Her And Bitter Memories

Her And Bitter Memories
170



Pukul 5 sore, Jeno baru saja tiba di mansion orang tuanya setelah mengantarkan Erick pulang ke mansion Skholvies.


"Biar aku tebak? Kau sudah mengatakannya pada Erick?"


Jeno mengangkat kepalanya, menatap datar sang adik yang berdiri di anak tangga sambil menatap tenang ke arahnya.


"Ini jauh lebih baik daripada kau pergi tanpa mengatakan apa pun padanya. Setidaknya dia tau apa yang kau lakukan dan kenapa kau meninggalkannya" ujar Jovan lagi.


"Kenapa kau menunda keberangkatan mu?" tanya Jeno dingin.


Jovan tersentak dengan nada dingin yang di gunakan sang kaka. Pertama kali dalam hidupnya mendengar Jeno berbicara sedingin ini padanya.


Jovan melangkah turun, berjalan mendekati sang kaka yang masih berdiri di ambang pintu. Pakaian lelaki itu sudah tidak serapih sebelumnya. Dasi yang entah kemna perginya dan jas yang tersampir di lengan kirinya.


"Berlatih"


"Berlatih?"


"Aku harus melatih kekuatan dan emosi ku. Kita akan berada jauh dari bunda dan ayah dalam waktu yang cukup lama. Memangnya kau bisa menangani ku sendirian?" ujar Jovan dengan ekpresi pongah andalannya.


Sebelah alis Jeno menukik tajam. "Memangnya sejak kapan kau berani pada ku?!"


"Sialan!"


**


Makan malam, mansion Skholvies.


"Kau baik-baik saja, brother?" suara berat dan dalam yang terdengar asing bagi Erick cukup membuat lelaki yang sedang melamun itu terkejut.


Bola matanya melebar begitu tau siapa yang baru saja bertanya padanya. "Geo!!!" pekiknya kencang.


"Hai" sapa Geo dengan senyum geli yang menghiasinya.


Geano Aldebaren. Putra sulung Galih dan Kevin. Saudara kembar Keano yang tinggal jauh dari keluarganya. Bocah itu memutuskan bersekolah di Cartesy sejak awal JHS. Itu lah kenapa Geo tidak pernah terlihat.


"Kapan kau kembali?" tanya Erick semangat. Tawa kecil Geo meluncur melihat ekspresi riang sepupunya itu. "Siang tadi. Tapi kau tidak ada saat aku tiba"


"Dia pulang tanpa mengatakan apa pun. Tau-tau sudah berdiri di depan pintu utama, membuat nenek hampir terkena serangan jantung karena terkejut" celetuk Keano ketus. Masih kesal dengan tingkah menyebalkan saudara kembarnya itu.


"Sssttt kau tidak di ajak bicara" balas Geo.


"Sialan kau!"


"Jadi? Ada apa dengan wajah sedih mu?" Geo kembali mengulang pertanyaannya.


Wajah Erick kembali murung. Ekspresi sedih kembali terpancar dalam sorot matanya.


"Jeno ya?" tebak Geo tepat sasaran. "Kau tau?" tanya Erick lirih.


"Itu kenapa aku pulang. Aku kembali untuk menjemputnya"


"Memangnya Jeno mau kemana?" tanya Aldre yang kebetulan ikut berkumpul di mansion orang tuanya.


"Jeno akan melanjutkan sekolahnya di Cartesy, Al" jawab Ara yang duduk di sebelah sang suami.


"Bersama Jovan?"


"Mm. Tapi Jovan akan menyusul tahun depan. Anak itu harus melatih kekuatannya agar stabil" jelas Ara.


"Jeno akan berangkat lusa, mamah" jawab Erick lirih. "Dan dia baru mengatakannya tadi"


"Dia bahkan berniat tidak akan mengatakannya pada mu, agar kau tidak sedih seperti ini" ungkap Geo yang sukses membuat Erick semakin galau.


"Tidak apa-apa, Jeno akan kembali bukan?" Ana mengelus lembut surai sang anak. Menenangkan Erick dari rasa sedihnya.


"Tapi dia akan kembali setelah menyelesaikan S2nya, mamah. Dan itu sangat lama" Pertahan Erick runtuh. Air mata yang sejak sore di tahannya kini luruh di hadapan sang ibu.


"Ouuhh, sayang" Ana menarik sang putra ke dalam dekapan hangatnya. Membiarkan Erick menumpahkan segala kesedihannya.


"Kau tidak ingin sekolah di sini, Son?" Kevin menatap lekat wajah sang putra yang jarang sekali di temuinya itu.


"Tidak. Aku bosan melihat wajah daddy" balas Geo tanpa beban.


"Bocah kurang ajar!!"


"Sudahlah. Kalian ini, bertengkar terus jika bertemu" tegur Galih. "Tidak bisakah keberangkatannya di tunda, sayang?"


"Tergantung Jeno. Sebenarnya waktunya masih panjang untuk mengurus semuanya, tapi Jeno ingin berangkat lebih cepat" jelas Geo.


"Ka Bella ingin Jeno berangkat bersama Jovan, tapi anak itu menolak, ka Galih" timpal Ara.


"Kenapa?" tanya Galih bingung.


"Jeno takut dia akan berubah pikiran. Bagaimana pun, Erick adalah segalanya bagi Jeno saat ini. Jeno adalah putra sulung keluarganya, dia yang akan menjadi pewaris ka Justin nanti. Jeven bukan anak kandung mereka, dan lagi dia masih memiliki ayah kandung yang juga membutuhkannya sebagai pewaris, sedangkan Jovan, dia jelas akan mengambil alih perusahaan ka Bella yang di pimpin ka Greyson saat ini.


Jika Jeno masih bertahan disini selama setahun, dia akan menghancurkan segala rencana yang di siapkannya sendiri hanya karena tidak sanggup meninggalkan Erick" Ara menjelaskan apa yang pernah Jeno sampaikan pada seluruh keluarganya.


Penjelasan Ara membuat semua orang menjadi bingung. Karena tidak akan ada solusi yang tepat untuk hal ini.


"Apa pun itu, Jeno sedang berjuang menjadi yang terbaik untuk dirinya dan semua orang, sayang. Dan bagaimana pun, kedua orang tuanya pasti memiliki banyak harapan padanya.


Dia pasti akan kembali, kamu bisa mengunjunginya sesekali jika merindukannya. Papah tidak akan keberatan untuk itu. Terlepas dari perasaan kalian saat ini, kamu dan Jeno adalah sahabat sejak kecil.


Jika Jeno memang milik mu, dia pasti akan kembali pada mu. Papah tidak mau kau sedih berlarut-larut, dan Jeno pun pasti begitu. Kamu percaya dia kan? Tapi sebelum itu, kamu juga harus percaya diri mu sendiri"


Daniel menatap lekat sang putra. Tatapan lembut dan sayangnya membuat hati Erick menjadi lebih tenang. Apa yang di sampaikan sang papah, membuatnya tersadar akan hal yang tidak pernah di pikirannya sebelumnya.


"Terimakasih, papah"


"Sama-sama, sayang"


"Berarti ka Geo hanya dua hari disini?" tanya Kiransa yang sejak tadi hanya menyimak pembicaraan para orang dewasa di sekitarnya.


Geo mengangguk. "Maaf ya, kaka akan pulang saat liburan nanti"


"Huh. Kiran mau main sama ka Geo, Kiran kan masih kangen" protes Kiran dengan bibir mengerucut dan kedua tangan yang di lipat di depan dada.


Geo mengusap surai lembut sang adik, memberikan kecupan kecil di pucuk kepalanya berulang kali.


*****


T b c?


Bye!