
Tepat seperti yang Jovan katakan kemarin pada Erick, bahwa pagi ini dirinya datang untuk menjemput Erick, tapi bukan untuk pergi ke sekolah melainkan untuk pergi jalan-jalan.
Kegiatan rutin yang selalu Jeno lakukan saat weekend. Mengajak kekasihnya berkeliling Los Angeles.
"Ka Jovaannn" Jovan di sambut oleh pekikan riang dari Harena. Gadis kecil itu berlari dari ruang makan ke ruang tamu setelah pelayan mengatakan bahwa Jovan datang kerumahnya pagi ini.
"Hai, cantik" Jovan berjongkok menyamakan tinggi badannya dengan Harena.
"Ka Jovan kenapa pagi-pagi datang kesini?" Harena menatap Jovan bingung. Pasalnya bukan hal yang biasa bagi dirinya melihat Jovan di rumahnya, biasanya yang dirinya lihat adalah Jeno.
"Ka Jovan ingin menjemput ka Erick" jawab Jovan dengan senyum manis yang menghias wajahnya.
"Menjemput ka Erick? Apa ka Jovan ingin mengajak ka Erick jalan-jalan seperti ka Jeno?" Tanya Harena lagi.
Jovan mengangguk. "Harena mau ikut?" Ajaknya.
Mata Harena berbinar terang. "Bolehkah?" Serunya penuh semangat.
Tawa kecil meluncur dari bibir Jovan, cowok itu kembali mengangguk. "Tentu saja boleh. Tapi kita ijin dulu pada papah dan mamah ya"
"Okee"
Setelah mengatakan hal tersebut, Harena kembali berlari menuju ruang makan untuk meminta ijin pada sang mamah. Jovan mengikuti gadis kecil itu dari belakang.
"Mamah" Harena memanggil sang mamah yang sedang sibuk menyiapkan sarapan.
Ana menolehkan kepalanya begitu mendengar suara putri kecilnya. "Ya, sayang" jawabnya. Matanya bisa menangkap sosok remaja seusia putranya yang berjalan di belakang Harena.
"Good morning, Jovan" sapa Ana hangat. Jovan kembali tersenyum manis. "Good morning, aunty Ana" balasnya tak kalah hangat.
"Tumben?" Tanya Ana di selingi tatapan menggoda. Ana jelas tau maksud kedatangan Jovan ke rumahnya. Well, saudara kembar cowok itu nyatanya cukup posesif pada putranya.
Jovan menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal. Biasanya sang kaka yang bertamu sepagi ini ke rumah orang, sekarang justru malah dirinya yang harus menggantikan cowok gila itu.
"Aunty mengenal Jeno dengan baik rupanya"
Ana tertawa geli. "Kaka mu itu tidak ada bedanya dengan ayah mu. Dan kau.... Persis sepertu bunda mu yang cuek tapi penuh perhatian"
"Hehehe" Jovan tersipu malu dengan perkataan Ana. Ia seperti mendapat lampu ijo dari wanita cantik di hadapannya ini.
Harena menatap kedua orang yang lebih tua darinya ini dengan tatapan bingung. Apa yang sedang mereka bicarakan? Dan kenapa ka Jovan nya tersipu malu seperti itu?
"Mamah" Harena kembali memanggil Ana, membuat perhatian wanita itu tertuju pada sang putri.
"Ya, sayang" jawab Ana. "Ada apa sayang? Harena butuh sesuatu?" Tanyanya.
"Boleh Harena ikut ka Jovan dan ka Erick?" Harena bertanya dengan wajah polosnya.
Dahi Ana mengernyit, biasanya jika dengan Jeno, Harena tidak pernah mau ikut meski di paksa sekalipun. Katanya dia tidak mau mengganggu kakanya berpacaran.
"Biasanya Harena gak pernah mau ikut. Kenapa sekarang mau?"
"Kan ka Erick gak pacaran. Kalau ka Erick pacaran, Harena gak mau ikut, soalnya nanti ka Jeno gak bisa cium ka Erick" Harena menjawab masih dengan ekspresi polos miliknya.
Daniel yang baru saja datang dengan Erick bersamanya sedikit shock mendengar pengakuan putri kecilnya.
"Harena... Siapa yang mengajarkan Harena hal seperti itu?" Seru Daniel.
"Kan emang iya, ka Jeno sering cium ka Erick. Harena sering liat ko"
Sang pemilik nama yang sedang di bicarakan hanya bisa menutup wajahnya malu. Tingkah lakunya dan sang kekasih ternyata di saksikan oleh adiknya sendiri. Apa Valerie juga melihatnya? Oh ya tuhan.... Malu sekali.
Jovan semakin tertawa kencang. Ternyata tidak hanya matanya saja yang ternodai dengan tingkah sang kaka. Akhirnya dirinya tidak menderita sendirian.
"Sudah sudah, jangan di teruskan lagi" Ana menghentikan pembicaraan ini. "Lebih baik kita sarapan sekarang. Jovan kau juga ya"
Jovan menggeleng. "Tidak aunty, Jovan sudah sarapan di rumah. Jovan akan menunggu di ruang tengah saja sambil bermain dengan Sein"
Sein adalah seekor anjing Samoyed jantan berusia 19 bulan. Sein adalah hadiah ulang tahun Erick dari sang papah, saat ulang tahunnya yang ke 12.
"Baiklah kalau begitu. Aunty akan meminta bibi untuk menyiapkan minuman dan cemilan untuk mu"
"Terimakasih, aunty. Selamat sarapan semuanya"
Jovan berjalan meninggalkan ruang makan dan menuju ke ruang santai. Biasanya saat pagi begini, Sein pasti tengah berbaring santai di sana.
"Sein" panggil Jovan begitu netra berbeda warnanya menangkap gumpalan bulu putih yang tengah berbaring di atas karpet.
Sein yang sedang berbaring sontak terbangun dan berlari ke arah Jovan. Anjing putih itu begitu senang melihat Jovan di sana, sudah lama sekali Jovan tidak datang dan bermain dengannya.
"Ahahaha, kau merindukan ku anak pintar" seru Jovan di selingi tawa kecil.
Wajahnya terasa geli karena Sein yang tidak berhenti menjilatnya.
"Sudah cukup, kau membuat wajah ku basah" Jovan mendorong kecil tubuh besar Sein, mengusap gemas bulu tebalnya.
"Kau semakin besar rupanya"
Sein menggoyangkan ekornya kesana kemari penuh semangat. Matanya berbinar terang karena pikirnya mereka pasti akan bermain.
"Aku tidak lama disini, jadi kita tidak bisa bermain" ucap Jovan.
Sein yang mendengar nya menjadi lemas, ekornya berhenti bergoyang, kedua telinganya turun, dan wajahnya menampilkan raut sedih.
"Ouh jangan memasang wajah seperti itu anak pintar. Bagaimana jika aku meminta ijin untuk mengajak mu ke rumah ku? Tapi setelah aku mengajak Erick jalan - jalan nanti"
Sein menggonggong penuh semangat, ekornya kembali bergoyang kesana kemari, begitupun wajahnya yang kembali berbinar.
"Anak pintar"
****
See you!