
Acara pernikahan Aldre dan Ara berjalan dengan sangat lancar. Kini keduanya baru saja tiba di kamar mereka. Mereka tidak kembali ke mansion Courtland atau pulan ke mansion Caldwey, tapi keduanya berada di sebuah mansion mewah yang sudah cukup lama Aldre siapkan untuk Ara.
Mereka hanya berdua disana, tidak ada si kembar. Untuk sementara Aldre menitipkan ke dua anaknya pada orang tua mereka, Ara juga sudah menyetok asinya di dalam kulkas untuk kedua bayi mungilnya. Tidak lama, hanya beberapa hari sampai selesai menghabiskan waktu bersama.
"Mau langsung mandi atau istirahat dulu?" Tawar Aldre. Lelaki itu berdiri di depan pintu kamar mandi.
"Mandi dulu aja, Al. Badan aku lengket semua" jawab Ara.
"Padahal aku belom ngapa-ngapain, kok udah lengket?"
Ara mengangkat satu sepatu heels miliknya dengan wajah datar. Aldre hanya bisa menyengir lebar kemudian berlari masuk ke dalam kamar mandi.
Setelah selesai membersihkan diri, keduanya kini berbaring saling berhadapan di atas ranjang. Ara meletakkan kedua tangannya di bawah kepala, menjadikannya sebagai bantal. Sedangkan Aldre satu tangan menumpu kepala dan satu lagi mengelus lembut pipi chubi Ara.
"Mau langsung tidur?" Tanya Ara dengan masa sayu. "Udah ngantuk ya?"
Sebenarnya Aldre ingin meminta haknya, tapi dirinya tidak tega melihat wajah lelah istrinya.
"Maaf ya Al. Mataku aku udah berat banget" Ara tau apa yang diinginkan sosok yang telah menjadi suaminya kini. Tapi ia tidak bisa menahan rasa kantuknya.
"Tidak apa-apa, sayang. Kita bisa melakukannya lain kali" Aldre tersenyum lembut, menarik Ara lebih dekat padanya. "Tidurlah. Selamat malam, mommy"
"Selamat malam, daddy"
Ara terlelap begitu cepat, di susul Aldre beberapa menit kemudian.
Pagi harinya
Suara ******* memenuhi seisi kamar pasangan pengantin baru ini. Setengah jam lalu, Ara baru saja membuka matanya, kesadarannya bahkan belum sepenuhnya pulih tapi sang suami langsung menerjangnya.
Aldre mendapatkan masalah yang biasa di hadapi laki-laki di pagi hari. Biasanya Aldre akan menahannya sendiri, tapi mengingat dirinya sudah memiliki seorang istri, tidak ada alasan baginya untuk menahan lagi.
"A-al...pelan--aakkkhh"
"Mmmhhh...."
Berkali-kali Ara berteriak kencang karena Aldre yang menghisap dadanya begitu kuat. Lehernya sudah penuh dengan tanda merah, begitupun bagian atas dadanya yang terhias tanda merah di sana-sini.
Suaminya ini seperti bayi kelaparan yang baru pertama kali meminum asi. Ringisan kecil terus meluncur dari bibir merah Ara. Dadanya terasa perih karena hisapan kuat yang Aldre lakukan, lelaki itu bahkan menggigitnya sesekali.
Cepakk...
Aldre melepaskan hisapannya, bibirnya mengkilap basah karena asi dan air liurnya sendiri yang bercampur.
Ara menatap suaminya kesal, sedangkan yang di tatap hanya menampilkan cengiran tanpa dosanya.
"Enak, pantas Aldara senang menyusu lama-lama" ucap Aldre.
"Enak-enak, sakit tau!" Protes Ara. Dadanya benar-benar perih sekarang.
Aldre bangkit berdiri di pinggir ranjang. Kedua tangan Aldre bergerak melepaskan pakaian yang di kenakannya, kemudian melemparkannya ke sembarang arah. Menyisakan boxer hitam ketat yang masih bertengger di pinggangnya.
Wajah Ara bersemu merah, padahal ini bukanlah pertama kali baginya melihat Aldre tanpa mengenakan apapun.
Sudut bibir Aldre menyunggingkan senyum miring, tubuhnya kembali merangkak naik ke atas ranjang, menindih tubug mungil istrinya.
Aldre menelusupkan kepalanya ke leher Ara. Kembali memberikan tanda ke pemilikan disana. Kedua tangannya tak tinggal diam, bergerak cepat membuka kancing gaun tidur yang Ara kenakan.
Ara hanya bisa pasrah dan menerima apapun yang akan di lakukan suaminya itu. Dirinya tak bisa menolah karena ini sudah menjadi kewajibannya.
Selanjutnya hanya ******* dan erangan kenikmatan yang memenuhi isi kamar pasangan pengantin baru itu.
Pukul 2 sore, Ara dan Aldre selesai dengan kegiatan mereka. Aldre bangkit membiarkan Ara yang ke lelahan kembali tidur. Lelaki itu berjalan masuk menujukamar mandi untuk membersihkan diri.
15 menit kemudian Aldre keluar dari kamar mandi dengan mengenakan bathrobe. Ada sebuah baskom kecil dan juga handuk kecil ditangannya. Lelaki itu mendekat ke pinggir ranjang tepat di setelah Ara. Dengan hati-hati membersihkan tubuh sang istri dengan air hangat yang di bawanya.
Aldre juga menggantikan pakaian yang Ara kenakan dengan sebuah dress dengan panjang selutut. Setelah selesai Aldre berjalan keluar kamar, dirinya berencana membuat makan siang untuk mereka. Makan siang yang sudah sangat terlambat.
Begitu tiba di dapur Aldre mulai mengeluarkan bahan masakan dari dalam kulkas. Ia hanya akan memasak makanan yang mudah dan cepat di buat, mengingat dirinya dan Ara melewatkan makan malam mereka karena terlalu lelah, juga sarapan mereka pagi tadi.
Dengan lincah tangan Aldre bergerak memotong setiap bahan masakan. Menyiapkan panci yang akan dirinya gunakan, juga dua bungkus daging ayam fillets. Aldre akan membuat chicken soup untuk dirinya dan sang istri.
Setelah berkutat hampir satu jam di dapur masakan Aldre akhirnya siap. Chicken soup hangat dengan aroma yang begitu menggugah selera telah siap. Tinggal menuangkannya ke dalam mangkuk dan membawanya ke kamar.
"Al?"
Aldre menoleh cepat setelah mendengar suara sang istri. "Loh? Kok sudah bangun?" Aldre cukup terkejut melihat Ara yang sudah berdiri di ambang pintu dapur.
"Aku nyariin kamu. Lagi apan?" dengan langkah pelan Ara mendekat.
"Membuat makan siang. Kemari, soupnya baru saja matang" Aldre menarik lembut tangan sang istri menuju counter dapur.
"Duduk sini, biar aku siapkan dulu soupnya"
Aldre melatakkan semangkuk soup panas dengan asap yang masih mengebul di depan sang istri. Ara menatao soup di hadapannya dengan mata berbinar.
"Wahhh kebetulan aku pengen banget makan ini" seru Ara senang. Tangannya meraih sendok mulai mencicipi soup buatan suaminya.
"Enak?" tanya Aldre.
Ara mengangguk dengan semangat. "Enak bangettttt"
"Hahaha kalau begitu habiskan ya"
"Kamu makan juga"
"Iya sayang, ini aku mau makan"
keduanya menyantap makanan mereka dengan begitu lahap. sesekali mengobrol di iringi tawa bahagia. Rasa sakit dan kesedihan sudah lenyap dan pergi.
Perasaan bahagia menyelimuti hati keduanya karena hari ini adalah hal yang selalu mereka nantikan sejak dulu. Rasanya masih tidak menyangka mereka bisa melangkah hingga ke titik ini. setelah banyak hal buruk dan menyedihkan yang mereka lewati. Juga luka tak berkesudahan yang menghiasi hari-hari mereka selama bertahun-tahun lamanya.
seperti kata orang, setelah hujan akan ada pelangi yang menghiasi. Apapun masalahnya dan apapun rintangannya, melangkah maju adalah tindakan pertama yang harus di lakukan. Tidak perlu melihat kembali ke belakang, karena luka tidak wajib lagi kita ingat. Biarkan hal itu menjadi memori kisah dari setiap lembar buku yang kita tulis.
.....
T b c?
Bye!