
"Mau kemana?" tanya Justin pada Jeno yang hendak berjalan keluar.
Jeno tidak menjawab, hanya terus melangkahkan kakinya tanpa menghiraukan keberadaan sang ayah.
"Jika kau ingin menemuinya batalkan saja niat mu. Kau tidak akan bertemu dengannya" ucap Justin lagi yang sukses membuat Jeno menghentikan langkahnya.
Lelaki 17 tahun itu berbalik, menatap tajam kedua Netra hazel yang serupa miliknya.
"Apa maksud ayah?" tanya Jeno dingin.
"Berpikirlah. Gunakan otak pintar mu untuk berpikir" Justin membalikan badannya hendak pergi, namun sebelum itu kepalanya menoleh sedikit kesamping. "Kau harus ingat, bahwa ayah dan bunda tidak pernah menuntut apa pun dari mu atau saudara mu yang lain. It's your choice"
Setelah mengatakan itu Justin berlalu dari sana, meninggalkan Jeno dengan segala macam kebingungannya.
Jeno tiba di depan rumah Erick. Lelaki itu masih berdiam diri di dalam mobil miliknya, tidak berniat keluar sama sekali. Seolah sedang menunggu sesuatu.
Tidak lama, pintu utama rumah Erick terbuka menampilkan Geo dan Keano yang sepertinya baru saja sampai. Karena lelaki itu masih menggendong tas ransel di punggungnya.
"Harusnya kau letakkan dulu tas mu, bodoh!" umpat Geo pada saudara kembarnya itu.
Jeno bisa mendengar percakapan keduanya karena mereka berbicara cukup keras.
"Berisik!! Sekarang pikirkan bagaimana kau mau memberitahu sahabat mu itu! Aku tidak sudi terkena imbas amukannya" seru Keano dengan suara panik yang begitu kentara.
"Dia juga sahabat mu sialan!!" desis Geo tajam.
"Apa yang sedang mereka bicarakan? Apa yang harus di beritahukan pada ku?" gumam Jeno pada dirinya sendiri.
"Sialannnn!!! Kenapa tidak ada yang memberitahu kita jika Erick pergi!! Dan lagi, kenapa tidak ada yang mau membuka mulut?!!" teriak Geo dengan suara lantang.
DUARRR!!
Bagai di sambar petir. Hati Jeno terasa berdenyut sakit setelah mendengar apa yang Geo katakan barusan. Apa maksudnya dengan Erick pergi? Kenapa tidak ada yang memberitahunya?!
"Ayah!"
"Apa sialan?! Jangan menggangguku!!" sembur Geo pada seseorang yang tengah menelponnya.
"Apa kau di rumah Erick?" tanya Jovan, sosok yang baru saja menelpon Geo.
"Jov... Erick..."
"Kenapa?"
"Erick pergi satu hari setalah lo berangkat. Gak satu orang pun yang ngasih tau gua atau pun Keano soal itu. Dan sekarang, mereka gak mau kasih tau di mana Erick"
"Pleaseee bangett tahan Jeno buat kesini"
"Telat. Jeno is there!"
"W-what?"
Geo menolahkan kepalanya ke arah gerbang, matanya membola lebar saat melihat mobil yang sangat dirinya kenal terparkir di depan gerbang.
"Bangsat Jeno!!!" seru Keano panik.
Ketika keduanya hendak menghampiri, Jeno sudah lebih dulu menginjak gas dan pergi dari sana. Meninggalkan keduanya dengan perasaan panik yang luar biasa.
"Damn!! ****!!!"
"****!!! Kita harus gimana sekarang Ge?!!!" seru Keano penuh kepanikan.
"Mana aku tau sialan?! Jangan membuat aku semakin panik!!"
"Kenapa kalian berdua seperti orang bodoh?" tanya Ardella, sepupu keduanya yang berjarak tiga tahun di bawah mereka. Putri tunggal Lea dan Dion.
Keano menoleh, menatap lekat dan penuh harap sepupu cantiknya itu. "Please. Beri tau kami dimana Erick" ucapnya memohon.
"Aku tidak tau" jawab Ardella cepat.
"Aku sungguh tidak tau bodoh! Bahkan jika kau tanya Harena pun, dia akan menjawab hal yang sama. Karena hanya paman Daniel, bibi Ana, paman Justin, dan bibi Isabella yang tau kemana Erick pergi" jelas Ardella.
"****!"
"Erick akan kembali kok" ucap Ardella yabg sukses membuat kedua kaka sepupunya berbinar.
"Kapan?" tanya Geo cepat. Ardella hanya mengedikkan bahunya sebagai jawaban.
"Aiishhh kau ini"
"Aku kan memang tidak tau. Lagipula sahabat mu itu bodoh! Salah sendiri menghilang tanpa kabar, sekarang rasakan karmanya" setelah mengatakan itu, Ardella kembali melangkah masuk ke dalam kediaman Daniel.
"Jeno bodoh" umpat Geo kesal. Keano menatap malas kaka kembarnya. "Kau sama bodohnya sialan! Memangnya aku tidak tau kenapa kau memilih pindah lebih dulu. Dasar pecundang!!"
"Hey!! Aku mengalah untuk mu!"
"Cih! Lagakmu seperti pahlawan kesiangan!"
"Berisik!"
*
"Kenapa jadi mereka yang bertengkar?"
"Biarkan saja. Mereka kan tidak jelas"
"Kakak mu"
"Hih!!"
"Kkkkkk"
***
Brakk!!!
Suara pintu yang di tendang keras memenuhi seisi ruang tamu mansion Scander.
"Apa kau sudah cukup mampu mengganti pintu itu?! Itu mahal jika kau ingin tau!" seru Justin sinis pada sang pelaku yang kini menatapnya tajam.
Justin yang tengah bersantai di sofa bersama sang istri dan kelima anaknya yang lain hanya membalas tatapan tajam itu dengan santai. Sama sekali tidak terusik dengan aura intimidasi yang coba Jeno keluarkan.
"Kenapa ayah rahasikana padaku?!" desis Jeno marah.
"Kenapa juga ayah harus memberitahumu?" balas Justin tenang.
"AYAH!!!"
"jangan membentak ayah mu, Jeno! Kau tidak di didik menjadi pecundang" Isabella berseru dingin.
"Aku meminta ayah dan bunda menjaganya! Bukan menyembunyikannya dari ku seperti ini!!"
Jeno murka, benar-benar murka pada kedua orang tuanya. Bukan hal ini yang dirinya harapkan saat kembali.
"Lain kali berpikirlah sebelum bertindak"
"Salahkan dirimu dan omong kosong mu itu"
Jeno hanya menunduk tanpa bisa membalas perkataan sang bunda. Dirinya sadar betul bahwa semua ini memang berasal dari kesalahannya. Tapi sungguh, bukan hal ini yang Jeno inginkan. Ini jauh di luar ekspektasi nya.
'Maaf, sayang.... Maafkan aku'
****
T b c?
Bye!