Her And Bitter Memories

Her And Bitter Memories
23. Tau dan penjelasan



"Mau pulang sekarang?" Jeno bertanya pada Erick. Kekasihnya itu terlihat begitu lelah, dirinya jadi tidak tega jika Erick harus menunggu sampai acara selesai.


"Memangnya gak apa-apa?" Tanya Erick pelan. Jeno tersenyum tipis. "Tentu saja tidak apa-apa. Ayo"


Jeno menarik lembut tangan Erick untuk berdiri, menggenggamnya dengan erat lalu membawanya menuju kedua orang tuanya.


"Yah, bun" panggil Jeno. Isabella dan Justin menoleh kompak. "Oh, Erick sudah mau pulang?" Tanya Justin.


Erick mengangguk singkat. "Iya paman. Erick pamit pulang duluan ya, maaf tidak bisa mengikuti acara sampai selesai" jawabnya tak enak.


"Tidak apa-apa. Terimakasih sudah datang ya Erick, langsung istirahat begitu kau sampai di rumah"


"Baik, paman"


"Hati-hati bawa Ericknya, sayang" ucap Isabella.


"Iya bunda" setelah berpamitan pada semua orang keduanya pun berjalan masuk ke dalam mobil.


"Mau langsung pulang atau jalan-jalan dulu?" Tanya Jeno setelah menyalakan mesin mobil miliknya.


"Mau jalan-jalan sebentar boleh?"


"Tentu, sayang"


Tidak ada tujuan kemana keduanya akan pergi, Erick hanya ingin menghabiskan waktunya bersama Jeno hari ini sambil berkeliling kota dan Jeno dengan sigap menuruti segala keinginan kekasihnya itu.


"Kenapa berhenti disini?" Kening mengkerut heran, menatap bingung kekasihnya yang tiba-tiba menghentikan mobil di pinggir jalan.


Jeno memejamkan matanya erat, menarik nafas dalam kemudian menghebuskannya dengan perlahan. "Ada sesuatu yang ingin aku katakan" ucapnya setelah berhasil mengendalikan dirinya.


"Apa itu penting?"


"Sangat penting"


"Kenapa kamu gugup?"


"Aku.... Akan melanjutkan sekolah ku di Cartesy" Jeno berucap dalam sekali tarikan nafas.


Erick terdiam sesaat, ada perasaan tidak nyaman setelah mendengar apa yang Jeno sampaikan padanya. Meski begitu dirinya tetap berusaha menampilkan senyum manis miliknya.


"Kapan tesnya?"


"Aku sudah lolos"


"It's good. I'm happy to hear that"


"Aku akan kembali setelah menyelesaikan S2 ku"


"Itu memang mimpi kamu kan?"


"Lusa. Aku akan berangkat lusa"


Seketika senyum Erick luntur. Apa yang baru saja dirinya dengar? Apa maksud kekasihnya ini? Apa Jeno sedang bercanda?


"...."


"I'm sorry love"


Mata Erick berkaca-kaca, tubuhnya yang semula menghadap Jeno kini berbalik menghadap depan. "Aku mau pulang"


"Rick..." Jeno menatap Erick sedih.


"Aku mau pulang, Jen!"


"Sayang"


"Kalau kamu gak mau anter aku biarin aku pulang sendiri!!"


Tanpa berucap apa pun lagi, Jeno mengendarai mobilnya menuju mansion keluarga Skholvies. Tidak ada pembicaraan di antara keduanya, Erick enggam membuka suaranya dan Jeno tidak ingin membuat kekasihnya semakin marah padanya.


Begitu tiba di kediaman keluarganya Erick langsung bergegas keluar dari mobil tanpa mengatakan apa pun. Jeno hanya bisa menatap kepergian kekasihnya dengan raut sedih.


"Maafin aku Rick"


**


"Loh Erick?" Jessy terkejut dengan kedatangan Erick yang tiba-tiba. Anak itu berjalan cepat menuju tangga tanpa mengatakan apa pun.


"Kenapa dengan bocah itu?" Serunya heran.


Di dapur


"Apa Erick sudah pulang Ana?" Riyani bertanya pada Ana yang tengah membantunya memasak makan malam.


"Ana belum tau ibu. Ana akan mengeceknya sebentar lagi" jika ibu mertuanya itu tidak bertanya, Ana rasa dirinya pasti tidak akan ingat dengan sang putra yang belum juga kembali.


"Erick sudah pulang bibi, dia baru saja sampai. Tapi sepertinya ada masalah, Erick berjalan cepat sekali naik ke atas. Anak itu keliatan sedih" celetuk Jessy yang baru saja tiba di dapur.


Ana dan Riyani menghentikan kegiatan mereka. "Sedih?" Tanya Riyani memastikan.


"Biar Ana lihat"


Ana berlari tergesa menuju kamar sang putra, dirinya bisa melihat pintu kamar Erick yang tertutup rapat.


Ana mengetuk pintu kamar Erick cukup kerasa. "Erick... Erick kamu di dalam sayang?"


Tidak butuh waktu lama pintu terbuka menampilkan Erick yang masih mengenakan pakaian yang sana seperti tadi siang.


"Ya mamah"


"Ouh. Mamah pikir kamu belum pulang"


"Baru saja sampai"


"Kalau begitu mandi dan istirahatlah. Nanti mamah panggil saat waktunya makan malam ya"


Erick mengangguk singkat kembali menutup pintu kamarnya. Ana tau ada yang salah pada putranya, tapi dirinya tidak berani bertanya banyak pada Erick.


Semua orang sudah berkumpul di ruang makan begitupun dengan Erick yang sudah duduk di kursi miliknya. Sejak datang dan duduk yang Erick lakukan hanya melamun, bocah itu bahkan tidak perduli dengan sekitarnya.


"Ada apa dengan Erick?" Tanya Rayyan pada Ana. Ana menggeleng tanda dirinya tidak tau apa pun.


Geo yang baru datang bersama Keano sontak menatap ke arah sepupu kesayangannya itu. Dirinya sepertinya tau apa penyebab Erick melamun seperti ini.


"Ajak bicara, Ge. Sejak tadi dia hanya duduk seperti itu" ucap Aldre. Geo mengangguj mengambil duduk di sebelah Erick yang tidak menyadari kehadirannya.


Sebelah tangannya menepuk pundak Erick membuat si empu terperanjat kaget. "Tidak baik melamun di depan makanan, bro"


Erick yang terkejut sontak menoleh pada si pelaku yang mengejutkannya. Matanya membola lebar begitu mendapati sosok yang beberapa minggu lalu membuatnya marah pada sang kakek.


"GEO!!" Teriaknya kencang.


Geo menatap geli sepupunya itu. "Woooo calm down, bro. Tidak erlu berteriak seperti itu"


Tanpa menghiraukan perkataan Geo, Erick menarik saudaranya itu ke dalam pelukan hangatnya. "Kangen banget gila. Kenapa gak bilang mau pulang"


"Surprise"


"Kapan lo sampe?"


"Tadi siang. Tapi lonya gak ada"


"Tadi siang? Kok gak ada yang ngasih tau?" protes Erick pada semua orang. Keano mendengus. "Jangankan lo, kita aja kaget. Tau-tau ni bocah udah berdiri di depan pintu, bikin nenek hampir jantungan karena kaget" ucapnya sinis.


Geo hanya terkekeh kecil sambil mengusap tengkuknya yang tak gatal. "Kan surprise"


"Hilih"


"Jadi.... Jeno ya?" tebak Geo yang membuat Erick kembali murung. "Lo tau udah tau ya?"


"Itu kenapa gua balik"


"Lo balik buat jemput dia?" Geo mengangguk.


"Lo bisa nyusul dia bareng Jovan nanti"


"Emangnya Jovan gak berangkat sekarang?"


"Dia bakal berangkat tahun depan, bareng Virzan sama Bryan"


"Emangnya Jeno mau kemana?" Aldre yang tidak mengerti pembicaraan para keponakannya menyela.


"Jeno mau lanjut kuliah di Cartesy, Al" bukan Geo ataupun Erick yang menjawab, tapi Ara.


"Cartesy?"


"Iya"


"Emang kapan berangkatnya?" tanya Jessy. "Lusa" jawab Greyson.


"WHAT?!"


"Pantes Erick murung begitu" gumam Aldre.


Ara menghela nafas, sepertinya dirinya harus menjelaskan hal ini pada mereka. "Mau Ara atau ka Greyson aja yang jelasin?" tanyanya pada sang kaka yang duduk santai di seberang sana.


"Ara aja" jawab Greyson santai. "Ish"


"Sebenarnya sejak awal Jeno justru sama sekali gak mau ngasih tau Erick tentang keberangkatannya. Tapi kita semua neken dia untuk ngomong sama kamu Erick, meski akhirnya dia bicara disaat-saat terakhir. Jovan bahkan sampai lelah berdebat dengan kakaknya itu"


"Kenapa?" tanya Erick lirih.


"Jeno gak mau berat ngelepas kamu disini. Dia gak mau rasa cintanya ke kamu ngehancurin rencana yang udah dia bangun sejauh ini.


Kamu segalanya buat dia Erick, dan dia gak bisa ngelepas tanggung jawabnya demi kamu"


Ara berhenti sejenak, menarik nafas sebelum kembali melanjutkan ucapannya. "Jeno itu mirip banget sama ayahnya, kalau udah cinta gak akan dia lepas sampai kapan pun. Tapi nyatanya, Jeno juga mewarisi ambisi bundanya.


Ka Bella adalah orang yang sangat ambisius soal pendidikan, baginya pendidikan itu nomor satu dalam hidupnya dan gak bisa di ganggu gugat dengan apapun"


Galih mengangangguk setuju, dirinya paham betul bagaimana tabiat soulmatenya itu kalau sudah menyangkut pendidikan.


"Tapi ka Justin.... Baginya ka Bella lah yang utama dalam hidupnya dan gak bisa dipatahkan oleh apapun.


Jeno memang mencintai kamu, tapi harapan kedua orang tuanya ada dalam genggamannya, Erick. Jeven bukan anak kandung mereka dan lagi dia punya ayah kandung yang juga berharap padanya. Dan Jovan gak bisa menggantikan posisi kakanya karena dia adalah anak bungsu.


Ka Bella dan ka Justin adalah orang yang adil, mereka akan membagi porsi sesuai hak yang memang pantas anak-anak mereka dapatkan"


"Tapi aunty dan paman tidak pernah menekan Jeno selama ini"


"Itu benar. Ka Bella dan Ka Justin memang tidak pernah menekan anak-anak mereka, tapi bukan berarti mereka tidak menyimpan harapan yang besar.


Erick, ka Justin adalah sosok yang lahir dari tekanan daddynya. tapi saat dewasa dan saat dia sudah mengerti sebuah tanggung jawab dia melepaskan dirinya dari tekanan yang diberikan ayahnya. Membayar masa mudanya yang terenggut dengan kebebasan yang memang sudah menjadi haknya. Daddynya pernah gagal di masa mudanya dan dia tidak ingin putranya sama gagalnya dengan dirinya. Tapi bukan berarti ka Justin akan mengikuti bagaimana cara orang tuanya mendidiknya. Tidak"


"Sedangkan ka Bella, dia adalah wanita yang bebas. Tidak suka di atur, di kekang apalagi di tekan. Grandpamu membiarkan nya bebas melakukan apa yang dia mau dengan kepercayaan yang dia tanamkan pada putrinya dan harus ka Bella jaga.


Tapi bukan berarti grandpamu tidak menyimpan harapan. Dia ingin sekali putrinya menjadi dokter, dan ka Bella mewujudkannya sebagai bayaran atas apa yang papahnya berikan padanya"


"Sekarang Erick mengerti kan? Ada beberapa hal yang tidak bisa orang tua sampaikan secara langsung pada anak-anak mereka, sayang. Tapi bukan berarti sebagai seorang anak kita tidak perduli dengan hal itu.


Dan orang tua, berhak memberikan segala yang anaknya butuh kan tanpa paksaan. Memperlakukan mereka se layaknya yang mereka inginkan bukan yang orang tua inginkan. Dan anak akan tau bagaimana bertanggung jawab dan berterima kasih"


Perkataan Ara membuat Galih spontan menatap sang ayah, begitu pun Rayyan yang balas menatap putra keduanya itu dengan pandangan sendu.


"Your bad father" ucap Galih tanpa suara.


"Love" tegur Kevin.


Pemandangan itu tak lepas dari penglihatan Geo. Ternyata anak itu juga spontan menatap sang kakek. 'Puncak komedi'


*****


See you!