Her And Bitter Memories

Her And Bitter Memories
BAB 27. CLOE? (REVISI)



"Kau tau apa yang kau lakukan Vion? Bagaimana paman harus bicara denganmu? Hah? " Vion menunduk, begitupun dengan adik kembarnya, Vien. Tak berani menatap langsung sang paman.


BUGH


Emosi yang sudah dia tahan sejak awal tak lagi terbendung, kini dia melampiaskan pada keponakannya yang luar biasa itu. "APA MAUMU SEBENARNYA?! BERITAU PAMAN!! APA YANG SALAH KETIKA PAMAN MENDIDIKMU VION?! KAU TERLALU MANJA SIALAN!! " Kevin murka, amarahnya hampir berada diambang batas. Melihat ayah mertuanya dalam kondisi buruk, membuatnya tak lagi bisa menahan diri.


Bugg bugg bugg


"Kevin!! " Cassandine masuk dengan tergesa. Berteriak memanggil nama sang adik yang tengah memukuli keponakannya. "Kevin stop!! "


"DIAM!!! " Cassandine tersentak, begitu kaget dengan bentakan adiknya. Wanita itu terdiam, tak berani bergerak.


"LIHAT? LIHAT DIA! KAU BEGITU MEMANJAKANNYA, HINGGA DIA TIDAK TAU DIRI SEPERTI INI!! LIHAT KA!! SIALAN!! " amuk Kevin.


BUGG BUGG BUGG


Lelaki itu kembali memukuli keponakannya yang sudah tekapar mengenaskan di lantai. Cassandine tak bisa membendung air matanya, tapi dia juga tidak bisa menghentikan adiknya. Sedangkan Vien, hanya diam tidak bergeming sedikitpun.


.....


"Jovan" panggil Isabella pada putra bungsu kembarnya. Jovan menoleh, menatap sang bunda. "Ya, bunda "


"Pergilah ke ruang khusus. Hentikan daddymu yang mengamuk, katakan padanya bahwa kau yang akan mengawasi Vion mulai sekarang. "


"Baik bunda " Jovan melangkah keluar, diikuti kedua kaka kembarnya.


Justin menatap kesal istrinya. "Apa yang kau lalukan? " ujarnya kesal. Lelaki itu tidak ingin anak - anaknya terjun dalam dunia gelap.


"Tenanglah Justin! Vion tidak akan jera begitu saja. Anak itu tidak akan berhenti sebelum mendapatkan apa yang dia inginkan. " ucap Harves.


"Lalu apa hubungannya dengan putraku? "


"Selain kau dan Isabella, Vion tidak akan takut pada siapapun, termasuk Devan! Tapi putramu, Vion jelas tau bahwa dia tidak akan bisa menghadapi putramu. Kita semua tau, hanya Jovan yang menjadi replika kau dan Isabella! Kau mengerti sekarang? " jelas Leo. Justin mengalah, menatap Isabella dengan pandangan yang sulit di artikan.


....


The triples J masuk kedalam ruang khusus. Sebuah ruang eksekusi, yang bahkan tidak mirip sama sekali dengan tempat eksekusi. Pemandangan dihadapan mereka, cukup membuat Jeno dan Jesslyn merinding, tapi tidak dengan Jovan. Remaja 13 tahun itu hanya menampilkan ekspresi datar andalannya.


"Sudah cukup dad!" ucap Jovan. Kevin berhenti, menolehkan kepalanya kebelakang. "Ngapain kalian kesini? "


"Mulai sekarang aku yang akan mengawasi ka Vion dan ka Vien. Ini perintah bunda! " ucap Jovan datar. Vien ternganga. Apa katanya tadi? Wajahnya muram, batinnya terus mengumpati saudara kembarnya yang tak sadarkan diri.


Kevin terlihat lebih tenang dari sebelumnya, kedua tangannua tak lagi terkepal seerat tadi, meski masih ada emosi yang tersisa, lelaki itu jauh lebih baik.


"Papah Galih shock, lebih baik daddy temani. Kiransa dan Keano tak berhenti menangis karena papah Galih seperti tak bernyawa" Ucap Jesslyn, membuat Kevin khawatir seketika. "Baiklah, jaga dia! " perintahnya.


"Keluarlah bibi, biar kami yang mengurusnya! " Cassandine menjadi lesu mendengar penuturan Jeno. Tidak bisa membantah karena ada Isabella junior disana, mau tidak mau dia harus keluar.


.....


Kevin memandang sendu sang istri yang menatap kedepan dengan pandangan kosong. Dirinya tak berani mendekat, takut membuat kesalahan, meskipun sudah salah sebenarnya.


Setelah terdiam cukup Lama,Galih akhirnya membuka suara. "Kau bisa jujur padaku sejak awal, hubby! Tidak perlu seperti ini. " ucapnya lirih.


"Maafkan aku love. Aku juga terkejut, dan tidak tau bagaimana harus memberitahumu dan semuanya. Maafkan aku, love. I really sorry "


"Pergilah, aku tidak ingin bicara denganmu atau yang lainnya! "


Dengan langkah lemas dan terpaksa, Kevin melangkah keluar dari kamar, menutup pintu. Badannya luruh kebawah, perlahan terisak kencang. Tidak tega melihat sosok yang dicintainya seperti ini. Hatinya begitu hancur, dan remuk.


"Daddy, apa papah akan baik - baik saja? " tanyanya cemas. Kevin tersenyum sedih, "papah akan baik - baik saja sayang, don't worried okay " si kecil cantik, Kiransa mengangguk, memeluk tubuh daddynya.


.....


Andre mengamuk didalam kamarnya, membanting semua barang yang ada disekitarnya. Meninju tembok, melempar botol, semuanya tanpa tersisa. Penampilannya berantakan, rambut yang tk lagi tersusun rapih, tangan yang penuh luka, dan darah yang berceceran.


"ARRRGGGGHHHH!!! "


"SIAL SIAL SIAL!! "


BUG BUG BUG


"AL!!! "


"STOP AL!! " Ara berlari kencang kearah Aldre, mencoba menenangkan sahabatnya itu. "ALDRE!!! "


Aldre menoleh, menatap tajam Ara. Sorot matanya penuh kebencian dan amarah. Kedua tangannya semakin mengepal kuat, seolah bersiap untuk menerjang gadis itu kapan saja.


"Apa yang kamu lakukan, Al?! " Tanya Ara khawatir.


"HA HA HAHAHAHAHA " Aldre tertawa dengan keras, hingga kepalanya terlempar kuat ke belakang.


"Pantas kau bertanya seperti itu hah?! " jawabnya tajam.


"Al-- "


"Kau yang membuatku seperti ini Ara! Kau yang memaksaku melakukan ini! Apa kau lupa?! Hm? " Aldre berucap dengan sarkas, sorot marah itu tidak sedikitpun pudar dari kedua matanya.


"Aku minta maaf Al! Maafkan aku! "


"Maaf? Hahahahaha sialan!! "


"Kau lucu Ara, selalu lucu seperti biasa! "


"Dengarkan penjelasanku, Al. Aku mohon! "


"Aku ingin bertemu Cloe! "


"Cl-cloe? "


"Ya! Aku ingin bertemu dengannya! "


Ara terdiam cukup lama, bagaimana Aldre bisa mengenal Cloe? Tidak ada satupun yang tau tentang Cloe, kecuali kakanya Isabella. "Darimana kamu tau tentang Cloe? "


Aldre berjalan mendekat, memajukan wajahnya menatao lekat Ara, kemudian berbisik disamping telinganya. "Aku bahkan tau, hubungannya dengan Masev " bisiknya.


.....


Dalam interval waktu ini, aku mungkin menyesal telah mencintaimu. Tapi untukmu, engkau akan menyesal telah kehilangan diriku sepanjang hidupmu.


.....


T B C?


Bye!