Her And Bitter Memories

Her And Bitter Memories
96 | JUSTIN



Sudah hampir satu jam Justin mengacak-acak isi markas besar TCruel'D. Tapi tidak juga menemukan apa yang dicarinya.


Rahangnya mengeras, matanya menajam, dan kedua tangannya yang mengepal kuat. Napasnya memburu karena emosinya yang hampir meledak.


Pikirannya tidak bisa ia ajak berkompromi untuk tenang. Segala macam hal-hal buruk melintas didalam pikirannya.


"Haruskah aku meminta bantuan, bee?" Justin meremat kasar rambutnya. "Tapi Fero terlalu sering ditinggal, dia butuh bundanya. ARRRGHHH SIAL!!"


Justin tidak ingin menyerah, ia kembali menelusuri setiap sudut bangunan megah itu. Setiap kamar, ruangan, bahkan bagian yang tidak pernah terjangkau sebelumnya.


Setelah ia meyankinkan bahwa tidak ada apapun dilantai bawah, Justin menuju lantai atas, lantai dua mansion.


Langkah besarnya ia bawa menuju kamar utama didalam bangunan itu. Kamar yang sebelumnya menjadi miliknya.


Sejujurnya Justin mengakui bahwa ia tidak begitu mengenal bangunan ini, karena ia tidak pernah menghabiskan waktunya disana. Justin lebih sering datang ke markas yang ia bangun sendiri, karena ia tidak mau terikat kuat dengan bangunan megah yang kini tengah ditelusurinya.


Tangannya yang besar dan kekar mendorong pintu kamar utama. Nuansa merah dan hitam menjadi pemandangan pertama yang masuk dalam netra Hazel milik Justin.


"Seingatku ruangan ini tidak seperti ini dulu"


Justin menekan setiap sisi tembok, mencari celah ruang rahasia dibaliknya. Gerakannya terhenti begitu ia merasakan benda keras seperti besi.


Tangan kanannya mengepal kuat, lalu ia layangkan pada bagian yang seperti besi.


BUGG BUGG


Pukulan bertubi-tubi Justin arahkan, membuat tambok itu hancur seketika. Sebuah pintu besi berukuran sedang seperti berangkas terlihat. Jejeran angka yang berbaris dibagian kanan pintu juga layar kecil diatasnya.


Justin menerka-nerka apa kiranya sandi dari pintu besi ini. Ia mencoba memasukkan tanggal pertama kali TCruel'D dibangun.


SALAH!


"Sial!"


Sekali lagi, ia mencoba memasukkan tanggal markas dibangun. dan hasilnya tetap sama. Hanya tersisa satu kali kesempatan.


Mata Justin terpejam erat, berpikir keras sekiranya apa yang selalu berhubungan dengan kelompok yang pernah dipimpinnya dulu.


KEHANCURAN!


Jarinya kembali menekan beberapa angka yang muncul dikepalanya.


Ceklek


Berhasil! Pintu besi itu terbuka. Senyum lebar Justin terbit. Tangannya menarik tuas pintu. Dahi pria itu mengkerut melihat benda didalam kotak besi.


"Apa ini?"


.


.


"AAAIIISHSSHHH BRENGSEK!! KENAPA DENGAN KALUNG SIALAN INI!"


Aldre meremat kalung dilehernya dengan kuat. Entah apa yang terjadi dengan benda itu. Tiba-tiba kalung merah itu mencekik lehernya dengan sangat kuat.


PRANGG


Kalung itu terlempar cukup jauh. Menimbulkan bunyi yang cukup keras. Cahaya berwarna merah keluar dark kalung itu, tidak lama kemudian kalung itu menghilang.


"Menghilang lagi sialan!"


Aldre menatap lehernya dibalik cermin yanh terlihat memerah. Rasanya panas seperti habis terbakar.


"Aku harus berurusan lagi dengan Justin Scander setelah ini! Apa yang sebenarnya pria itu lakukan?!"


.


.


Justin baru saja tiba dimansionnya. Didepan pintu, Isabella menunggu kedatangan sang suami.


Netra abu Isabella memicing menatap benda berwarna merah yang melingkar apik dileher suaminya.


"Apa itu?" Tanyanya pada benda yang dipegang Justin.


"Aku tidak tau, Bee. Aku belum melihat isinya" jawab Justin.


"Hanya itu?" Justin mengangguk. "Aku akan mencarinya lagi nanti"


Setelah mengatakan hal itu, Isabella melangkah masuk kedalam, meninggalkan Justin yang mematung didepan pintu.


Justin meraba area lehernya, sebelumnya benda itu tidak ada disana. Jika sudah seperti Justin jelas tau apa yang akan terjadi padanya.


.


.


"kau bodoh, Aldre! Kalung itu tidak akan pernah kembali lagi padamu, karena dia sudah berada didalam tangan pemilik yang sebenarnya!"


"Diamlah sialan! Bagaimanapun aku harus mendapatkan kembali kalung itu" seru Aldre penuh amarah.


"Kau pikir bisa mengalahkannya? Justin Scander, Aldre? Pemimpin TCruel'D paling mengerikan, bahkan pendirinya saja tidak sebanding dengan lelaki itu. Dan lagi, kau jelas tau bahwa hanya dia yang akan kau hadapi"


"Kau hanya membuatku semakin pusing!" kesalnha lagi.


"Aku sudah pernah memperingatkanmu untuk berhati-hati"


"Brengsek!!"


.


.


Justin menatap sang istri yang masih sibuk menyiapkan makan malam mereka. Mulutnya gatal ingin mengucapkan sesuatu, tapi lidahnya kelu seolah menahannya untuk bicara.


"Katakan apa yang ingin kau katakan, Boo" Justin lupa jika istrinya seseorang yang memiliki kemampuan spesial. Wanita itu pasti tau seberapa kacau pikirannya sekarang.


Pria itu menjilat bibirnya yang terasa kerinh sebelum memulai berbicara. "Aku butuh bantuanmu, Bee"


Isabella menatap pria yang sudah bersamanya selama 33 tahun itu dengan seksama.


"Jika kau ingin aku menggeledah markas itu... Aku tidak bisa, Boo. 'Dia' tidak akan membiarkanku masuk kedalam sana"


Justin menunduk frustasi. "Dan lagi, aku tidak mau melihat kalung itu dirumah ini, atau aku akan menggila" lanjut Isabella yang semakin membuat suaminya frustasi.


"Aku benar-benar tidak tau apa yang harus aku lakukan sekarang" Justin berucap dengan nada frustasi yang begitu kentara.


Isabella terdiam. Sesungguhnya ia memiliki solusi untuk masalah ini, tapi suaminya pasti tidak akan setuju. Karena ini harus kembali melibatkan putra mereka, Jovan.


"Aku punya solusi jika kau mau" tangan yang berbalut warna hitam disetiap jarinya itu terjulur mematikan kompor yang masih menyala.


"Apa?"


"Tapi kau pasti tidak akan setuju mendengarnya, Boo"


"Katakan"


"Jovan"


"Apa?"


"Bawa Jovan bersamamu, intuisinya lebih bagus dari yang aku duga. Dia pengamat yang baik, Boo" Justin terdiam. Isabella tau pasti suaminya itu akan menolak solusi darinya.


"Tidak ada cara lain?" Benarkan? Pria itu menolaknya secara tidak langsung.


Justin meremat kalung yang masih melingkar apik dilehernya. Tangannya menggenggam erat kalung tersebut, jika bisa ia ingin sekali menghancurkan kalung sialan ini.


Isabella menggeleng. "Kau akan terkejut dengan kemampuannya. Tapi.... Kau tau apa yang akan terjadi setelahnya, Boo. Tidak akan mudah menariknya keluar dari rasa tertariknya"


Inilah alasan kenapa Justin sangat ketat pada putranya yang satu itu. Jeven, putra sulungnya juga seorang mafia. Tapi ia tidak bisa melarangnya karena ayah kandung Jeven adalah pemimpin mafia, dan Jeven adalah satu-satunya keturunan yang ayahnya miliki.


Tapi Jovan? Justin tidak ingin putranya mengalami kehidupan yang berat sepertinya dan sang istri. Dunia bawah tanah bukanlah hal yang mudah untuk dilepaskan.


"Aku akan melakukannya sendiri" final Justin. Isabella tidak bersuara lagi, mengalah dengan keputusan suaminya. Memilih melanjutkan kembali acara masaknya yang tertunda.


Tanpa keduanya sadari, diambang pintu Jovan menguping semua pembicaraan orang tuanya. Sekarang semuanya jelas bagi remaja 13 tahun itu, mengapa sang ayah begitu ketat padanya.


"Aku akan membantumu, ayah. Dan aku akan tetap memegang janjiku padamu"


.....


T B C?


BYE!


Pendek banget dipart ini😭