Her And Bitter Memories

Her And Bitter Memories
84 | FAKTA BARU ?



Mata Verrel membelalak lebar, begitupun Rion, dan Kevin. Mereka tidak menyangka Aldre akan mengambil tindakan sejauh itu.


"Al, kau serius?" tanya Verrel tak percaya.


"Mereka tidak bersalah, Al" timpal Rion.


"Aku tau. Tapi aku hanya ingin mereka tau, bahwa aku tidak suka pengkhianat. Harusnya mereka bersyukur karena selama ini aku membantu ekonomi keluarga mereka. Tapi mereka malah mengkhinatiku" murka Aldre.


"Maafkan kami tuan, kami mengaku salah"


"Kami khilaf tuan, tidak bisa menahan diri kami"


"Tolong ampuni kami tuan, tolong jangan sentuh anak-anak kami"


"Kami akan memberitau anda segalanya, semuanya tuan"


Para lelaki tua itu akhirnya menyerah. Mereka tidak ingin keluarga mereka menjadi korban.


Aldre menyeringai lebar. Tikus memang mudah sekali dijebak.


Kevin menatap adik iparnya dengan pandangan menelisik. Tingkah lelaki itu mengatakn seolah dia sudah biasa dengan situasi seperti ini.


'Apa lagi yang dia sembunyikan kali ini? Apa ini yang Isabella maksud? ' pikir Kevin.


Rencana Aldre berjalan dengan lancar. Ia mendapatkan jawaban yang sesuai keinginannya. Sekarang ia memutuskan untuk pulang dan beristirahat. Ia harus menyegarkan badannya kembali sebelum menangkap tikus yang lebih besar.


"Apa kalian masih ingin tetap disini?" Aldre menatap yang lebih tua bergantian.


"Bukankah kami harus membereskan kekacauan yang kau buat?" Verrel balik bertenya, sebelah alisnya menukik.


Aldre tersenyum kecil, "terimakasih sudah membantuku. Kalau begitu aku permisi duluan" setelah membungkuk kecil sebagai salam hormat, Aldre melangkah pergi dari sana, diikuti Brendon yang setia dibelakangnya.


Senyum lebar yang semula terpatri diwajah tegas Verrel kini berubah menjadi dingin. Rion ingin tau apa yang dipikirkan sahabatnya itu.


"Dia punya banyak rahasia! Rahasia yang akan menjadi boomerang bagi dirinya sendiri" gumam Verrel.


Rion beralih menatap Kevin. Yang ditatap terlihat menghela nafas kasar. Rion yakin Kevin pasti memikirkam sang mertua.


"Ayo bereskan ini" ucap Kevin.


"Mm"


.


Aldre tiba dimansion keluarganya. Bajunya yang semula penuh dengan darah, kini sudah bersih kembali.


"Waaahh, anak ayah sudah pulang" seruan Rayyan menyambut Aldre yang hendak masuk kedalam mansion.


Pria paruh baya itu tengah menikmati waktu santainya dipinggir kolam ikan. Ada secangkir kopi panas dan beberapa cemilan kecil dihadapannya.


Aldre menghampiri sang ayah. "Ayah benar-benar menikmati masa tua ayah, ya?" Godanya.


Sang ayah mendelik, "tentu saja. Ayah sudah pusing mengurusi kalian, saatnya ayah menikmati masa tua yang indah" seru Rayyan senang.


"Oh iya, bagaimana masalah diperusahaan mu ? Apa sudah selesai?"


"Mm. Ayah tidak perlu khawatir, aku hanya tinggal membereskan sisanya" jelas Aldre.


"Syukurlah" ucap Rayyan lega. Pria paruh baya itu meraih cangkir kopinya, menyesapnya pelan.


Aldre menatap lamat sang ayah, ada keinginan didalam hatinya untuk menyampaikan sesuatu.


"Ada apa, little boy?" tanya Rayyan yang menyadari tingkah putra bungsunya.


"Aldre ingin jujur akan sesuatu pada ayah. Tapi.... Maukah ayah menunggu sampai Aldre siap?" tatapan dalam yang dilayangkan sang ayah membuat Aldre gugup.


"Apa itu sangat penting?"


"Ya, sangat penting. Kondisi ayah akan kembali buruk jika mengetahuinya dari orang lain"


"Seberapa buruk?"


"Lebih buruk dari fakta Romanov"


Rayyan menatap putra bungsunya lekat. Tidak ada ekspresi yang berarti dalam wajahnya.


"Apa kau terjun didalam dunia gelap?" Pertanyaan itu keluar spontan dari bibir tuanya. Dalam hatinya Rayyan berharap bahwa tebakannya salah.


Aldre tersentak, rasa panik menderanya. Bagaimana ayahnya bisa tau?


"Ayah...."


"Ayah mengerti. Bicaralah ketika kau sudah siap, boy. Kau benar, ayah akan baik-baik saja jika mengetahuinya darimu" ucap Rayyan lembut.


"Maafkan Aldre.... Aldre selalu mengecewakan ayah" Aldre menundukan kepalanya, merasa menyesal dengan segala kebodohannya.


"Ini bukan salahmu, little boy. Kau terjebak dalam emosimu, seandainya ayah tidak egois, dan selalu menemanimu"


"Kamu harus tau, bahwa ayah selalu percaya anak-anak ayah"


Perkataan sang ayah membuat Aldre tertampar keras. Sepercaya itu ayahnya pada dia dan saudara-saudaranya?


Aldre bangkit dari posisi duduknya, bersimpuh didepan sang ayah sambil terisak kuat. Rayyan hanya mengelus lembut rambut putra bungsunya, seolah menyampaikan bahwa ia sungguh baik-baik saja.


Tanpa keduanya sadari, Galih dan Daniel tengah memandangi mereka dari ambang pintu.


Senyum bahagia terukir dibibir Daniel, tapi tidak dengan Galih. Rasa kecewanya tidak bisa ia tutupi. Meski ia belum mengetahui kebenaran yang sebenarnya.


"Senang akhirnya little boy benar-benar kembali" ucap Daniel.


"Kau akan menarik kata-katamu jika kau tau fakta yang lain" setelah mengatakan itu, Galih kembali masuk kedalam rumah.


Daniel tercengang mendengar ucapan sang kaka. Apa maksudnya?


.


.


Siang ini, Ara tengah membantu sang mamah menyiapkan makan siang. Tidak benar-benar membantu sebenarnya, gadis itu hanya sibuk mencicipi setiap makanan yang sudah jadi.


"Bukankah hari ini Aldre pulang?" tanya Sofia pada sang Putri yang masih asik dengan kegiatannya.


Ara mengangguk, memasukan sepotong kecil daging ikan kedalam mulutnya. "Mm. Baru sampe tadi pagi"


"Kamu gak mau nemuin dia?"


"Nanti aja, dia pasti masih cape"


"Kalau gitu berhenti makan dan bawa semua ini ke ruang makan, anak nakal"


Ara cengengesan mendengar teguran mamahnya. Dengan cepat gadis itu bangkit, dan membawa makanan yang sudah siap menuju ruang makan.


"Loh? Kok papah udah disini sih?" Ara sedikit terkejut mendapati papahnya sudah duduk manis didalam ruang makan.


"Papah menunggu sejak tadi. Lama banget" gerutu Revano.


"Mamah masaknya lambat"


"Halahh alasan! Heh? Ini kenapa ikan papah cuma setengah?!"


"Hehehe... KABORRRR!!!!"


"KEYNARA!! Haishhh bocah ini"


"Kenapa?" tanya Sofia yang baru saja tiba. Satu tangannya meletakkan piring buah diatas meja.


Revano menunjuk ikan salmonnya yang hanya tinggal setengah. "Lihat ini!"


"Loh?" spontan Sofia tertawa. Seingatnha tadi ikannya masih utuh, kenapa sekarang jadi hilang separo.


"Anak itu benar-benar! Suruh dia cepat menikahlah!"


"Hishh sembarangan! Ara tuh masih kecil"


"Kecil apa?! Dia udah 21 tahun kalau kamu lupa" sewot Revano.


"Tetep aja kecil"


"Isabella dan Neoura menikah umur 19 tahun! Apanya yang kecil?"


"Ya jelas beda dong. Anak sama menantu kamu itu dewasa sebelum waktunya. Coba liat Ara, gak dapet kabar dari pacarnya aja ngambek kaya ditinggal selingkuh" omel Sofia.


"IIISSHH MAMAH" rengek Ara.


"APA?! emang bener kan?"


Javin yang berdiri disebelah sang adik sudah tertawa keras. Sedangkan sang istri Neoura, yang sempat jadi pembicaraan mengelus lembut punggung adik iparnya itu.


"Sabar ya sayang" ucap Neoura.


Bibir Ara mencebik. Kenapa orang-orang selalu senang menjahilinya?


.....


Dalam aritmatika cinta, satu tambah satu sama dengan segalanya, dan dua kurang satu sama dengan kosong.


.....


T B C?


BYE!