Her And Bitter Memories

Her And Bitter Memories
50.



Pagi harinya Jeno terbangun lebih dulu daripada Erick. Cowok itu bangkit dari posisi berbaringnya menjadi duduk dengan mulut yang masih menguap lebar.


"Jam berapa ini?" Gumam Jeno dengan suara pelan.


Pandangannya tertuju pada jam kecil yang berada di atas nakas. Pukul 5 pagi, masih subuh ternyata.


"Mandi dulu deh" Jeno menyibak selimut yang menutupi setengah tubuhnya, lalu memberikan kecupan singkat di kening Erick sebelum beranjak turun dari ranjang dan berjalan masuk ke dalam kamar mandi.


Tidak lama setelah Jeno masuk ke dalam kamar mandi Erick terbangun dari tidurnya. Matanya menyipit dengan kening yang mengkerut dalam saat menyadari bahwa tak Ada sosok sang kekasih di sebelahnya.


Erick beranjak turun dari ranjang berniat mencari keberadaan kekasihnya namun niatnya ia urungkan begitu mendengar suara air dari dalam kamar mandi.


Tok tok tok


Suara ketukan pintu mengalihkan perhatian Erick. "Siapa yang sudah bangun sepagi ini?"


Dengan malas Erick berjalan menuju pintu kamar. Begitu pintu terbuka, sosok Jovan lah yang menjadi pemandangan pertama yang dirinya lihat.


"Kenapa?" Tanya Erick masih dengan suara serak khas bangun tidurnya.


"Jeno udah bangun?" Tanya Jovan. Erick mengangguk kecil. "Lagi mandi"


Tanpa permisi Jovan melesak masuk ke dalam kamar yang langsung membuat Erick terkejut.


Jovan duduk di pinggir ranjang tepat di depan pintu kamar mandi menunggu sang kaka keluar dari sana.


"Masih pagi lo udah bertamu. Padahal gue mau nyusul Jeno ke kamar mandi" celetuk Erick asal.


Jovan mendelik sinis. "Dasar mesum"


"Kkkkk"


Ceklek


Pintu kamar mandi terbuka menampilkan tubuh Jeno yang terbalut bathrobe dengan rambut basahnya.


Jeno sedikit terkejut melihat Jovan yang sudah duduk manis di atas ranjangnya.


"Ini masih pagi, kenapa udah bangun?" tanya Jeno. Pertanyaan itu jelas ia layangkan untuk Jovan karena pandangannya yang lurus menatap ke arah sang adik.


Jovan hanya menggeleng kecil dengan wajah sendunya. Jeno mengerti dengan jelas apa maksud adik kembarnya itu. Setiap pagi hal pertama yang di lakukan Jovan saat terbangun adalah merecokinya, atau sekedar ikut tidur bersamanya jika Jeno belum terbangun saat Jovan datang. Itulah kenapa Jeno tak pernah mengunci pintu kamarnya.


Jeno melangkah mendekat, berdiri tepat di hadapan Jovan. Satu kecupan kecil Jeno berikan di puncak kepala Jovan membuat Erick yang melihatnya sedikit cemburu karena ia belum mendapatkan ciuman apapun dari Jeno.


Padahal Jeno sudah memberikannya saat Erick masih tertidur.


"Jangan sedih oke. Maaf aku pergi gak pamit sama kamu" tangan Jeno mengelus lembut rambut Jovan.


"Aku gak tau harus gimana kalau gak ada kamu" ucap Jovan lirih.


"Mulai sekarang harus bisa belajar kuat dan berdiri tanpa aku. Karena suatu hari jika aku gak bisa menemani kamu seperti ini, kamu harus tau apa yang harus kamu lakukan. Paham?"


Jovan mengangguk. "Paham. Tapi hari ini kamu sama aku ya? Erick biarin aja dia udah gede"


Mata Erick membola lebar mendengar perkataan Jovan. "Heh?! Jangan mendoktrin pacar gua biar jadi jomblo kaya lo ya!!"


"Berisik lo jamet! dia kakak gua"


"Bodo amat! Pokoknya Jeno cuma punya gua!"


Jeno hanya menertawai kelakuan keduanya, dua orang yang sangat di cintainya itu memang sangat sulit untuk akur.


"Awas ya gak gue restuin lo sama adek gue" ancam Erick. Jovan menggeleng kuat. "Bodo amat! Gua juga gak bakal restuin lo sama kaka gua" balasnya tak mau kalah.


"Iiihhh Jovan!! Ngeselin banget sih lo"


Jovan menjulurkan lidahnya mengejek Erick yang kalah telak darinya.


Meski sering bertengkar, Jovan sebenarnya sangat tidak rela jika ada yang mengambil Jeno darinya. Cowok itu bahkan pelit pada Jesslyn dan Valerie. Apalagi dengan Erick yang merupakan kekasih Jeno.


Karena itu jika Erick menginap dirumahnya dan tidur di kamar Jeno, Jovan tidak akan segan merecoki keduanya. Dan Jeno yang mengerti bagaimana sifat sang adik tidak bisa melakukan apapun, hanya bisa membalasnya dengan candaan.


***


"Muka lu ngapa rapih banget kaya baju belom di setrika?" Kanfa terheran-heran melihat wajah Erick yang sudah secerah ini di pagi hari.


"Jangan di ganggu, Fa. Entar lu yang kena bogem" tegur Geo.


Kanfa mengalihkan pandangannya ke arah Geo. "Ngapa itu bocah?" tanyanya sambil menunjuk Erick yang duduk dengan muka cerah dan tangan yang terlipat di depan dada.


Pertanyaan Kanfa membuat Geo tersadar. Kenapa sepupunya ini sudah sangat suram padahal masih pagi. Seingatnya mereka tidak bertengkar dengan sang kakek. Ada apa sebenarnya?


"Kayanya aku tau" sahut Jesslyn. Kanfa, Geo, Hiro, Keano, Virzan, Dan Brian menoleh kompak ke arah Jesslyn.


"Kenapa?" Tanya Brian. "Tuh" Jesslyn menunjuk ke arah dua saudara kembarnya yang sama sekali tidak menghiraukan keadaan sekitar.


"Lah?" Keenam pemuda itu kompak menganga begitu mereka melihat Jeno yang sedang menyuapi Jovan.


"Suasana hati Jovan memburuk sejak hari itu. Kalau lagi kaya gini Jovan pasti bakalan manja banget sama Jeno dan dia bakalan sabotase Jeno buat dirinya sendiri. Jadi kamu sabar dulu ya Rick" Jesslyn menjelaskan apa yang terjadi pada kedua saudaranya dan memberi sedikit pengertian pada Erick agar mau mengalah sebentar pada saudaranya.


Erick hanya biss menghela nafas sedikit kasar. Mau bagaimana lagi ia tidak mungkin egois. Tidak hanya dirinya yang membutuhkan Jeno, saat ini Jovan lebih membutuhkan sosok sang kaka.


"Yaudah lah mau gimana lagi. Cape juga berdebat sama Jovan" ucap Erick pasrah.


"Emang gak enak rasanya di tikung saudara kembar pacar sendiri, Rick. Semangat" seru Hiro.


"Anjing"


"WKWKWKWKWKWKWK"


Apa yang dikatakan Jesslyn saat sarapan tadi kini terbukti. Rencana Erick yang ingin berkeliling Berlin hanya berdua dengan Jeno pupus sudah karena tingkah menyebalkan Jovan. Bocah itu benar-benar menyabotase Jeno hanya untuk dirinya sendiri.


Tepat di depan nya, Jeno dan Jovan berjalan beriringan dengan satu tangan Jovan yang merangkul lengan kakak nya itu. Juga kepalanya yang dia sandarkan di bahu Jeno.


Erick bisa melihat bahwa Jeno hanya bisa menerima semua tingkah manja adiknya tanpa protes sedikit pun. Rasa-rasanya Erick ingin sekali menjambak rambut belakang Jovan sampai cowok itu terjungkal ke belakang.


"Kamu membuat kekasih ku cemburu, Jov" ucap Jeno yang bisa merasakan tatapan tajam yang di layangkan sang kekasih dari balik punggungnya.


Jovan mengibaskan tangannya di udara. "Memangnya aku perduli" balasnya acuh.


Jeno hanya bisa menggelengkan kepalanya, sifat manja Jovan memang luar biasa persis seperti bundanya.


****


See you!