Her And Bitter Memories

Her And Bitter Memories
BAB 49



"Buka kainnya! " perintah Sin. Thomas membelalak begitu tau siapa sosok itu. "WHAT THE ****!! "


"Carissa!! Are you fucking crazy? " Thomas menatap Sin tak percaya. Bagaimana bisa gadis itu menjadikan sahabatnya sendiri sebagai sandra.


"Wow wow wow. Kau sungguh mengagumkan Sin! Hahaha" Roxy menatap Sin kagum, bertepuk tangan dengan heboh. Ternyata gadis itu lebih pintar dari dugaannya.


"Carissa Alexander! Sepupu bajinganku pasti senang dengan kejutan yang kita berikan" desisny tajam.


"Sin.... " Carissa menatap Sin dengan kecewa sedangkan yang ditatap hanya membalasnya dengan sinis.


"Seharusnya kau tetap tutup mulut dan mendukungku, Carissa. Jadi aku tidak perlu report-repot melakukan ini padamu" ucap Sin dengan sarkas.


"Masih belum terlambat untuk menyesali semuanya, Sin. Aku mohon" ujar Carissa menatap sahabatnya memelas.


PLAK!!


Sin menampar Carissa dengan keras. Luka sobek tercipta di sudut bibir putri bungsu keluarga Alexander itu. "Lebih baik kau tutup mulutmu! "


"Masukkan dia ke penjara bawah tanah!!! " perintah Sin. Dua orang pengawal yang sejak tadi menahan tubuh Carissa kini menyeretnya menuju ruang bawah tanah.


Carissa tidak berontak, gadis cantik itu hanya pasrah. Karna ia tau berontak pun tidak akan ada gunanya. 'Aldre... Tolong aku'


"kau gila Sin! benar-benar gila! " desah Thomas. Metio menatap wajah adiknya yang masih pucat. "kau masih bisa berhenti, Thomas! "


"diamlah, ka! " seru Thomas kesal. "kau tidak mengerti bagaimana posisiku! " lanjutnya lagi.


"aku mengerti. tapi jika kau lupa, kau yang memulai permainan bodoh ini! jadi nikmati saja sanksi yang harus kau terima! "


"aku hanya mencoba membantumu mendapatkan keringanan dari mereka, tapi jika kau tetap pada keputusanmu maka baiklah. aku tidak akan bicara lagi! "


setelah mengucapkan hal itu, Metio pergi dari sana kembali menuju kamarnya. sedangkan Sin dan Roxy hanya menatap malas kepergian sepulu Thomas itu.


.


.


Aldre mengamuk mendengar kabar yang disampaikan anak buahnya. Lelaki itu terus memukuli mereka tanpa henti. Bodoh! Mereka baru memberikan informasi itu padanya sekarang!! Dasar brengsek!!


"Apa kalian tolol!!! "


"Maafkan kami bos"


Sekarang dia merasa kesal pada keluarganya. Apa mereka tidak bisa menjaga hanya satu orang gadis dengan baik?!


"Sin!!! Aku tidak akan memaafkanmu sialan!!! "


ARRRRGGHHHH


BRAKKK


Aldre menendang meja hingga membentur tembok. membuat benda terbelah tak karuan.


"Jangan seperti orang tolol, Aldre! " Aldre mengangkat kepalanya. Matanya menajam melihat kaka dari sahabatnya kini berdiri dihadapannya.


"Ka Bella!! " desisnya. "Apa yang kau lakukan disini? "


Isabella menatap sekeliling ruangan yang seperti habis terkena tornado. "Ruangan yang bagus" ejeknya.


"Jangan basa-basi ka Bella! Apa maumu?! " sentak Aldre cepat.


Isabella terkekeh ringan, "aku kesini ingin membantumu! " ucapnya riang.


"Membantuku? Hahahahaha. Kau bercanda? " jawab Aldre sinis.


"Aku bisa menangani mereka sendiri!! " Aldre menatap Isabella dengan tajam, yang dibalas dingin oleh sepasang netra abu gelap itu.


"Kau tidak akan bisa menghadapi mereka dengan kondisimu yang seperti ini, Aldre! "


"Apa kau pikir hanya mereka saja yang kau hadapi? "


Isabella melangkah mendekat, "orang seperti sepupu angkatmu itu, pasti punya sesuatu dibelakangnya yang siap melindunginya! Hanya berbekal nama adik ipat seorang black sweeper saja tidak cukup bagimu! "


"What do you want? "


"Akan aku beritau, jika kau setuju untuk mengikuti rencanaku! How? "


Aldre terdiam sejenak. Dia baru terpikirkan apa yang Isabella katakan. Benar, kekuatannya sekarang saja tidak akan cukup.


"Kau bisa berpikir--"


"Aku setuju" ucap Aldre cepat. Isabella menyeringai. "Good boy"


Isabella berjalan mengelilingi ruangan, netra abunya seolah mengawasi setiap sudut tempat itu. "Oh, ngomong-ngomong, I really sorry for you" menoleh kembali pada Aldre.


Aldre menaikkan sebelah alisnya, "for what? " tanyanya bingung.


"For you dad, and your adoptive family"


"I don't understand" tepat setelah Aldre berbicara, suara dobrakan pintu terdengar.


"what are you guys doing, huh?!" Aldre menatap kesel beberapa anak buahnya yang menerobos masuk.


"Ma-maaf tuan. Tapi kami mendapatkan kabar penting! " ucap salah satu dari mereka.


"Katakan! " ucap Aldre.


"Istana, istana Romanov hancur, tuan. Tidak ada yang tersisa, bahkan jasad ayah anda tidak bisa ditemukan" jelas pengawal tersebut sambil menunduk takut.


Mata Aldre membola marah, kepalanya menoleh cepat pada wanita disampingnya. "Kau!!! " lelaki itu berteriak marah didepan wajah Isabella. "What are you doing?!!! "


"Aku melakukan apa yang seharusnya aku lakukan sejak dulu! " ucap Isabella datar.


"Kau brengsek, Isabella!! Damn!! Aku masih membutuhkan mereka sialan!! " Aldre mengacungkan sebuah pistol tepat di kening sang godmother. Yang hanya disambut wajah datar Isabella.


"you don't need them anymore!! You just need me, now! "


"Semuanya sudah menjadi milikmu, tidak ada lagi yang tersisa. Kecuali satu, you know who! "


Tangan Aldre yang menodongkan pistol perlahan turun kembali. "Tidak heran kenapa kau bisa menjadi penguasa. Dasar wanita sialan!! " umpatnya.


"Sekarang beritahu aku rencanamu"


"Sure"


.....


"Tidak peduli apa yang kamu tanggung, tapi bagaimana kamu menanggungnya. - Seneca


....


T B C?


BYE!