Her And Bitter Memories

Her And Bitter Memories
155



"Apa kau tidak memiliki pekerjaan? Kau lebih sering berada di sini dari pada di Washington" ujar Maxime ketus.


"Pagi-pagi sudah mengomel" gerutu Fedrick.


"Aku tidak mengomel, bocah"


"Tapi nada suara ka Maxime terlalu ketus"


Maxime mendelik sinis. "Nada bicara ku memang seperti ini"


"Terserah"


"Jangan mengganggu kaka ipar mu Fedrick" tegur Verrel yang masuk ke dalam ruang makan bersama Virzan.


"Aku tidak melakukan apa pun. Ka Maxime saja yang sensian" ucap Fedrick membela diri.


Verrel mendesah lelah. Sebenarnya ia setuju dengan perkataan Fedrick, beberapa hari terakhir ini istrinya memang lebih sensitive. Mudah marah dan tersinggung pada hal-hal kecil.


"Apa?!" Seru Maxime ketus. Tak suka di perhatikan sang suami.


"Aku hanya memperhatikan mu, Moon. Memangnya tidak boleh?" ucap Verrel lembut.


"Tidak!"


"Ya Tuhan galaknya"


"Memang harus benar-benar di periksa ke dokter. Dulu saat hamil Virzan ka Maxime juga seperti ini kan?" timpal Fedrick.


Verrel jadi teringat saat istrinya hamil putra mereka dulu, Maxime persis seperti ini. Moodnya selalu berubah setiap menit, dan dirinya harus ekstra sabar menghadapi sang istri yang selalu mode senggol bacok.


"Ngomong-ngomong, apa kau sudah memiliki kekasih?" Tanya Verrel pada Fedrick.


Gerakan Fedrick yang hendak menyuap makanan ke dalam mulutnya terhenti, menoleh sebentar pada sang kaka lalu kembali memasukkan makanan ke dalam mulutnya.


Gelengan pelan Fedrick berikan. "Tidak ada. Tapi aku menyukai seseorang" jawabnya setelah makanan di dalam mulutnya tandas.


"Oh iya, siapa dia?" Tanya Verrel lagi dengan antusia. Adiknya yang satu ini sangat sulit untuk dekat dengan wanita, padahal banyak sekali yang menyukainya.


"Kaka akan tau nanti" jawab Fedrick kalem.


"Kau tidak menyukai Sin kan Fedrick?" Maxime yang sejak tadi menyimak percakapan keduanya akhirnya menimpali.


Fedrick terdiam, sorot matanya menatap datar ke arah kaka iparnya. "Memangnya kenapa jika aku menyukainya?"


"Dia sudah bekas orang lain"


"Kau tidak bisa menentukan dengan siapa kau jatuh cinta ka Maxime. Karena hati tau kemana harus berlabuh" Fedrick berucap dengan dingin.


Lelaki itu bangkit, pergi dari sana tanpa permisi. Moodnya untuk sarapan hilang sudah karena ucapan kaka iparnya.


"Moon..." tegur Verrel. "Aku hanya ingin dia mendapatkan yang terbaik" gumam Maxime pelan.


"Tapi kau tidak boleh berbicara seperti itu, Moon"


"Maaf. Aku tidak bermaksud mengatakannya, tapi perkataan itu keluar dari mulut ku begitu saja"


Kepala Maxime menunduk, memilin jari-jarinya. Dirinya tidak bermaksud mengucapkan hal sekasar itu. Memang mulut tajamnya ini tidak bisa di ajak berkompromi.


"Minta maaflah padanya nanti" ucap Verrel lembut. Maxime menjawab dengan anggukan halus.


*


*


"Ngelamun aja. Nanti kamu ke sambet loh" Sin menepuk bahu Carissa yang tengah duduk di atas rumput taman. Keduanya kini tengah berada di rumah Sin. Tidak hanya mereka berdua yang ada di sana, tapi Lynea dan juga Sena. Tapi keduanya tengah membuat kue saat ini.


Bibir Carissa mengerucut, tangan kanannya menopang dagu, dan keningnya mengkerut dalam seolah sedang memikirkan sesuatu yang penting.


Sin menatap sahabatnya itu heran. Carissa bergaya sudah seperti intrl yang tengah berusaha memecahkan kasus rumit.


"Mikirin apa sih? Serius banget"


"Tau gak"


"Gak!"


"Ihh aku belum selesai ngomong" Carissa menepuk bahu Sin cukup kencang.


Sin terkikik. "Iyaiya kenapa sih? Penting banget kayanya"


"Fedrick? Siapa?"


"Iisshh, itu loh adik angkatnya ka Verrel yang dari Washington. Yang waktu kecil kalo ketemu kita tuh pasti ngajakinnya berantem"


"Ouuhh, yang tengil itu?" Carissa mengangguk dengan semangat. "Terus kenapa?" tanya Sin masih tidak mengerti.


"Kamu tau gak sih, dari awal dateng sampe selesai acara dia tuh merhatiin kamu terus" Carissa berucap dengan begitu semangat.


"Hah?" Sin semakin bingung dengan maksud sahabatnya itu.


"Kayanya dia suka deh sama kamu Sin"


Sin berdecak. "Apaan sih. Gak gak, lagiaan aku gak pantes buat dia"


"Kamu tuh gak boleh ngomong kaya gitu" seru Carissa dengan ekspresi tak senang.


"Ya lagian kamu aneh-aneh aja. Mana mungkin dia masih inget sama kita"


"Ihh pasti inget dong. Emangnya kamu gak tau dia pernah satu sekolah sama kita dulu"


Mata Sin membola lebar. "Serius? Kok aku gak tau sih"


"Inget gak waktu kita SHS ada anak baru yang populernya nyamain Aldre?" Sin mengangguk. Tentu saja dirinya ingat tentang si anak baru itu, tapi tidak mau perduli karena fokusnya saat itu hanyalah Aldre.


"Tunggu... Jadi itu Fedrick?!" kali ini gantian Carissa yang mengangguk.


"Oh my god" Sin menutup mulutnya tak percaya. "Tapi wajahnya berubah ya, aku gak ngenalin dia"


"Emang kamunya aja yang gak perduli. Kan fokusnya cuma sama Aldre" Carissa mencibir.


"Hehehehe"


"Eh, tapi kalo dia beneran suka sama kamu coba aja jalanin sama dia. Siapa tau kalian cocok" ucap Carissa memberi usul. Dirinya hanya ingin agar Sin bisa cepat melupakan Aldre dan kesedihannya.


Sin mengibaskan tangannya di udara. "Gak tau ah, gak mau mikirin itu. Mending kamu duluan yang cari pacar sana. Kalo gak sama siapa tuh yang dulu sering nganterin kamu balik ke sini?" goda Sin menaik turunkan kedua alisnya.


"AAHHH SIN JELEK" Carissa kabur dari sana. Menghindari percakapan apa pun yang membahas tentang sosok mantan crushnya itu.


"Lah? Hahahahaha"


"Kenapa sih lari-larian kaya gitu?" tegur Sena pada Carissa yang berlari seperti habis di kejar maling.


Carissa memasang wajah cemberutnya. "gak apa-apa"


"terus Sin mana?"


"gak tau" jawabnya ketus.


Sena mengernyit bingung. Seingatnya tadi mereka berdua mengobrol seru, kenapa sekarang jadi kaya orang musuhan.


"gak jelas"


Carissa tidak mengindahkan perkataan kaka iparnya itu. Dirinya memilih masuk ke dalam dapur untuk melihat apakah kue yang sejak tadi di buat sudah selesai atau belum.


Begitu kakinya melangkah melewati pintu dapur, hidung Carissa langsung menangkap aroma lezat khas kue yang baru matang. Senyum cantiknya merekah. bisa dirinya lihat seloyang red velvet tersaji di atas konter daput. kue berwarna merah itu baru saja keluar dari oven, Lynea tengah menunggu kuenya dingin sambil menyiapkan cream untuk menghias.


"aku mau aku mau" seru Carissa dengan semangat.


"masih panas, sabar dulu" ucap Lynea. "nih mending kamu potongin buahnya" menyerahkan semangkuk strawberry ke hadapan Carissa.


Carissa mencebik. "aahh payahh"


"Bawel. Buru potong, kalau gak kaka cuma bagi kamu creamnya aja"


"ka Lynea payah. huuuu"


"kekekeke"


Carissa memotong strawberry dengan perasaan kesal. sesekali melirik sinis Lynea yang terkikik geli.


......


t b c?


bye!