Her And Bitter Memories

Her And Bitter Memories
70



Setibanya di dalam kamar, Jeno langsung masuk ke area dapur, sedangkan Hiro masuk ke dalam kamarnya untuk membersihkan diri.


Jeno meletakkan ransel miliknya di atas meja makan kemudian membuka jas sekolah yang masih dikenakannya dan meletakan nya di atas sandaran kursi.


Tidak langsung mengambil bahan, Jeno justru terdiam cukup lama di depan counter dapur. Cowok itu sepertinya sedang memutuskan apa yang akan dia buat untuk makan malam.


Beberapa menit setelahnya Jeno akhirnya membuka kulkas dan mengeluarkan beberapa bahan dari sana.


Kanfa keluar dari kamar dengan keadaan yang lebih segar, langsung menghampiri Jeno yang sudah mulai berkutat di dapur.


"Bikin apaan Jen?" Tanya Kanfa.


"Chicken katsu" jawab Jeno tanpa mengalihkan pandangannya.


Ruangan asrama milik mereka memang tidak terlalu besar, memiliki empat kamar yang saling bersebelahan, satu ruang tengah, satu kamar mandi luar, dan dapur yang menyatu menjadi satu.


"Butuh bantuan gak, Jen?" Kanfa menawarkan diri untuk membantu Jeno memasak. Kepala Jeno terangkat, memberikan tatapan heran ke arah sahabatnya itu. "Boleh. Bantuin cuci piring ya ntar" jawab Jeno.


"Gampang, tapi punya gua dua porsi ya?" ucap kanfa menaik turunkan alisnya.


Jeno berdecak keras kemudian melemparkan satu bawang putih utuh yang belum di cincangnya pada Kanfa yang terkikik geli.


"Magadir"


"Mengambil kesempatan dalam kesempitan itu sah, Jen"


"Emang lu nya aja yang maruk goblok" seru Jeno kesal.


"Kkkkk"


Jeno melanjutkan acara memasaknya, tak lagi menghiraukan Kanfa yang hanya berdiri di depan counter sambil terus memperhatikannya.


Sepuluh menit kemudian Geo dan Hiro keluar dari kamar. Sama seperti Kanfa, keduanya pun terlihat segar sehabis membersihkan diri.


"Udah selesai?" tanya Hiro tanpa beban. Cowok itu mengambil posisi berdiri di belakang Jeno.


Plak!


Kanfa melayangkan satu geplakan ringannya di belakang kepala Hiro yang membuat si empu mengaduh kesakitan.


"Itu ayam ke sentuh aja belom ya anjing" omel Kanfa.


"Ya namanya juga orang nanya" ucap Hiro membela diri.


"Itu mata kalau gak di pake mendingan lu jual buat beli pulsa"


"Galak bener kaya emak tiri"


Di tengah perdebatan kedua manusia tidak jelas itu, Geo yang sejak tadi tidak bersuara terlihat sibuk dengan ponselnya. Geo merasa bahwa ponselnya terlihat sangat tenang hari ini, seperti ada sesuatu yang kurang tapi Geo tidak tau apa itu.


Hiro yang menyadari sikap Geo, menepuk pelan bahu Jeno. "Soulmate lu ngapa tuh Jen?"


Jeno menghentikan kegiatannya yang tengah menyiapkan adonan tepung, menegakkan tubuhnya menatap ke arah Geo yang masih sibuk menatap ponselnya.


"Bocah ngelamun sambil ngeliatin hp ngapain anjir?" ucap Hiro lagi.


"Yo" panggil Jeno dengan suara yang sedikit keras. Geo yang tersadar dari lamunannya tersentak mendengar namanya di sebut.


"Hah? En-enggak apa-apa" jawab Geo sedikit gugup dengan cepat memasukkan ponselnya ke dalam saku celana.


Satu alis Jeno terangkat tidak percaya dengan yang di katakan soulmatenya itu. "Nyariin Virzan lo?" tanya Jeno asal.


Jeno mengedikan bahunya acuh."Gua cuma nanya. Gak usah panik wir" kembali melanjutkan acara memasaknya yang terganggu.


"Anjing" Geo mengumpat pelan namun masih bisa terdengar. Sedangkan Hiro dan Kanfa hanya terkikik geli.


--


Di depan pintu luar yang terhubung dengan taman belakang, di sana Justin berdiri masih dengan pakaian kerjanya kecuali jas yang sudah ia lepaskan sejak masih di kantor. Netra hazelnya menatap remaja lelaki seusia putranya yang tengah duduk termenung di gazebo.


Saat baru sampai tadi, sang istri mengatakan padanya bahwa kekasih putranya datang dan bilang akan menginap di rumahnya selama seminggu. Remaja manis itu juga mengatakan akan tidur di kamar putranya.


Setelah berdiri diam cukup lama, Justin akhirnya memutuskan untuk menghampiri Erick yang entah sudah berapa lama duduk melamun disana.


"Erick" panggil Justin dengansuara lembut namun tegasnya.


Erick yang tersadar dari acara melamun nya menoleh, mendapati sosok serupa sang kekasih namun lebih dewasa yang masih memakai pakaian kerjanya. Erick bisa menebak bahwa sosok dihadapannya baru saja sampai.


"Paman" sapa Erick. "Baru sampai ya?" tanyanya.


Justin tersenyum lalu mengangguk kecil sebagai jawaban. "Kenapa melamun disini?" Tanya Justin.


"Gak, paman. Cuma terbawa suasana aja"


"Kangen Jeno ya?"


"Sedikit"


Helaan nafas berat meluncur dari celah bibir Justin. Dirinya merasa tak enak melihat keadaan Erick yang seperti ini. Anak itu terlihat jauh lebih kurus dari sebelumnya, bahkan wajahnya pun sedikit pucat.


"Maafkan paman ya. Paman tidak pernah mengira bahwa Jeno akan menuruni sifat keras paman dan aunty mu"


"Jangan meminta maaf, paman. Erick tidak apa-apa meski Erick belum terbiasa dengan keadaan"


"Erick tau kan kalau Erick selalu diterima disini?" Erick mengangguk. "Jadi jangan sungkan untuk meminta atau mengatakan apapun pada kami. Disini, kami semua adalah keluargamu. Paman dan aunty adalah orang tuamu. Oke?"


"Oke"


Saat ini hanya itulah yang bisa Justin katakan pada Erick, dirinya bukan tidak memiliki kata-kata penenang, tapi yang Erick butuhkan bukanlah sebuah kata tapi pelukan hangat untuk sekedar meredakan kesedihannya.


"Ayo kita masuk, sebentar lagi waktunya makan malam" Justin menggandeng tangan Erick kembali masuk ke dalam rumah.


Begitu sampai di dalam keduanya langsung di sambut oleh Isabella dan Valerie.


"Aku sudah siapkan air hangat mu, Boo. Dan kau Erick, tunggulah di ruang bermain bersama Jovan. Anak itu sedang bermain ps bersama abang" ucap Isabella.


"Mandi ayah, ayah bau" seru Arie sambil menutup hidungnya.


"Ouh princess kecil berani sekali menggoda ayah ya, hm?" Justin mengusak kan wajahnya pada pipi gembil Valerie, membuat gadis kecil itu tertawa kegelian.


"Nah Valerie ikut ka Erick ya, ayah dan bunda memiliki bisnis penting. Ayo ayo ayo" ucap Erick mengajak Valerie pergi dari sana.


"Hei!" tegur Isabella dengan mata melotot. Erick tertawa kencang, kemudian berlari cepat bersama Valerie yang juga tertawa seolah mengerti maksud dari perkataan Erick.


"Ayo, Bee"


"G!"


----


See you!