
Waktu keberangkatan pun tiba, semua orang berkumpul dihalaman belakang mansion Courtland yang dimana, sudah terdapat beberapa helikopter yang terparkir rapih diatas helipad.
"Ayah, Arie mau ikut" Valerie tidak mau melepaskan dirinya dari sang ayah, gadis kecil itu memeluk leher ayahnya erat.
"Tidak bisa, princess. Valerie harus disini bersama bunda" jawab Justin pelan.
Valerie menggeleng kencng, semakin mengeratkan pelukannya. "Tidak, tidak. Valerie harus ikut" serunya lagi dengan bibir yang mengerucut.
"Valerie, ayah harus pergi sekarang kalau Arie ikut, dede Fero akan menangis karena ditinggal ka Arienya" bujuk Isabella.
Valerie terdiam, gadis kecil itu tidak mau jika adik kecilnya sampai menangis, itu bisa membuat Fero demam karena menangis tanpa henti.
"Tapi ayah akan pulang, kan?" Tanyanya cemas. Justin mengangguk mantap, "tentu saja. Ayah akan segera pulang princess"
"Baiklah" perlahan pelukan tangan mungil itu terlepas, berpindah pada leher Isabella.
"Ayah cepat pulang, ya"
"Iya sayang"
Justin beralih menatap sang istri, berharap Isabella akan mengeluarkan satu saja kalimat untuknya. Pandangannya sendu, tapi Isabella hanya menatapnya dengan tatapan datar.
"Jaga diri kamu baik-baik, bee. Aku akan segera pulang" ucap Justin lembut. Tangannya terangkat hendak mengelus wajah cantik pujaan hatinya, namun niat itu ia urungkan.
Jovan yang mengerti situasi ayah dan bundanya mengambil alih Valerie dari gendongan sang bunda, membawanya pergi menuju saudara-saudaranya yang lain.
Grepp..
Tepat setelah Jovan melangkah menjauh, Isabella berhamburan memeluk sang suami. Sekarang dirinya mengerti mengapa Justin begitu posesif padanya, ternyata seperti ini rasanya melepaskan orang yang kau cintai untuk berperang. Sangat-sangat sakit.
Justin tersenyum, tidak ada beban berat yang akan dirinya bawa setelah ini.
"Kamu yang harus menjaga diri, boo. Aku tidak akan mengampunimu jika kamu terluka walau hanya seujung jari" seru Isabella sedih.
"Aku janji, aku janji akan kembali tanpa luka sedikitpun, sayang" Justin mengaratkan pelukannya, membenamkan wajah Isabella didada bidangnya.
Tidak jauh dari Justin dan Isabella. Aldre berdiri tepat dibawah balkon kamar Ara, kepalanya mendongak keatas sejak beberapa puluh menit yang lalu. Ia tau kekasihnya tengah menatapnya dari balik jendela, Aldre bisa merasakannya walau dari jauh.
Hingga dirinya hampir berangkatpun, ia masih tidak diizinkan bertemu kekasih dan calon anaknya. Padahal Aldre ingin mencari kekuatan sebelum menghabisi Meso.
Drrrttt
Ponsel ditangan Ara bergetar, panggilan masuk dari Aldre. Dengan cepat Ara segera mengangkat telponnya.
"Halo" sapanya lirih.
"Halo sayang. Kenapa belum tidur?"
"Tidak bisa tidur"
"Ini sudah malam, sayang"
"Aku ingin melihat kamu, Al. Aku mau peluk kamu"
"Maafkan aku. Sabar sebentar ya, tunggu aku akan segera pulang. Aku janji, sayang"
"Mm. Jaga diri kamu ya, Al"
"Pasti. Kamu juga jaga kesehatan ya, jangan terlalu sering melamun kesian baby"
"Hehehe iya sayang"
"Aku berangkat ya?"
"Hati-hati"
"Mm. I love you"
"I love you too"
Dari kejauhan, Galih dan Kevin memperhatikan semua hal yang Aldre lakukan. Galih ingin menegur sang adik, tapi ia urungkan niatnya. Tidak ada salahnya memberikan Aldre kesempatan sebelum lelaki itu menjalankan hukumannya nanti.
"Masih tidak ingin bicara denganku, love? Isabella dan ka Justin sudah berbaikan"
"....."
"Tidak apa-apa, aku mengerti. Maafkan aku, love. Aku akan segera pulang"
"....."
"AYO KITA BERANGKAT!" teriakan Revan sukses membuat Kevin hampir menangis. Hubungannya dan sang istri masih belum mendapatkan kemajuan, tapi sekarang dirinya sudah harus pergi.
"Aku pergi, ya. Jaga diri kamu dan anak-anak" Kevin beralih menatap sang putra. "Daddy titip papad dan adikmu ya"
Keano mengangguk. "Iya daddy"
"Kevin, ayo!" Devan memanggil Kevin untuk segera masuk kedalam helikopter. "Iya ka Devan"
Kevin melangkah dengan perasaan yang berat, sesekali menoleh kebelakang berharap Galih memberikan sedikit ucapan semangat untuknya. Namun sekali lagi, Kevin harus kembali menelan kekecewan karena bahkan, Galih tidak menatapnya sedikitpun.
"Ayo Kevin" Justin merangkul bahu saudara iparnya itu. Menuntunnya masuk kedalam helikopter bersama.
Satu persatu helikopter yang semula terparkir rapih kini terangkat perlahan meninggalkan landasannya. Sedikit demi sedikit naik membelah langit malam, kemudian berbelok meninggalkan bangunan megah dan semua orang didalamnya sampai tak lagi terlihat.
"Papah..." Kiran dan Keano menatap sang papah sendu. Air mata Galih menetes, ia sudah berusaha memaafkan sang suami tapi luka dihatinya terlalu besar sampai Galih tidak tau bagaimana mengobatinya.
"Ge.."
Isabella menepuk pelan bahu Galih, menuntunnya untuk kembali masuk kedalam rumah.
"Tidur sama aku, ya" pinta Isabella. Galih hanya mampu mengangguk lemas tanpa suara.
"Keano dan Kiran tidur sama Jesslyn dan Jeno, ya sayang"
"Sama Arieee" Valerie berseru riang.
"Iya iya sama Arie juga"
"Baik bunda"
.
.
Skip
Aldre dan yang lainnya tiba di daratan Eropa, tepatnya di Florance, Italia. Entah apa yang merasuki Meso hingga pria itu memilih Italia sebagai tempat pertempuran.
"Florance?" Justin mengernyit bingung, yang benar saja. Sebodoh apa orang bernama Meso ini sebenarnya?
"Meso berasal dari Italia, ka Justin. Percayalah Meso cukup bodoh tentang dunia gelap, yang dia tau hanyalah The Cruel'd dan keluarganya" seru Aldre.
"Jadi maksudmu dia sengaja memilih negara kelahirannya demi mendapatkan kemenangan yang besar, begitu?" Aldre mengangguk sebagai jawaban.
"Apa dia tidak tau tentang Godfather dan wilayah kekuasaannya?" Devan tak menyangka keterunan Napolan ternyata lebih bodoh dari pendahulunya.
"Semua orang berfikir Godfather sudah mati, ka Devan. Sekarang yang mereka tau adalah tentang keturunannya, sang Godmother dan Lord"
"Meski begitu bukan berarti kita bisa tenang, tidak ada yang tau apa yang bisa dilakukan Meso" timpal Saka.
"Kau benar, Saka" balas Justin.
Rion merangkul Kevin yang hanya terdiam murung hingga saat ini. "Aku tau kau tengah kacau sekarang, brother. Tapi kita semua membutuhkanmu saat ini, kekacauan mu tidak akan memberikan kemenangan dan menyelesaikan masalah ini. Jadi kendalikan dirimu oke" ucap Rion menasihati.
"Hm" hanya deheman singkat yang keluar dari mulut Kevin.
Aldre menatap kaka iparnya penuh rasa bersalah. Ini semua karena dirinya, andai ia tidak sebodoh itu hubungan sang kaka dan kaka iparnya tidak akan seperti ini.
"Penyesalan memang selalu dibelakang, Al yang didepan hanya pendaftaran" celetuk Saka asal.
"Sialan!"
"Kkkkk"
Mereka melangkah masuk kedalam mansion besar milik Revano di Florance. Mansion yang dirinya bangun secara mendadak dalam waktu kurang dari dua bulan.
Revan meminta mereka semua untuk beristirahat sebelum penyerangan mereka dimulai. Justin mengajak Jovan untuk beristirahat didalam kamar diikuti yang lain, menyisakan Devan dan Revano yang kini berjalan menuju ruang kerja milik pria paruh baya itu.
"Bukankah markas The Cruel'd berada di Amerika? Kenapa kita jadi berakhir disini?" Devan menatap sang papah tak mengerti.
"Papah juga tidak tau, Devan. Kita ikuti saja permainannya"
"Lalu bagaimana kita menghancurkan markas sialan itu jika kita berada disini? Kalung itu ada bersama Justin!"
"Itu yang masih papah pikirkan"
.....
T B C?
BYE!