Her And Bitter Memories

Her And Bitter Memories
146 | PERJALANAN PULANG



Dua hari kemudian.


Hari ini tepat pukul 11 siang, Sin, Isabella, dan Darren akan kembali ke LA. Kapal pesiar milik suami Isabella baru tiba setengah jam yang lalu.


"Sudah selesai?" Isabella bertanya pada Sin yang baru saja keluar membawa beberapa tas ditangan dan pundaknya.


"Sudah. Sisanya dibawa ka Darren" jawab Sin.


"Banyak juga barangmu"


"Aku membeli cukup banyak barang saat tiba disini ka Bella" ucap Sin.


"Setidaknya jangan hanya bicara. Bantu aku!" Sahut Darren yang kesulitan membawa beberepa barang juga sebuah koper besar ditangannya.


"Ppffft wle" Isabella meleletkan lidahnya pad Darren,kemudian berjalan terlebih dahulu meninggalkan keduanya.


"Wanita menyebalkan"


"Hihihi. Sini kopernya ka"


"Tidak usah nanti kamu keberatan"


"Tidak ko" Sin mengambil koper miliknya dari tangan Darren, meletakkan salah satu tas ditangannya keatas koper.


"Loh? Iya juga. Kenapa gak kepikiran tadi"


"Huh kaka payah"


"Heh! Sembarangan aja"


"Kekeke"


Setelah berpamitan dengan seluruh warga kampung, Sin, dan Darren naik kekapal. Isabella sudah lebih dulu berada disana.


Dua orang Cruise Staff (staff kapal pesiar) menghampiri Darren dan Sin, mengambil alih barang-barang keduanya untuk dibawa kedalam kamar yang mereka tempati.


Sin menatap takjub sekelilingnya. Pertama kali baginya naik kapal pesiar pribadi sebesar ini.


Bukannya tidak pernah, tentu Sin pernah menaiki kapal pesiar. Tapi ini pertama kalinya bagi Sin naik kapal pesiar pribadi. Biasanya ia menaiki kapal pesiar umum bersama para penumpang yang lain.


Darren sungguh tidak habis pikir dengan sahabatnya ini. Jarak pulau tempat Sin tinggal dengan kota LA tidaklah jauh. Bahkan tidak memakan waktu dua hari untuk bisa sampai kesini. Bisa-bisanya Isabella justru membawa kapal pesiar sebesar ini kesini.


"Apa?" Seru Isabella angkuh.


"Kau memang gila. Aku tidak mengerti seberapa besar kadar kewarasanmu" seru Darren kesal.


"Itu bukan urusanmu"


"Kau membawa kapal pesiar sebesar ini untuk apa?! Dasar gila!"


Isabella berdecak keras, tak terima diomeli seperti itu. "Namanya juga buru-buru. Mana sempat aku berpikir yang lain?"


"Kubur saja otak pintarmu itu!" Cibir Darren.


"Nyenyenye. Bawel!"


Pukul 4 sore, kapten kapal baru memberitahukan bahwa ada sedikit masalah dalam perjalanan, jadi kemungkinan besar pagi buta nanti mereka baru akan tiba di pelabuhan.


Saat ini Isabella tengah bersantai sambil menatap pemandangan laut sore diarea sundeck seorang diri. Topi hitam dan kacamata hitam menghiasi penampilan wanita cantik itu sore ini.


"Kau seperti remaja galau yang tengah menanti sunset untuk meredakan kesedihan" celetuk Darren yang mengambil duduk disebelah Isabella.


"Ck! Masa-masa itu sudah terlewat" Isabella membalas dengan ketus.


"Ngomong-ngomong berapa harga kapal ini?" Tanya Darren tiba-tiba


"Kau bercanda?" Dengan spontan Isabella melepaskan kacamata hitamnya dan menatap sahabatnya itu dengan shock.


"Kenapa?"


"Apa kau ingin membelinya untuk istrimu?"


"Aku hanya bertanya"


"Sialan! Aku hampir jantungan bodoh"


"Kekekek lebay"


"Jadi?"


"Aku tidak ingat berapa dia membelinya, tapi yang ini hanya beberapa dari kapal kecil miliknya. Kau belum melihat yang paling besar, rasanya aku ingin menenggelamkan kapal itu" Isabella memijat pelipisnya yang terasa pening seketika.


Darren berdecak. "Suamimu memang gila. Untuk apa dia mengoleksinya sebanyak itu jika jarang digunakan?"


"Kau tau dia suka mengoleksi sesuatu hanya untuk kesenangannya. Aku bahkan tidak sudi mengeluarkan uang sebanyak itu hanya untuk hal-hal seperti ini" Isabella sudah kehabisan cara untuk menceramahi suaminya yang sungguh royal pada hal apapun. Apalagi jika ada yang memalaknya cuma-cuma, seisi dompetnya sekalipun akan dia keluarkan.


"Kau bisa bertanya pada ka Justin, dia lebih tau tentang hal-hal seperti ini"


"Aku ragu, takut aku masih harus mengumpulkan lebih banyak"


Isabella mengibaskan setelah tangannya. "Jika kau bertanya padanya, kau bahkan tidak perlu mengeluarkan uang. Karena dia pasti akan langsung memberikan satu sertifikat kapal miliknya padamu, atau kemungkinan yang lain dia akan membelikan yang baru untuk orang tuamu" ucapnya sinis.


Darren tertawa cukup keras. "Kau benar juga, harusnya aku tidak perlu khawatir"


"Kakaaaa. Aku dengar yang kalian bicarakan, boleh aku yang minta pada ka Justin?" Seru Sin dengan wajah penuh harap.


Isabella kembali berdecak keras."ck! Bocah ini. Kau pasti akan meminta yang tidak-tidak"


"Ada apa sebenarnya dengan kalian yang senang sekali memoroti suamiku?"


"Hihihihi. Soalnya kalau minta sama ka Justin tuh gak banyak effort ka, sekali tedeng langsung dapet"


"Pemerasan!"


"Hahahahaha"


*


*


"Apa ka Bella masih belum pulang?" Tanya Ara pada Galih yang siang ini bertugas menjaganya.


Galih yang tengah fokus mengupas buah mendongak, kemudian menggeleng kecil. "Belum, little princess. Ka Galih tidak tau kakamu itu pergi kemana, tapi ka Justin bilang dia membawa satu kapal pesiar kecil milik ka Justin"


"Hah? Kenapa ka Bella membawa kapal pesiar ka Justin?"


"Entahlah. Ka Justin sudah menghubungi kapten kapal, tapi beliau tidak mau memberitau dimana mereka berada. Sepertinya sudah mendapat ultimatum dai Isabella"


Bibir Ara mengerucut dengan kening yang mengkerut dalam. Ibu muda itu berpikir keras kemana sekiranya sang kaka pergi.


"Ouh. Apa ka Galih bisa menghubungi ka Darren? Aku kangen Sin. Aku mau ngasih tau kalau dia udah punya keponakan baru sekarang"


Galih menyunggingkan senyum kecil. "Maaf ya, tapi ka Darren sedang memgunjungi Sin saat ini"


Ekspresi wajah Ara berubah menjadi kesal seketika. "Iiihhh, tuhkan ka Darren gak bilang lagi sama Ara" Ara bersidekap dada, menekuk wajahnya karena kesal.


"Hahaha. Ka Darren juga lupa jadwal keberangkatan kapalnya, sayang. Jadi dia buru-buru pergi dan memberitau ka Galkh saat sudah berada diatas kapal"


"Tapikan bisa memberitau jauh-jauh hari"


"Duuuhhhh little princess ngambek. Sudah ya jangan marah lagi, nanti kita hubungi ka Darren oke? Sekarang habiskan dulu makan siangnya"


Ara menurut, menerima suapan dari Galih. Ibu muda itu mengunyah makanannya serampangan, wajahnya masih tertekuk kesal.


"Gemes banget sih kalau kaya gitu"


"Iiissshhh ka Galih mah"


Selanjutnya hanya hening yang melingkupi suasana. Ara fokus dengan makan siangnya, dan Galih yang fokus menyuapi Ara.


"I'm coming" Carissa datang bertepatan dengan Ara yang telah menghabiskn makan siangnya. Dibelakangnya terdapat Sena dan si cantik Vania digandengannya.


"Hai sweetie" sapa Ara pada Vania yang dibalas lambain tangan dan senyum manis gadis kecil itu.


"Vania mau lihat dede bayi" ucapnya dengan suara lucu.


"Boleh. Tapi dede bayinya lagi bobo jadi belum bisa diajak main"


Vania mendekat kearah inkubator. Menatap kedua bayi mungil itu dari dekat. "Seperti Jieun waktu baru keluar ya, mom" Vania menoleh pada sang mommy.


Sena mengangguk. "Iya sayang" kemudian mengalihkan pandangannya pada adik sepupunya yang masih berbaring di brangkar.


"Bagaimana keadaanmu Ara?"


"Jauh lebih baik, ka. Tapi belum bisa kemana-mana"


"Jahitanmu masih belum kering, tunggu sampai benar-benar kering maka kau sudah bisa berguling ditangga"


"Aaahhh kaka mah"


"hahahahah"


......


T b c?


Bye!