Her And Bitter Memories

Her And Bitter Memories
51.



Sejatinya selama pertemanan nya dengan si kembar Scander, Geo tidak pernah melihat Jovan yang se clingy ini dengan Jeno. Geo benar-benat tidak tau berapa banyak hal yang dirinya lewati selama 2 tahun kemarin.


Pasalnya apa yang Jesslyn katakan saat sarapan tadi benar terbukti. Jovan menyabotase Jeno hanya untuk dirinya sendiri, dan sekarang bocah itu bahkan tidak segan memeluk erat tubuh kaka kembarnya.


"Wow" Geo terpana dengan pemandangan di hadapannya kini.


"Kaget ya?" tanya sebuah suara yang tiba-tiba muncul di sebelahnya.


Geo mengangguk kecil sebagai jawaban, cowok itu tak tau harus bereaksi bagaimana.


"Udah biasa. Jovan memang semanja itu kalo sama Jeno. Inget ya, cuma sama Jeno kalau sama yang lain dia galak. Terutama abang" pemilik suara yang masih belum Geo sadari kembali berbicara.


"Oh-- eh?" Geo menoleh kesamping dan terkejut melihat siapa yang berbicara padanya. "YAKKSSSS!!!"


BRUKK!!!


"A-AKKHH!"


Pekikan kesakitan meluncur dari bibir Jeven begitu tubuhnya berciuman dengan aspal jalan. Geo baru saja mendorong tubuh Jeven, niatnya hanya ingin membuat cowok itu menjauh tapi sepertinya ia mendorong terlalu keras.


"Kamu kenapa dorong abang?!" Seru Jeven dengan raut kesal bercampur kesakitan.


"Salah sendiri nongol tiba-tiba! Bikin orang kaget aja" balas Geo tak terima di marahi.


"Bantuin" Jeven mengulurkan tangan kanannya pada Geo, meminta yang lebih muda untuk membantunya bangun. Tapi alih-alih membantu Geo justru malah berlari kencang meninggalkan Jeven yang masih terduduk di aspal.


"GEO!!!!"


"BANGUN SENDIRI DASAR MANJA!!!" teriak Geo lantang. Jeven menyumpah serapahi sikap menyebalkan Geo yang tak bertanggung jawab padanya. Seenaknya saja bocah itu meninggalkannya setelah membuatnya kesakitan seperti ini.


"Ayo bangun" sebuah tangan terjulur di hadapan Jeven, yang langsung membuat remaja 17 tahun itu mendongakkan wajahnya.


"Hai" sapa Jeven dengan senyum manisnya pada seseorang yang menjulurkan tangan padanya. Keano membalas senyuman Jeven tak kalah manisnya.


"Kenapa bisa jatoh gini?" Tanya Keano.


"Kakak mu. Tenaganya kaya bulldozer" jawab Jeven dengan bibir merengut.


"Hahaha ada-ada aja. Sakit gak? Mau lanjut jalan atau istirahat dulu?"


"Agak nyeri dikit tapi gak apa-apa. Ayo kita lanjut" Jeven menggenggam tangan Keano untuk berjalan di sisinya. Tanpa Jeven sadari tindakan nya memunculkan semburat merah di pipi Keano.


Dari kejauhan sepasang Netra biru laut memandang interaksi keduanya dengan geraman kesal. "Dasar caper!" cibirnya dengan suara kecil.


Pukk!!


Brian menepuk bahu Virzan pelan. "Memang gitu kan konsepnya dalam hubungan persaudaraan? Kalau gak akur ya saling menjatuhkan"


Virzan mendesis. "Akan ku balas mereka suatu saat nanti" ucapnya penuh dendam.


Bagaimana pun bagi Virzan, dirinya tak akan pernah memaafkan orang-orang yang sudah menyakiti kekasih hatinya. Akan ia balas mereka semua suatu saat nanti.


"Kapan?" Tanya Brian penuh minat. "Nanti, setelah aku bisa melampaui daddy. Aku harus menjadi kuat terlebih dahulu untuk melawan mereka" balas Virzan.


"Kau tau aku selalu mendukung mu bukan? Jadi katakan padaku apapun yang kau butuhkan, aku akan membantumu"


**


"Mau sampai kapan kau menyabotase kekasih ku, Jovan?!" Erick melayangkan tatapan kesalnya pada Jovan. Kesabarannya sudah habis menunggu sang kekasih untuk datang padanya.


Jovan menatap Erick tak kalah tajam. Tak segan menunjukan ketidaksukaannya saat sahabatnya yang berstatus sebagai kekasih kakak kembarnya itu berusaha merebut sang kaka darinya.


"Berisik! Jeno tidak butuh kau!" Balasnya dengan nada tajam.


"JOVAN!!!" Erick memekik kesal, tangannya terjulur untuk meraih tubuh Jeno tapi dengan cepat Jovan menepisnya.


"Ku bunuh kau jika berani menyentuh kakak ku!" Desis Jovan.


"Dia kekasih ku dasar kau brengsek!"


"Memangnya aku perduli!"


"Jenoooooo!!!"


Jeno hanya bisa menghela nafas lelah, dua manusia ini tidak akan ada yang mau mengalah jika sudah begini.


"Ngalah dulu sama Jovan ya sayang. Besok baru aku sama kamu, oke?" Jovan memberikan tatapan memohon pada Erick, berharap sang kekasih mau mengalah untuk kali ini.


"Tidak mau!" Jawab Erick cepat.


Tanpa basa basi Jovan berpindah duduk menjadi di pangkuan Jeno demi menghalangi Erick yang ingin membawa kabur Jeno.


"Isshhh Jovannnnn!!!" Erick kembali berteriak melihat tingkah menyebalkan Jovan yang seenaknya duduk di pangkuan Jeno.


"Jov, jangan seperti ini ya" Jeno menarik tubuh adiknya untuk pindah, tapi Jovan justru malah memeluknya dengan erat.


"Gak mau!" Ujar Jovan menggelengkan kepalanya dengan keras.


Jeno memijat kepalanya yang mulai terasa sakit. Ia tidak bisa menghadapi keduanya sekaligus yang sedang dalam mode manja seperti ini. Jeno butuh seseorang yang bisa membantunya.


Geo merangkul leher Erick dengan lengannya, menarik sepupunya itu untuk sedikit menjauh. "Udah-udah biarin dulu Jovan sama kakaknya, lagian cuma sehari ko. Lo sama gua dulu oke"


Kedatangan Geo setidaknya membuat Jeno bisa sedikit bernafas lega. Karena ada yang bisa menenangkan Erick untuk sementara waktu.


"Aku mohon ya, sayang" ucap Jeno sambil menatap Erick sendu.


"Aku ngambek pokoknya" ujar Erick lalu berbalik dan berlalu pergi. "Tenang-tenang biar gua yang handle oke" Geo berbalik mengejar Erick yang sudah melangkah sedikit jauh.


Jeno kembali menatap sang adik. "Seneng?"


Cengiran lebar Jovan menghiasi bibirnya. "Kkkkkkk"


"Dasar jail"


*****


See you!