Her And Bitter Memories

Her And Bitter Memories
BAB 08. BEKAL KASIH SAYANG (REVISI)



Hampir lebih dari seminggu sejak bertemu Aldre di mall Ara tidak henti-hentinya mengirimi makanan untuk sahabatnya itu.


Seperti hari ini, Aldre yang akan pergi untuk perjalanan bisnis dibuat jengah dengan kedatangan seorang kurir didepan pintu apartmentnya.


Aldre sudah berulang kali memperingatkan gadis itu, tapi sepertinya Ara sama sekali tidak perduli. Dia terus merecokinya dengan berbagai makanan yang dikirimkannya.


"Araaa!!!! Akan kulempar kotak ini kewajahmu sialan!! " Aldre mengumpat keras di telpon. Lelaki itu langsung menghubungi sahabat kecilnya itu.


"bagaiman bekal kasih sayang dariku? hmm? iya Al gak usah berterima kasih, aku akan terus mengirimkannya untukmu. "


"berisik!!! "


Ara terkekeh geli, "aku sudah bilang bahwa aku tidak akan berhenti bukan? Jadi silahkan pilih berbicara denganku atau aku akan terus merecokimu? "


"Persetan denganmu, teruslah berusaha sampai kau mati!! "


Aldre menendang meja dihadapannya, melempar kotak makan ditangannya kedalam tempat sampah. Gadis itu pikir dia sudi memakannya? Tentu saja tidak!


"Gadis sialan!! "


.


Ditempat yang berbeda, Ara tidak hentinya terkikik geli, gadis ini begitu paham bagaimana membuat sahabatnya kesal.


"Harusnya aku lakukan ini sejak dulu. "


"Aku terlalu takut dengan segala resiko. " nafasnya menghela berat, kenapa dia harus menjadi sepengecut ini?


"Tapi kamu masih gemesin kalo lagi marah gini Al.. Kekekek. "


"Mmm, sepertinya aku harus membut list menu apa yang akan aku kirimkan pada Al setiap harinya. " Gadis itu membuka laci dan metaih buku catatannya, menuliskan serentetan makanan dan cemilan yang disukai Aldre.


"Sepertinya aku harus belajar membuat macaron lagi, masih ada waktu sebelum lelaki itu kembali dari perjalanan bisnisnya. "


Ara kembali meletakan bukunya didalam laci, melangkah keluar mencari sang kaka Rafael. Kakanya yang satu itu memiliki toko kue, dia pasti bisa membuat macaron.


"Ka Michaell. "Panggil Ara pada saudara kembar Rafael. Michaell yang tengah menghias bunga menoleh, "kenapa? " tanyanya.


"Liat ka Ael gak? "


Michaell mengarahkan dagunya kearah dapur, "tuh didapur, lagi bikin cookies. Kenapa emangnya? "


"Mau minta ajarin bikin macaron. " yang lebih tua mengangguk, "ohh. "


"Aku kedapur dulu ya. "


"Okehhh. "


.


"Ka Ael! " begitu tiba didapur, Ara bisa melihat kakanya itu tengah berkutat dengan adonan dan oven.


Rafael menoleh, tersenyum simpul melihat adik bungsunya. "Ohh, hai sweetie. "


"Ka Ael lagi bikin cookies? "


"Of course, why? "


"Bisa ajarin Ara? "


"Tumben." Rafael menyahut heran, tidak biasanya adiknya ini minta diajara membuat kue.


Beberapa detik kemudian Rafael menyeringai jahil, alisnya naik turun menggoda sang adik.


"K-kenapa? " gugup Ara. "Ahhh, kaka baru ingat, Aldre suka macaron kan? " Rafael menggoda.


Pipi gadis itu bersemu merah sampai ketelinga. "Ahhhh, ka Ael... "


"Hahaha, baiklah kaka akan mengajarkan tapi tidak bisa hari ini karena setelah ini kaka harus pergi. "


"Mmm, baiklah. Tapi besok janji ajari Ara ya?? "


"Baiklah, tapi sekarang biarkan kaka menyelesaikan ini atau kamu mau bantu kaka?"


"Hehehehe, Ara bantu makan aja ka. "


.


Didalam pesawat, Aldre masih terus menggerutu. Sejak tadi rasa kesalnya tidak kunjung hilang, kedua kakinya bergantian menendang kursi.


Disebelahnya, Brendon hanya mampu menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku bosnya itu. Terkadang lelaki yang lebih muda darinya ini terlihat seperti balita.


Seperti sekarang contohnya, sejak mereka keluar dari Apartment sampai pesawat lepas landas, bibir tampan bosnya itu tidak kunjung diam. Kalau bukan atasan, dia sudah menyumpalnya dengan kaos kaki.


Brendon memutar matanya diam-diam, "apa anda tidak lelah sir? Anda sudah menggerutu terhitung 3 jam setelah kita berangkat. " Brendon memberanikan diri bertanya.


Aldre terdiam, bibirnya masih mengerecut, wajahnya pun masih kesal. "Benarkah? Aku haus, buatkan aku minuman dingin. "


"Bagaimana tidak haus, kau menggerutu sepanjang waktu. " bisik Brendon. "Kau mengatakan sesuatu Bren? " Aldre menoleh cepat, menatap sinis sang assistant, membuat lelaki itu gelagapan. "O--ohh tidak ada sir. "


.


Setelah hampir 18 jam di atas awan, Aldre akhirnya tiba di Singapore. Lelaki itu kini tengah merebahkan tubuhnya dikasur hotel, seluruh pakainnya bahkan masih rapih ia kenakan. "Hahhh, tidak bisakah aku hanya menikmati uang tanpa harus bekerja? "


Ayolahh boy,,, Tidak ada yang gratis didunia ini!! Kecuali kentut dan bernafas. Jadi nikmati saja okuehhh?


"Ohhhhh indahnya dunia tipu-tipu dan tipu-tipu yang mendunia. "


Hahh? Apasih Al? Mabok kahh ya?


"Naon sih ah elah? Gak jelas amat gua. "


Lah? Bodo amat Al, bodo amat


.......


bye!