
Dengan lesu Jeno melangkah masuk ke dalam rumah. Bocah itu berjalan dengan kepala menunduk, jas yang tersampir di lengan dan baju yang sudah tidak serapih sebelumnya.
"Ada apa dengan wajah kusut mu itu?" Suara Jovan menghentikan langkah kaki Jeno.
Kepala Jeno mendongak menatap sang adik yang berdiri di tengah anak tangga menatap lurus ke arahnya. Alis Jeno menyatu, pandangannya berubah dingin seketika membuat Jovan tersentak melihat sorot dingin yang terpancar dari kedua netra hazel Jeno.
"Kenapa kau menunda keberangkatanmu?" Tanya Jeno dengan nada dingin.
Jovan meneguk ludah nya kasar namun berhasil mengendalikan dirinya. "Aku harus berlatih" jawabnya sambil berjalan menuruni anak tangga.
"Berlatih?"
"Melatih kekuatan dan emosiku. Kita akan berada jauh dari ayah dan bunda, memangnya kau bisa menangani ku?" Seru Jovan dengan raut pongah.
Sebelas alis Jeno menukik. "Memangnya sejak kapan kau berani pada ku?"
"Sialan"
"Minggir!"
***
"Udah ya, jangan nangis lagi sayang. Jeno akan sedih kalau Erick kaya gini" Daniel mengusap lembut wajah putra sulungnya yang berderai air mata.
"Tapi papah..."
"Erick, Jeno pergi untuk sekolah untuk mengejar mimpinya. Kalau Erick sedih kaya gini berarti Erick gak mendukung Jeno. Erick gak menjadi support system untuk Jeno.
Lagi pula Erick bisa nyusul Jeno bareng Jovan nanti kan?"
"Kalau Erick gak lolos?"
"Ya gak jadi nyusul" celetuk Keano.
"KEANO!!!"
"Berisik lu ah" Geo menarik kepala Keano untuk masuk ke dalam keteknya.
"Geo akahsjsiwneisiwbw"
"Ngomong apa syi?!"
"Jadi orang itu gak boleh pesimis harus optimis. Mau emangnya mati sebelum berperang?"
Erick berhambur masuk ke dalam pelukan Daniel. Setidaknya perkataan sang papah mampu mengurangi sedikit rasa sedihnya.
"Memangnya keberangkatannya tidak bisa di undur, Ge?" tanya Riyani. Wanita tua itu tak tega melihat cucunya yang bersedih seperti itu.
"Harusnya sih bisa Nek. Masih ada waktu satu bulan sebelum hari pertama masuk sekolah. Tapi Jeno gak bisa di bujuk"
"Bisa kalau kamu yang bujuk, son" ucap Kevin.
"Aku tidak"
"Bundamu hanya luluh pada papah mu, begitupun sebaliknya. Sama seperti kau dan Jeno"
Perkataan Kevin membuat semua orang kompak menatap kearah Geo. Membuat remaja 14 tahun itu menjadu gugup seketika.
"Kau tidak kasihan pada sepupumu?" timpal Aldre.
"Cobalah, son" seru Galih.
'Daddy sialan!' Geo mengumpat keras dalam hati sambil menatap kesal sang daddy.
Kevin tersenyum penuh arti, dirinya hanya ingin membuat sang istri memiliki waktu lebih banyak bersama putra sulungnya yang sulit sekali di temuinya.
Geo mengeluarkan ponselnya dari saku celana miliknya, mencari nomor Jeno dan menghubungi sahabatnya itu.
Tidak butuh waktu lama Jeno menjawab panggilan Geo dengan cepat. "Ya?"
"Kau di rumah?" tanya Geo basa-basi.
"Hm"
"Oh" "eu.."
"Bicara yang benar Ge!" tembak Jeno to the point.
"Sabar sialan!" Geo sangat mengutuk sifat sialan Jeno yang selalu to the point.
"Jeno its time for dinner" teriakan di sebrang sana membuat Geo hampir saja mengumpat kasar. Kenapa bundanya itu harus berteriak di waktu yang tidak tepat.
Jeno terkekeh sebelum menjawab panggilan sang bunda. "Mau menunggu sampai aku selesai dinner?"
"Menurutmu? Kecuali jika kau ingin bicara sekarang"
"Mm.."
"Time it's over"
"Bisakah kau menunda keberangkatan mu?" Seru Geo cepat sebelum Jeno benar-benar mematikan sambungannya.
"Beri aku alasan"
"Erick "
"Tidak di terima"
"Aku punya dua saudara yang belum aku kunjungi jika kau lupa sialan!"
"Who?"
"Lavion dn Lavien Courtland. Dasar bajinga!"
"Kkkk. Alana yang bagus"
"Jadi?"
"Akan aku pertimbangkan"
"Dasar brengsek!" Telpon terputus karena Jeno yang memutuskannya sepihak.
"Anak dan bunda sama saja" kekeh Galih.
"Lavien heh? Memangnya sejak kapan kau akur dengannya?" Goda Aldre.
"Berisik!"
Meski mendapat tatapan tajam dari sang putra, Kevin sama sekali tidak perduli. Yang terpenting rencananya membuat sang putra bertahan sedikit lebih lama berjalan dengan lancar.
'Yang terpenting senyum papah mu saat ini. Maafkan daddy mu ini nak' ujarnya dalam hati. Dirinya harus rela mengorbankan putra sulungnya kali ini agar demi suami tercintanya memiliki waktu lebih banyak dengan putranya yang sulit sekali di temui itu.
'Ingatkan aku untuk menghancurkan mobil kesayangan daddy nanti' Geo menggerutu dalam hati.
**
"Ada apa dengan Geo?" Tanya Jesslyn yang penasaran. "Dia bilang ingin mengunjungi kedua saudaranya yang lain"
Jesslyn memiringkan sebelah kepalanya, berpikir keras siapa dua saudara Geo yang lain. "Saudaranya yang lain?"
"Ka Vion dan ka Vien" jawab Jeno santai.
Jovan mendengus sinis. "Apaan. Kalau ketemu ka Vien juga kaya Tom & Jerry" ujarnya ketus.
Isabella dan Justin terkekeh kecil. "Kasian sekali Geo. Dia pasti jadi korban sang daddy" ucap Isabella.
"Mau bagaimana lagi, bee. Jika tidak seperti ini, bocah itu pasti enggan berlama-lama tinggal disana" timpal Justin.
"Geo tidak akan seperti itu jika tempatnya berteduh terasa nyaman dan hangat, ayah" mengingat bagaimana hubungan sahabatnya dengan kakeknya itu membuat Jeno kembali sedih.
"Ya ayah tau. Itu kenapa papah mu dulu lebih sering tinggal di mansion Courtland"
"Ingin rasanya bunda mengajak Geo untuk tinggal disini, tapi kasian papah mu"
Jesslyn menghembuskan nafas berat. "Itu lebih baik bunda. Kita juga bisa mengajak papah tinggal disini"
"Tapi bunda tau gak? Orang tua daddy sering sekali mengirimi Geo barang dan makanan selama di sana" Jeno memberitaukan hal yang cukup mengejutkan bagi semua orang.
"Sungguh?" Isabella menatap putranya itu tak percaya.
"Geo selalu cerita setiap kali kakek dan neneknya yang lain mengirimkan sesuatu padanya. Tapi Geo masih belum berani menemui mereka tanpa izin daddy" Jeno kembali menjelaskan hal yang di ketahuinya.
"Tentu saja. Geo sangat menghormati daddynya. Biar nanti bunda yang bicara pada daddy"
"Kau sudah berbaikan dengan mereka, bee?" Seingat Justin, istrinya memiliki sedikit masalah dengan orang tua Kevin.
Isabella mengangguk. "Sudah sejak lama. bagaimanapun mereka sudah benar-benar berubah, jadi tidak ada salahnya memberikan kesempatan. Tapi sayangnya kaka terlalu membenci kedua orang tuanya"
"Aku mengerti"
****
See you!