
"Kau seperti tidak terkejut, Ray?" tanya Revano pada sahabatnya yang terlihat santai. Ia sempat khawatir sahabatnya itu akan kembali drop.
Saat ini keduanya tengah berada diruang santai lantai dua mansion Scander. Hanya mereka berdua karena yang lain sudah beristirahat.
"Aku sudah tau" jawab Rayyan tenang.
"Sungguh? Darimana kau tau?"
"Aldre. Dia sendiri yang mengatakannya padaku"
"Dia benar-benar menepati janjinya"
"Tidak semua. Tapi dia mengatakan beberapa hal yang penting. Meski aku masih tidak tau darimana dia mendapatkan kalung itu"
"Itu lebih dari cukup. Artinya dia tidak lagi ingin membuatmu kecewa, Ray" Revano menghembuskan asap nikotin dari mulutnya.
"Ya, kau benar. Tapi sepertinya kau tidak mengetahui hal ini ya?"tanya Rayyan sesekali menyesap teh hangat miliknya.
Revano mengedikkan bahunya singkat. "Tidak semua hal bisa aku ketahui"
"Hahahaha. Baru kali ini aku merasa bangga melihat wajah terkejutmu"
"Sialan!"
"Hahaha"
.
"Aku bisa jelaskan semuanya, Bee" Justin berdiri tak jauh dari tubuh sang istri yang kini bersandar di pembatas balkon.
Justin ingin sekali merengkuh tubuh ramping kesayangannya itu. Sudah hampir dua minggu tidak ada kontak fisik yang mereka lakukan.
"Sudah berapa baris kata yang kamu rangkai?" tanya Isabella datar. Kekecewaan dihatinya tidak bisa ia luruhkan, meski ini bukan sepenuhnya salah suaminya.
"Bee.... Kamu tau aku tidak akan melakukan itu. Kamu tau seberapa besar keinginanku untuk bebas"
Justin melangkah perlahan mendekati Isabella. Meletakkan kepalanya dipundak sang istri begitu ia berhasil mendekat.
"Maafkan aku. Aku juga terkejut saat Jovan menunjukan kalung itu"
"Kau membangkitkan kembali markas itu?" Isabella menyerah. Membalikkan badannya, menatap tepat kedua netra hazel sang suami.
"Banyak hal yang ingin aku cari tau. Aku akan menghancurkannya kembali jika aku sudah selesai"
Cupp
Kecupan lembut dikening Isabella terima. "Aku harus berbicara banyak hal dengan Aldre, tapi tidak bisa terburu-buru. Kamu tau bagaimana ia bereaksi tadi kan?"
Isabella mengangguk. "Jangan rahasiakan apapun dari aku, Boo"
"Pasti"
"Aku lelah bertengkar terus denganmu, boo" netra abu gelapnya memandang sendu wajah tampan Justin.
"Maafkan aku, bee. Aku terlalu egois padamu selama ini"
Isabella berhambur memeluk tubuh tegap Justin. Menenggalamkan kepalanya didada bidang suaminya.
.
Sejak kembali dari pesta ulang tahun si kembar Scander, Aldre tak henti-hentinya membenturkan kepalanya ketembok. Tidak perduli dengan darah yang terus mengalir dari keningnya.
"AAAARRRRRGGGGGHHHHH!!!"
"Kau seperti orang yang hilang arah, bocah"
"Diamlah, ka Leo. Dan tutup mulutmu! Kau berisik!"
"Sensitif sekali" ujar Leo.
Untuk sesaat Aldre terdiam, kepalanya mulai terasa pening sekarang. Bisa lelaki itu rasakan darah yang mengalir deras diwajahnya.
BRUKK
Tidak sampai sedetik, bocah nakal itu akhirnya tumbang. "Lemah!" Gumam Leo dengan sinis.
Dengan malas, Leo mengangkat tubuh Aldre, meletakkannya diatas sofa. Kakinya melangkah menuju dapur, mencari kotak obat.
Setelah selesai, ia melangkah menuju ruang kerja milik Aldre. Mencari sesuatu yang bisa menjadi petunjuk untuknya, mumpung bocah itu mssih tepar.
Matanya mengedar kepenjuru ruangan bernuansa hitam itu. Sebagai seorang Mafia, bukanlah hal sulit bagi Leo menyusup masuk kedalam rumah seseorang. Ini sudah seperti cemilan rutinnya.
"Ruangan sebesar ini dan kau hanya menyimpan barang-barang tidak berguna? Konyol!" Dengusnya.
Dalam sekali lihatpun, Leo tau tidak ada yang penting didalam sini. Hanya akan membuang waktunya jika ia menggeledah tempat ini.
Lelaki itu memutuskn kembali keluar. Sepertinya ia harus menyisiri seluruh apartment milik Aldre.
"Kau tidak akan menemukan apapun disini ka Leo! Aku tidak sebodoh itu jika kau ingin tau" suara ketus Aldre membuat Leo menoleh cepat.
'Sialan! Bocah itu cepat sekali sadarnya'
"Kenapa? Terkejut karena aku sudah sadar?!"
"Cih!"
Dengan terpaksa, Leo harus mengurungkan niatnya menggeledah tempat tinggal bocah yang menurutnya menyebalkan ini.
Sejujurnya, lelaki dengan julukan Black Devil ini tidak perduli dengan sang pemilik rumah. Ia akan melakukan apapun yang dia Mai tanpa larangan siapapun, tapi ia sedang malas mendebat bocah nakal itu. Jadi lebih baik mundur sejenak.
"Aku berniat meledakkan perusahaanmu sebenarnya" celetuk Leo asal.
"Kau dan teman-temanmu memang sialan!" Balas Aldre dengan ungkapan penuh cinta.
Leo tertawa, bocah ini lucu juga ternyata. "Aku tidak akan berhenti mengganggumu, kecualo kau menyerah"
"Persetan denganmu, Leo! Kau pikir aku takut padamu? Najis sekali!"
"Mulutmu benar-benar suci ya"
"Terimakasih"
"Jadi? Kau mau bekerja sama denganku atau bekerja sama dengan Devan?" Tanya Leo sarkas.
"Bagaimana dengan iblis?"
"Itu nama tengahku! Pilihan yang bagus" ucap Leo dengan bangga.
"Aku tidak terkejut" balas Aldre santai.
Aldre menyentuh keningnya yang berbalut perban. Rapih, professional juga rupanya pria menyebalkan ini.
"Thanks"
"Tau diri juga rupanya?" Lelaki sialan ini benar-benar....
"Aku bukan iblis sepertimu!"
"Awww, aku tersanjung"
Aldre memandang jijik pria tua disebelahnya yang tengah memasang wajah sok imut. Badannha bergidik ngeri.
Suara gemuruh yang terdengar dari perut Aldre menyadarkan lelaki itu bahwa sejak tadi ia belum makan apapun. Dan kini, cacing-cacing diperutnya menuntut diberi gaji.
Dengan malas, Aldre bangkit menuju dapur bermaksud membuat makan malam.
"Nah, tepat sekali. Buatkan untukku juga. Ok bocah" suara Leo kembali mengintrupsi.
"10 juta! Untuk satu suap yang kau makan nanti" jawab Aldre ketus.
"Pemerasan!"
"Kau kan kaya"
"Kaya iblis maksudnya"
"Bangsat!!"
Aldre tertawa puas. Rekor dunia mendengar seorang Black Devil mengeluarkan umpatan dari mulutnya seperti ini.
"Emang bocah sialan!"
.....
T B C?
BYE!