
Isabella menatap lurus halaman depan mansion. Wanita itu berdiri tegak dibalkon lantai 2 sejak satu jam yang lalu. Entah apa yang dipikirkannya, wanita itu hanya terdiam tanpa melakukan apapun.
"Isabella... " panggilan Kevin membuat Isabella tersentak, kepalanya menoleh sedikit ke belakang. "Ada apa? " tanyanya.
"Aku yakin kau tau pasti tentang Aldre. "
"Hmm, lalu? "
"Sampai kapan kita hanya akan diam? Aku tidak bisa terus merahasiakan ini dari Galih dan ayah. Mereka harus tau! "
"Tunggu sebentar lagi, aku harus memastikan bahwa putraku cukup siap untuk aku tinggalkan. "
"Kau menjalankan misi lagi dear? " pertanyaan tiba-tiba itu membuat Kevin dan Isabella terkejut, bagaimana mungkin mereka tidak mendengar langkah kaki Galih.
"Kau mengejutkanku G! "
"Ooh, sorry. Jadi? " Galih meletakkan nampan yang dibawanya keatas meja.
Isabella melirik saudara iparnya memberi kode agar lelaki itu yang menjawab. Kevin berdehem sebentar, menetralkan ekspresinya sebelum menjawab pertanyaan istrinya. "Ada musuh yang sulit untuk kami tangani Love, jadi Isabella harus turun tangan untuk menyingkirkannya. "
"Lalu ka Justin? "
"Aku sudah meminta izinnya Ge, don't worried. "
"Kau baru saja melahirkan dear, tapi sudah mau menjalankan misi. "
"Ini sudah sangat terlambat bahkan. "
Sudah seminggu Galih dan Kevin berada di mansion Isabella, kedua pasangan itu menemani wanita yang baru saja melahirkan ini. Pasalnya Justin ada perjalan bisnis yang tidak bisa lagi lelaki itu lewatkan, jadi dia meminta kedua orang itu menginap sampai dirinya kembali.
"Ge.... " panggil Isabella pelan. "Mm? "
"Apa-- Masev sering muncul? " tanyanya hati-hati.
Galih mengernyit, "tidak, kenapa? "
"Kau yakin? "
"Iya. " jawaban dari mulut lelaki itu terdengar ragu.
"Ada apa Isabella? Kenapa kau menanyakan Masev? " Tanya Kevin.
"Hanya ingin memastikan. "
"Entahlah dear, tapi aku merasa ada yang lain ditubuhku. "
"Maksudmu? "
"Beberapa hari yang lalu, aku terbangun dan saat itu aku merasa seperti baru saja berhubungan. Aku tau aku tidak mungkin melakukannya, karena aku tertidur, dan ka Kevin tidak mungkin selancang itu kan? "
Isabella terdiam matanya memandang lurus sahabatnya, sikapnya membuat Galih dan Kevin waspada. "Masev. "
Satu nama yang sejak tadi disebutnya, Galih tau itu bukanlah arti yang baik. Tapi? Ada apa dengan Masev?
Masev adalah Alter ego Galih selain Erick, dan sejujurnya Galih sendiri tidak begitu paham tentang sosoknya. Dia adalah sosok bocah 10 tahun yang gemar mengoleksi mainan dan hampir tidak pernah muncul. Kevin bahkan sampai menyiapkan ruangan khusus untuknya, karena bocah itu bisa menghancurlan seisi rumah jika dia keluar.
"Dia bukan sekedar bocah 10 tahun Ge! Berhati-hatilah, dia memang tidak akan mengambil alih tubuhmu seperti Erick, tapi bukan berarti kau tidak bisa waspada terhadapnya. " jeda sejenak sebelum Isabella kembali melanjutkan ucapannya.
"Erick lebih bisa dipercaya daripada dia, dia hanya akan keluar jika ada sesuatu yang menarik perhatiannya, itu kenapa dia tidak pernah terdeteksi sebelumnya. Dia pintar bersembunyi, Dark blue adalah warna asli matanya. Berhati-hatilah jika warna mata Ge berubah menjadi seperti itu. "
"Aku pernah melihatnya. " sahut Kevin
"Sekarang aku sadar, bukan Erick yang berbicara dengannya Love, tapi Masev. Awalnya aku kira itu karena efek lampu yang menyorot wajahnya. "
"Yatuhan... " Galih mendesah berat.
"Lalu siapa sosok itu dear? sosok bermata abu-abu ditubuh Ara. "
"Cloe."
"Cloe? "
"Mm, namanya Cloe. Dia pelukis, semua lukisan dikamar Ara adalah ciptaannya. "
"Dia yang Masev katakan? " Tanya Kevin memastikan. Isabella mengangguk.
"Apa dia menyukai warna merah dear? Sekian banyak lukisannya tidak ada satupun yang ingin aku lihat. "
"Dia menyukai darah Ge, dan dia menggunakannya sebagai cat. "
"WHAT THE---"
"Pelankan suaramu Love! " peringat Kevin, lelaki itu tidak ingin anak-anak mendengar umpatan sang istri.
"Dia kekasih Masev. Hubungan mereka sudah jauh Ge, yang kau rasakan saat itu adalah benar. Masev mengunjunginya sebulan sekali, dan setiap kali bertemu mereka melakukannya. "
"Kenapa? Kenapa hanya sebulan sekali. "
"Aku! Mereka menghindariku. "
"Hahah, ****! " Galih tertawa miris, bagaimana bisa dia tidak memahami tubuhnya sendiri.
"Love! " tegur Kevin.
"Kau bisa membunuhnya jika kau lebih kuat darinya Ge. "
"Bagaimana bisa? Aku bukan kau! "
"Ehmm, tapi tidak masalah, selama dia tidak melakukan hal buruk yang merugikanmu. "
"Hahh! Kenapa semuanya semakin rumit? "
.
Isabella kembali kekamarnya, bertepatan dengan ponselnya yang berbunyi. Bibirnya merahnya mengembang, suaminya menelpon. Jarinya dengan cepat menggeser tombol hijau, menjawab panggilan video tersebut mengarahkannya pada wajah sang anak yang terlelap.
Sudah seminggu, dan suaminya hanya akan menelpon jika merindukan putra bungsu mereka. Seperti sekarang contohnya. Wanita itu hanya bisa menahan sesak, tabiat suaminya yang sulit diajak bicara ketika marah kadang membuatnya jengah. Meski begitu, melihat wajah suaminya saja sudah cukup bagi Isabella.
20 menit berlalu, masih tidak ada suara dari keduanya. Justin yang fokus memandang putranya, dan Isabella yang fokus memandang suaminya. Mulutnya baru akan terbuka begitu panggilang langsung terputus.
Tangan wanita itu mengepal, ponselnya remuk membuat bayi mungil itu terkejut karena suara retakan yang keras. Fero menangis kencang, tapi tidak cukup mampu menyadarkan bundanya dari amarah. Galih dan Kevin berlari terburu-buru masuk kedalam kamar, dengan cepat Galih menggendong bayi mungil itu dan membawanya keluar.
Kevin tidak berani bertanya, lelaki itu mengerti apa yang terjadi pada saudara iparnya, melihat ponsel wanita itu remuk ditangannya.
....
T B C?
Bye!