
"Kevin dan Galih belum datang? Isabella juga, kemana mereka? " Tanya Rion. Saka mengedikkan bahunya tanda tidak tahu. "Mungkin mereka masih bersiap - siap. Ka Bella kan habis melahirkan, jadi banyak keperluan. " sahutnya.
"Iya juga."
Tidak lama yang dibicarakan pun tiba, ketiga orang itu keluar bersamaan dari dalam mobil. Mereka tercengang dengan penampilan Isabella, wanita itu baru saja melahirkan tapi sudah menggunakan heels setinggi 7 cm.
"Princess!! Lepaskan heels mu!! " perintah nyonya sofia. "Apasih mah?!" Isabella menyahut malas.
"Luka jaitanmu belum kering anak nakal!! Yatuhan.... "
Sepasang mata berlensa Hazel menatap tajam Isabella, wanita itu jelas menyadarinya tapi tidak perduli. "Princess, jangan mencari masalah!! " peringat tuan Revano. Isabella melengos, "siapa yang mencari masalah? "
"Kami sudah memperingatinya paman, tapi paman tau sendiri putri paman yang gila ini kan? " sahut Galih geram.
"Hahhh, princess!! Ada apalagi dengan kalian berdua? " Tanya Tuan Revano kembali. Isabella mengedikkan bahunya acuh.
Justin yang sudah tidak tahan, menggendong paksa tubuh sang istri menuju kamar. Teriakan kesal istrinya itu tidak dia indahkan. Langkahnya cepat menuju kamar, sudah tidak sabar menghukum sang istri.
Brakkk
Justin membanting pintu dengan keras. Melemparkan tubuh Isabella ke atas ranjang. Persetan dengan istrinya yang baru saja melahirkan, wanita itu terlanjur membuatnya marah.
Mata abu gelap Isabella memberikan sorot menantang pada suaminya, yang dibalas Justin dengan dingin. "Kau memang suka mencari masalah denganku, hm? " Tanya Justin sarkas.
"Kenapa? Kau bosan menghadapiku? "
"Berhenti bersikap menyebalkan Isabella!! " ucap Justin Tajam.
"Kau yang menyebalkan sialan!! " Isabella berteriak marah. "Berkaca pada dirimu sendiri bodoh!! "
"Fine! Aku harus mengajarimu dari awal bagaimana bersikap yang baik pada suamimu! "
"Aku baru melahirkan, ashole!! " Isabella memaki suaminya.
"Bukankah kau wanita kuat, hm? "
"Brengsek Justin!! " Isabella bangkit dengan cepat dari kasur, berlari menuju walk in closet miliknya, bersembunyi dari sang suami.
Justin menyeringai menyeramkan, melangkah pelan menuju tempat sang istri bersembunyi. "Kau pikir bisa lari dariku bee?! "
"Sudah lama sekali kita tidak bermain petak umpet? "
Brakkk
"BOOM!! "
"AAAAAA!! "
"I got you! " Justin menarik Isabella keluar dengan paksa.
.
Aldre tiba dengan sebuah koper berisi hadiah bagi sang pemilik acara. Kedatangannya cukup mengejutkan semua orang, tidak menyangka lelaki itu akan sudi hadir disana.
Vion menyeringai puas melihat kedatangan pamannya itu. Rencananya bisa berjalan dengan sempurna kali ini. Sedangkan diposisi yang berbeda, Vien menatap cemas kaka kembarnya. Kenapa lelaki itu tak juga jera? Bagaimana lagi dia harus memperingatinya?
Vien sungguh tidak perduli dengan apapun yang dilakukan saudara kembarnya. Tapi yang menjadi masalah adalah, dirinya juga pasti akan ikut terkena imbasnya. 'Aku akan membakar habis motor kesayanganmu jika aku juga ikut terkena, bodoh!! 'batinnya mengumpat.
Acara ulang tahun sikembar V berjalan dengan lancar. Para orang tua sibuk dengan pembicaraan bisnis dan perjodohan anak mereka. Sedangkan para anak sibuk dengan dunianya masing-masing.
Keluarga Courtland dan sanak saudra yang lain kini berkumpul di ruang khusus. Menikmati acara yang disiapkan khusus untuk keluarga dan kerabat.
Vion melangkah menghampiri Aldre yang berdiri dipojok ruangan sendirian. "Hai paman" sapanya ramah.
"Long time no see, Vion. Selamat ulang tahun, kau suka hadiahku? " Aldre tersenyum simpul, bersikap tenang berhadapan dengan bocah iblis macam keponakan kaka iparnya ini.
"Ya, terimakasih hadiahnya. Tapi sejujurnya, aku cukup kecewa. Karena bukan itu yang aku harapkan darimu paman"
"Ohh benarkah? "
"Aku tau rahasia mu paman! "
Sebelah alis Aldre menukik, matanya menyipit "benarkah? "
"Berikan istana itu padaku, dan rahasiamu aman ditanganku! "
Tanpa mereka sadari, dari posisi yang berbeda, sepasang mata cokelap gelap memandang mereka tajam. lebih tepatnya memandang sang keponakan. tatapannya penuh dengan ancaman, ekpresi dingin yang menyinpan kemarahan. tangannya mengepal kuat didalam saku celananya.
sosok itu, Kevin Aldebaran. lelaki itu jelas paham apa yang dilakukan keponakannya. tapi dia boleh gegabah untuk menegur bocah itu disini, atau dia akan menciptakan keributan. apalagi ada istri dan mertuanya. bisa kacau semuanya.
.....
T B C?
bye!