!! Jawab pertanyaanku!!! " seru Jason marah.


"Ka... " Galih menahan tangan Jason. Meraih tubuh Aldre, memeluk adik bungsunya itu erat.


"Tenanglah, kaka disini sayang. Tennglah little boy" ucap Galih. Tangannya mengelus bahu adiknya lembut, berusaha memberikan ketenangan padanya.


Jason berbalik, menatap pintu ruang operasi dengan cemas. Pikiran buruk menyerangnya melihat pakain Aldre yang penuh dengan darah. Ia yakin itu darah adiknya.


Lelaki itu kemudia menoleh pada Darren. "Aku tidak akan memaafkan adikmu seumur hidupku jika setelah ini masa depan adikku hancur, Darren! "


"Aku mengerti. Aku tidak akan menahanmu" Darren sudah pasrah pada adiknya. Dia sudah menyerah dengan gadis itu.


Dua jam kemudian


Mereka sudah menunggu selama dua jam tapi tidak satupun orang didalam sana menujukkan akan segera membuka pintu.


"Jason!! " panggilan seseorang membuat keempat lelaki yang tadinya hanya diam menoleh.


"Steven... " panggil Darren. Steven berlari menghampiri. "Bagaimana keadaan Carissa? "


Mereka menggeleng. "Dokter belum keluar, operasinya masih berjalan" jawab Darren.


Steven menepuk pundak Jason. "Carissa gadis yang kuat, dia tidak akan menyerah semudah itu, iya kan? "


"Tentu saja. Kau lupa dia murid siapa? Aku bahkan kalah darinya" sahut Galih kesal. Bibirnya mengerucut lucu.


Yang lainnya tertawa melihat si bungsu mereka merajuk. "Gelar soulmate mu tidak berguna, Galih. Sudah aku bilang buang saja, kau tidak mendengarku" ejek Darren.


Galih semakin merengut. "Ayolah ka~~ aku tidak akan kalah dari Carissa. Kali ini aku yang akan menang" ucapnya bangga.


"Masaaaaa? " sahut ketiganya kompak. Galih memandang mereka datar. Jika bagian mengejeknya saja mereka menjadi satu kesatuan.


Aldre tertawa keras. Badannya sampai membungkuk saking keras tertawanya. "Lihat Aldre saja setuju pada kami! " ucap Steven menunjuk Aldre.


PLETAKKK


"AASSHSHS! Kok kakak mukul Aldre? " Aldre menatap sewot sang pelaku penganiayaan terhadapnya itu.


"Ya, kamu kenapa gak belain kaka?! " balas Galih tak kalah sewot.


"Lah, Aldre cuma penonton. Salahin pemainnya dong!! "


"OHHH ASUUUU" Galih memiting kepala Aldre dengan lengan kirinya. Membuat yang lebih muda mejerit kesakitan.


"Aku cinta kericuhan ini!" Seru Steven. Ketiga lelaki tua itu bukannya memisahkan malah heboh macam supporter.


"Haisshh, bocah! Kita khawatir mereka akan adu tinju, buang-buang bensin aja! " Rion menatap lima orang didepannya malas.


Sudah cape-cape ngebut sampe sini, malah pemandangan absurd yang mereka dapatkan.


"Lahh, gua kira breakdance"


"Emang si Verrel ama Kenzo mah jangan disatuin dah" ujar Rion.


Daniel melirik kedua sahabatnya malas. "Nyesel gua juga ngajak kesininya"


Rion menolehkan kepalanya kanan kiri. Lorong ruang operasi ini begitu sepi, hanya ada ruang operasi saja disana.


Sebuah ide laknat terlintas di otak kicit Rion. Lelaki itu menyeringai. Verrel, Kenzo, dan Daniel menatap ngeri kearahnya.


"Ngapa itu dia? " Tanya Verrel ngeri.


"Kumat lagi kayanya" sahut Kenzo.


Rion menarik nafas dalam, lalu menghembuskannya. "MALING WOY MALING!!! PAK MALING PAK!!! " Rion berteriak kencang, membuat dua orang satpam dan perawat bergegas berlari kearahnya.


Ketiga orang disebelahnya berjengit kaget. Begitupun kelima orang yang tadi sedang bergulat.


"Mana malingnya pak? " Tanya salah satu satpam dengan panik.


"Noh pak noh malingnya noh! " tunjuknya pada kelima orang tersebut. Yang menatap cengo kearahnya.


"Emang mereka maling apaan, pak? " Tanya perawat bingung.


"Dosa, mas. Mereka maling dosa saya! Tangkep aja mas, kan sedih saya gak punya dosa" jawab Rion polos.


"Si bapak ngagetin aja. Kirain maling apaan"


"Lah gak jadi ditangkep, mas? "


"Tangkep sendiri aja mas. Kalau dosa saya gak mau ikut-ikutan, dosa saya banyak soalnya"


"Yahhh, kecewa" kedua satpam dan perawat tersebut pergi darisana. Dalam hati mereka bertanya, haruskah menghubungi rumah sakit jiwa?


Jason dan yang lainnya menatap kesal Rion yang hanya tersenyum tanpa dosa kearah mereka. Sedangkan Verrel, Daniel, dan Kenzo? Jangan ditanya. Ketiganya sudah berguling-gulingan dilantai saking tidak kuatnya.


"Manusia Dajjal emang" gumam Galih gemas.


"Gua gak ngerti kenapa modelan Rion bisa jadi mafia? " ujar Darren.


"Mafia apaan? Maling ****** bego, dia"


"Anjing. Jadi selama ini? Ck ck ck" Steven menutup mulutnya. Berekspresi seolah terkejut.


"****** bapak lu, gua maling" sahut Rion.


"Jadi lu pernah maling ****** bapak gua? " Tanya Jason dengan acting kaget.


"Anjing! "


Wkwkwkwk emosi dia.


Aldre menatap keempat orang yang tadi bergulat dengannya aneh. "Apaansi! Kalian pikir kalian waras? "


"HEH!! YANG SOPAN LO YA!! " Teriak mereka kompak.


Tawa Verrel dan dua sohibnya semakin tak terbendung. Mereka sudah persis pasien RSJ sekarang. Rion bergidik ngeri, merasa hanya dirinya yang paling waras disini.


"Emang udah paling bener gua doang yang waras"


Diam-diam Galih dan Steven menarik senyum tipis. Ada rasa lega dihati mereka melihat sang sahabat tertawa seperti ini.


"Berikan keajaiban pada adik kami, Tuhan" batin mereka bersamaan.


.....


"Karena sesungguhnya, yang lebih menyakitkan dari melepaskan sesuatu adalah berpegangan pada sesuatu yang menyakitimu secara perlahan." - Fiersa Besari


.....


T B C?


BYE!