Her And Bitter Memories

Her And Bitter Memories
172



"Mata kamu kenapa?" Jeno menatap khawatir ke arah Erick. Wajah lelaki itu tampak lesu dengan masa yang membengkak. Erick juga tidak bersuara sedikit pun sejak dirinya tiba di mansion Scander.


Hanya gelengan singkat yang mampu Erick berikan sebagai jawaban untuk Jeno. Dirinya terlalu lemas dan malas untuk berbicara.


"Pertanyaan bodoh!" Celetuk Jovan sinis yang tidak di hiraukan Jeno.


Jeno mengubah posisi duduknya menjadi lebih dekat dengan Erick. "Kamu marah sama aku?" Tangannya terjulur, mengelus lembut surai ke emasan milik sang pujaan hati.


Lagi, hanya gelengan yang Erick berikan sebagai jawaban.


Helaan nafas berat meluncur dari bibir Jeno, tangan kanannya yang terbebas menggenggam erat sebelah tangan Erick, dan kembali mengubah posisi duduknya menjadi menghadap lelaki itu.


"Ke kamar aku yuk" ajak Jeno.


Erick yang sejak tadi hanya menunduk diam, sontak mendongakkan kepalanya dengan masa melebar. "Mau ngapain?" Sentaknya.


Jeno terkekeh kecil dengan respon lucu sang pujaan hati. "Gak ngapai-ngapain, sayang" ucapnya lembut, kemudian menarik tangan Erick untuk berdiri.


"Mau kemana?" Tanya Virzan yang melihat keduanya hendak beranjak pergi.


"Ke kamar. Kalian lanjutin aja" jawab Jeno cepat.


"Lah ???"


**


Setibanya di kamar.


Setelah menarik Erick untuk masuk Jeno dengan cepat mengunci pintu kamarnya. Erick yang melihat itu sedikit panik, takut Jeno akan melakukan hal buruk padanya.


"Kenapa di kunci?" Tanya Erick. Jeno menggeleng. "Gak apa-apa"


Netra hazel Jeno menatap lekat wajah cantik sekaligus tampan yang selama ini, selalu berhasil memikat hatinya. Menyimpan baik-baik dalam memori ingatannya. Wajah cantik ini yang nantinya akan selalu dirinya rindukan, dan akan selalu menjadi alasannya untuk kembali.


"Jen..." Panggil Erick lirih.


Jeno mendekatkan wajahnya, dalam hitungan detik bibir keduanya saling menyatu. Erick yang merasakan ada benda kenyal yang menempel pada bibirnya sontak terkejut, namun sama sekali tidak menolak apa yang Jeno lakukan padanya.


Perlahan, Jeno mulai menggerakkan bibirnya. ******* habis bibir Erick atas bawah secara bergantian. Mata keduanya terpejam, menikmati kegiatan yang mereka lakukan.


Satu menit kemudian, Jeno melepaskan pagutannya. Napas keduanya terengah. Selain matanya, kini bibir Erick pun ikut bengkak.


"Jen..."


"Biarkan aku lakukan apa pun yang aku inginkan, sebelum aku pergi jauh nanti" ucap Jeno.


Brakkk!


Jeno mendorong tubuh Erick hingga lelaki itu terjatuh tepat di atas ranjang besar miliknya. Dengan cepat, Jeno merangkak di atas tubuh Erick. Mengukung lelaki itu di bawahnya.


Bibir mereka kembali menyatu, Jeno kembali ******* bibir sang pujaan hati dengan lembut. Meluapkan segala perasaan yang menumpuk dalam hatinya.


Lama mereka melakukannya. 5 menit, 10 menit, 15 menit, 20 menit. Jeno seolah enggan melepaskan bibir Erick yang kini sudah membengkak.


"Udah Jen!!!" Ucap Erick sambil mendorong tubuh Jeno yang lebih besar darinya.


"Aku pengen jadiin kamu milik aku seutuhnya, tapi kita belum pantas melakukannya"


"Gila!"


"Kkkkkk. Hanya bercanda, sayang"


Jeno mengubah posisinya, berpindah ke samping Erick. Memeluk lelaki itu dari samping dengan erat. Erick membenamkan wajahnya di dada Jeno, memeluknya tak kalah erat.


"Jangan nakal saat aku pergi nanti ya" ucap Jeno lembut.


"Kamu yang seharusnya jangan nakal" balas Erick ketus.


"Aku gak akan nakal, sayang. Gak mungkin bisa kalau yang terisi di hati aku cuma kamu"


"Gombal"


"Aku gak gombal. Aku ngomong serius loh ini"


"Iya deh percaya. Si paling serius"


"Lucu banget sih~" dengan gemas Jeno menarik hidung mancung Erick, membuat Erick melayangkan tatapan protesnya.


"Sakitttt"


Cupp...


"Maaf ya"


**


"Ssstttt jangan kenceng-kenceng, nanti kedengeran"


"Kok sepi ya?"


"Mereka ngapain sih?"


Jovan memutar matanya malas melihat kelakuan para sahabatnya. Saat ini, mereka tengah berdiri di depan pintu kamar Jeno. Lebih tepatnya ingin menguping apa yang sedang di lakukan sang pemilik kamar.


"Kalian nguping tuh ngapain? Kamar Jeno kedap suara" seru Jovan jengah.


Sontak ke empat remaja yang tengah bersandar pada pintu menoleh cepat. "Ck, ngomong donggggg!!!"


BRUKKK!!!


"AISSHHH!!!"


"SAKITTTTT"


"****!!"


"ET DAHHH KEJEPIT WOYYY!!"


"KALIAN NGAPAIN?!"


"E-EH... HEHEHEEHE"


"Kalian ngapain di sini?" Tanya Erick yang terheran melihat para sahabatnya tersungkut di lantai.


Keano, Geo, Virzan, dan Brian bangkit dari posisi tersungkur mereka. Menatap Erick dan Jeno panik. Aksi menguping mereka ketahuan sang pemilik kamar. Di tambah Jeno menatap ke empatnya tajam.


"E-eh... KABOORRRR!!!"


"WOY!!"


"Kamu ngapain masih disini?!" Seru Jeno pada sang adik kesal.


"Mau ***** Lo ya?" Goda Jovan.


"Mata mu"


"Bilangin bunda ahhh" ledek Jovan lagi sambil berlalu pergi.


"Jovan!!!"


"Bocah asu"


"Hihihihihi"


**


"Kenapa dengan wajah kusutmu itu?" Tanya Aldre pada Jeno yang datang dengan wajah tertekuk.


Erick yang berada di sebelahnya hanya terkikik geli, membuat Aldre semakin terheran. "Sebenarnya kaliam berdua ini kenapa?" Tanyanya lagi.


"Paman kepo. Dan paman juga berisik" jawab Jeno ketus.


"Bocah sialan" umpat Aldre.


"Biarkan dia, paman. Moodnya sedang jeleka, jadi jangan di ganggu" sahut Erick.


"Aahhh terserahlah. Dasar anak muda"


"Memangnya paman bukan"


Jeno tidak menghiraukan percakaan Erick dan Aldre. Netra hazelnya fokus memandang tajam ke empat sahabatnya yang mencoba tidak menghiraukan tatapannya.


"Mati kalian" desisnya tajam tanpa suara yang sukses membuat ke empatnya semakin panik ketakutan.


Jovan menyeringai lebar, senang melihat raut marah saudara kembarnya. Jarang-jarang Jeno akan bereaksi seperti ini jika di ganggu. Biasanya bocah itu hanya akan diam jika di ganggu atau jahili.


"Dasar posesif"


****


T B C?


BYE!