
Pukul 4 sore
Operasi yang Carissa jalani akhirnya selesai. Pintu ruang operasi terbuka, Isabella keluar dari dengan seorang suster yang membawa peralatan untuk dibersihkan.
Semua orang bangkit dari posisi mereka. Jason, David, dan sang ibu, Lia mendekat. Mereka ingin tau bagaimana keadaan Carissa saat ini.
"Operasinya berjalan lancar, tidak ada kendala apapun selama operasi, dan untuk saat ini Carissa masih belum sadar. Kemungkinan besar Carissa tidak akan mengalami masa koma seperti sebelumnya"
Penjelasan dari Isabella membuat semua orang bernafas lega. Nyonya Lia memeluk putra sulungnya erat. Menangis haru karena sang putri bisa sembuh kembali.
Sin maju selangkah, berdiri disamping David. "Carissa akan kembali pulih seperti dulu kan, Ka Bella? " Tanya Sin pelan.
Isabella mengangguk kecil. "Dia akan pulih, selama dia mau mengikuti semua prosedur untuk kesembuhannya. Dia juga butuh dukungan besar dari orang-orang tersayang, untuk menguatkan mentalnya"
Dokter cantik itu menarik nafas pelan, lalu kembali melanjutkan perkataannya. "Carissa pasti akan mengalami masa dimana ia merasa lelah dan menyerah. Itu adalah titik terendahnya, dan ketika itu dia membutuhkan kita semua"
"Jadi sebelum kalian menguatkannya, kalian harus menguatkan diri kalian dulu. Aku juga akan mengatakan bahwa, akan ada kemungkinan dia tidak akan pulih sepenuhnya"
"Jika kalian ingin menemuinya, tunggu sampai dia dipindahkan keruang rawat. Kalau begitu aku permisi dulu, aku harus membuat laporan medisnya"
"Terimakasih Isabella" ucap nyonya Lia.
"Jangan berterima kasih, ini tugasku sebagai seorang kaka" Isabella tersenyum singkat, kemudian pamit dari sana menuju ruangannya.
30 menit kemudian
Ana keluar dari ruang operasi, melepaskan maskernya, dan tersenyum manis. "Carissa akan dipindahkan keruang rawat, jadi kalian bisa menunggunya disana".
"Apa Carissa sudah sadar Ana? " Tanya Sena.
"Untuk sekarang belum, ka Sena. Dia masih dalam pengaruh obat bius, kemungkinan 2 atau 3 jam lagi Carissa akan sadar" jelas Ana. Sena mengangguk kecil.
Ana menatap Sin yang tengah menatap sedih kearah pintu. "Sin.. " yang dipanggil menoleh. "Iya"
"Carissa berpesan, saat dia bangun, orang pertama yang harus dia lihat adalah kamu, lalu Ara, dan Aldre"
Sin menolehkan kepalanya, menatap tidak enak semua orang. "Tapi--"
"Ini permintaan Carissa" ucap Ana meyakinkan.
Sena tersenyum lembut, menghampiri Sin, mengelus lengan gadis itu. "Tidak apa-apa, Sin. Sudah lama kalian tidak menghabiskan waktu bersama, dan lagipula ada hal yang harus kau sampaikan pada Ara dan Carissa secara langsung kan? "
"Iya ka Sena"
"Ada apa dengan Sin, papah? " Ara menatap tuan Revano, meminta penjelasan tentang perkataan kaka sepupunya.
"Kamu akan tau nanti, little princess"
Carissa sudah dipindahkan keruang rawat. Sebagian dari sanak saudra dan teman-teman yang datang sudah berpamitan. Mereka tidak ingin mengganggu waktu istirahat Carissa, yang terpenting sudah melihat kondisinya pasca operasi.
Sin berdiri canggung disamping ranjang sahabatnya, disebelahnya Ara dengan perasaan senang memeluk erat lengan gadis itu. Aldre hanya diam meski sesekali melirik kesal.
Sin melirik Ara, berusaha melepaskan dekapan sahabatnya dilengan kirinya. "Ihhhhh, aku masih kangen tau Sin" protest Ara.
"Ya, aku juga. Tapi pacar kamu nyeremin. Kamu gak ngerasa aura disekitar kita buram? " cicit Sin pelan.
Ara menoleh sebentar pada Aldre yang tengah menatapnya tajam. Lelaki itu duduk disebuah kursi yang ia pindahkan tak jauh dari posisi sang kekasih.
"Ahhh, bodo amat. Aku ora urus" ujar Ara santai.
"Sin, banyakin berdoa. Kamu ketempelan itu" seru Steven. Ara mendelik kesal.
Sin tertawa kecil, "iya ka Steven. Aku lupa berdoa sebelum kesini tadi"
"Siiinnnnnn"
"Jangan menggodanya, sayang. Nanti ada yang menerkammu" timpal Aveline. Steven menyatukan telapak tangannya, meletakkannya diatas kepala, "ampun tuan" godanya pada Aldre.
.
Di ruangan Isabella
Isabella yang masih berkutat dengan laporan didepannya, sesekali memeriksa hasil rekap medis milik Carissa.
Justin yang duduk santai disofa, dengan Valeriw dipangkuannya kini menatap wajah serius sang istri. Sesekali lelaki itu akan menarik tipis bibirnya keatas.
"Apa kau sudah gila? Tersenyum sendiri seperti itu" Isabella mencibir sang suami yang terus menatapnya.
"Kau cantik jika sedang serius seperti itu, Bee" ucap Justin.
"Cih! Aku tau apa yang ada dalam pikiranmu! "
"Hahaha, ayolah sayang aku sudah terlalu lama berpuasa"
"Diamlah! Kau mengotori otak anakku"
Isabella menatap tajam suaminya, tapi kemudian merubah ekspresinya dengan cepat dan tersenyum manis. "Sure. Jika kau setuju untuk menjadikannya pajangan pintu kamar kita esok paginya"
"Dasar mafia! "
Isabella beralih menatap putri bungsunya yang sejak tadi menyimak pembicaraan kedua orang tuanya.
"Valerie tidak lelah sayang? " Tanya Isabella lembut.
Valerie mengedipkan matanya polos, lalu menggeleng. "Pulang lah, kasian dede Fero ditinggal sendiri. Nanti dia mencari ka Arinya"
"Apa bunda akan pulang? "
"Jika kondisi bibi Carissa membaik setelah sadar, bunda akan pulang"
"Baiklah, Arie mau bobo sama ka Jovan"
"Sure. Langsung mandi setelah sampai rumah, ok? "
"ok"
gadis kecil itu turun dari pangkuan sang ayah, berlari kecil menghampiri bundanya. Isabella menyambut putrinya, memeluknya sebentar, lalu memberikan ciuman dibeberapa sisi wajahnya.
"Kalau gitu aku pulang dulu, Bee. Telpon aku jika kau ingin pulang" ucap Justin mengecup singkat bibir Isabella.
"Hati-hati"
"Dadah, bunda"
.
Kembali ke ruang rawat Carissa.
Darren masuk kedalam ruangan dengan sebuah paper bag ditangannya. Lelaki tampan itu menghampiri Sin, menyerahkan bungkusan cokelat itu padanya.
"Mandilah. Jangan sampai saat Carissa bangun melihat mu yang berantakan seperti ini"
"Ikuttt" seru Ara.
Sena melotot, mencubit kecil lengan adik sepupunya itu. "Heh! Sin mau mandi bukan Shopping! " ucapnya kesal.
"Aaaaa ka Senaaaaa mahhhh" rengek Ara.
Steven tertawa, begitupun Jason dan yang lainnya. Sikap polos Ara kadang membuat mereka gemas.
Aldre hanya menggelengkan kepalanya, tidak mau berkomentar apapun. Ia sudah lelah menasihati kekasihnya.
"Sini duduk! Lama-lama kamu kaya ulet keket, nemplok terus"
Aldre menarik lengan Ara hingga gadis itu terjatuh dipangkuannya. Ara mencebikkan bibirnya, menggerutu tanpa suara.
Sin masuk kedalam kamar mandi dengan paper bag yang diserahkan Darren tadi.
"Nanti kamu mandi setelah Sin ya" ucap Sena pada Jason.
"Males ah, nanti aja"
"Kamu tuh belum mandi dari kemarin ka! "
Steven yang berada disebelah Jason melotot kaget. Dengan gerakan kilat menggeser tubuhnya menjauh.
"Jorok banget si Lo! " kesalnya. Kakinya menendang tubuh Jason.
"Kenapa si? Orang masih wangi" sahut Jason santai.
"Ieuwww. Ka Sena kok mau sih sama ka Jason? " Sin berteriak dari dalam kamar mandi.
"Peletnya kenceng" timpal Aveline.
"Yeeee, sembarangan. Itu namanya menerima apa adanya"
"Apaan! Orang kamu ngancem mau lompat kejurang" ucap Sena sinis.
"Sayaaaaannnnggggg"
"HAHAHAHAHA"
.....
T B C?
BYE!