Her And Bitter Memories

Her And Bitter Memories
14. Ngambek



Taman kota


"Masih sedih?" Jeno meraih salah satu tangan Erick yang bebas, membawanya ke depan dada dan menggenggamnya dengan erat.


Erick mengangguk kecil. Sudah dua tahun dirinya tak bertemu sepupu kesayangannya, sudah selama itu juga Geo tak pernah pulang. Bahkan untuk menghubunginya saja rasanya begitu sulit, padahal banyak hal yang ingin dirinya ceritakan pada Geo.


"Geo hanya butuh waktu. Nanti jika sudah membaik kita hubungi dia ya" ucao Jeno lembut.


"Bohong! Geo gak pernah mau angkat telpon siapa pun kecuali paman Kevin" kesal Erick.


Jeno menjilat lidahnya yang terasa kering, dirinya kehabisan kata untuk membalas perkataan kekasihnya. Jika menyangkut tentang Geo dirinya tak bisa sembarangan berucap, atau ia akan mendapat masalah.


"Kita susul Geo yuk, Jen" ajak Erick tiba-tiba. Jeno melebarkan matanya setelah mendengar perkataan kekasihnya itu.


"Kamu gila ya?"


"Kok aku dikatai gila?"


"Ya emang gila. Gimana cara kita kesana kalau passport sama visa gak punya!"


"Ya kan kamu punya, nanti aku tinggal bikin. Yaya ya sayang ya"


Jeno menggeleng kencang menolak keras ajakan Erick. "Jangan macem-macem ya. Kamu mau dapet masalah? Nanti kalo ayah sama bunda aku tau anaknya kabur bisa mati aku"


Wajah Erick berubah sedih, bibirnya mengerucut. Memangnya apa salahnya jika ia ingin bertemu saudaranya? Kenapa tidak boleh?


"Sayang, Geo pasti pulang kok. Percaya sama aku kalau dia akan pulang dalam waktu dekat. Sebentar lagi kan liburan sekolah"


"Kalo Geo gak pulang gimana?"


"Mmm?"


"Aku block nomor kamu sebulan!"


"HEH!! Sembarangan aja kalo ngomong "


"Biarin wle"


Erick menyenderkan kepalanya pada bahu Jeno, matanya terpejam mencoba melepaskan segala beban yang menumpuk di bahunya. Jeno senantiasa mengelus lembut rambut hitam kesayangan nya, memberikan kecupan-kecupan kecil di sana.


"Jen" panggil Erick lirih. "Ya" jawab Jeno.


"Suatu saat nanti, apa kamu akan pergi juga kaya Geo?" tanya Erick tiba-tiba yang membuat Jeno tersentak mendengarnya.


Tidak ada jawaban dari Jeno untuk beberapa saat, sampai akhir nya cowok itu mulai membuka suara. "You know the answer" Jeno berucap pelan.


Erick menghela nafas berat. "Kamu akan kembali kan?"


"Tentu saja. Tunggu aku ya, sayang"


"Pasti"


Jeno kembali mencium puncak kepala Erick, tapi kali ini lebih lama dari sebelumnya. Pertanyaan Erick barusan cukup membuatnya gelisah. Jeno yakin kekasihnya ini pasti akan marah jika mengetahui hal yang ia rahasiakan saat ini.


Cukup lama mereka berdiam diri di taman hingga sore menjelang, bahkan hingga sunset mulai terlihat. Erick bahkan melupakan bahwa dirinya belum meminta izin atau bahkan tidak meminta izin pada kedua orang tuanya untuk pergi setelah pulang sekolah, mereka jelas pasti akan mencarinya.


"Pulang yuk" ajak Jeno. Erick menggeleng, "gak mau. Aku mau disini aja" tolak Erick cepat.


"Kamu tidak meminta izin pada mamah dan papah kan? Ini sudah sore sayang mereka pasti nyariin kamu. Dan sejujurnya papah terus menghubungi ku sejak tadi"


Erick semakin merengut setelah mendengar perkataan Jeno. Dirinya benar-benar tidak ingin pulang ke rumah, lebih tidak ingin bertemu dengan kakek dan neneknya.


"Aku mau nginep di rumah kamu aja"


"Sayang..."


"Aku gak mau pulang! Kalau kamu anter aku, aku bakal kabur setelah kamu pergi" ancam Erick sambil menatap tajam kekasihnya.


Jeno berusaha menahan emosinya agar tidak kelepasan membentak sang kekasih. "Kita pulang, aku antar kamu pulang. Aku tunggu sampai kamu tidur" ucap Jeno mutlak.


Erick tersenyum senang mendengar perkataan sang kekasih, dengan semangat menganggukan kepalanya tanda setuju untuk pulang.


Skip time


Tepat sebelum pukul 6 sore, Jeno dan Erick tiba di kediaman keluarga besar Skholvies. Erick menggenggam erat tangan Jeno tidak mau melepaskannya walau hanya sedetik pun. Keduanya melangkah masuk ke dalam rumah.


"Erick" pekik Ana begitu melihat putra sulungnya sudah pulang. "Oh ya tuhan, sayang. Kamu darimana aja ? Mamah sama papah khawatir sama kamu" seru Ana dengan ekspresi cemas yang begitu kentara.


Erick tidak menjawab, remaja itu hanya diam. Pandangannya menyorot kesal pada sang kakek yang juga tengah menatapnya.


Daniel yang berada di sebelah sang ayah hanya bisa memaklumi sikap sang putra, bagaimana pun Erick berhak marah pada kakeknya dan Daniel tidak akan repot membujuk putranya itu.


"Maaf aku membawa Erick pergi tanpa izin, aunty. Anaknya sedang ngambek, aku jadi tidak berani menolak" ucap Jeno. Ana tersenyum maklum, mengerti bagaimana perasaan putranya saat ini. "Tidak apa-apa Jeno"


"Kau akan menginap Jeno?" kali ini gantian Daniel yang bertanya.


"Tid--"


"Iya" dengan cepat mulut Jeno di bungkam oleh Erick. Jeno melotot pada kekasihnya itu, namun Erick tidak perduli. "Jeno akan menginap dan dia akan tidur dengan ku" lanjutnya lagi.


"Baiklah. Naiklah ke kamar dan bersihkan tubuh kalian sebentar lagi waktunya makan malam"


Tanpa menjawab perkataan sang papah, Erick dengan cepat menarik tubuh Jeno menuju lantai atas, lebih tepatnya menuju ke kamarnya.


"Perjanjian kita tidak seperti itu sebelum nya" Jeno melayangkan tatapan protesnya ke arah sang kekasih.


Erick merengut kesal. "Aku mau kamu nginep, pokoknya harus nginep!"


"Sayang"


"Gak!"


"Kalau begitu telpon bunda dan minta izin padanya" Jeno menyerahkan ponselnya pada Erick, meminta sang kekasih untuk menghubungi bunda nya.


Erick menatap ragu benda pipih itu, dirinya jelas tak berani meminta izin pada aunty Bella. Wanita cantik itu begitu ketat pada anak-anak nya, apalagi soal hubungan Asmara dan jelas pasti tidak akan mengizinkan Jeno untuk menginap.


"Kenapa? Gak berani? Payah"


"Ish!"


Drrrttt drrrrttt


Bertepatan dengan itu ponsel Jeno berbunyi, nama sang bunda tertera di layar ponselnya membuat Jeno dan Erick kompak saling tatap.


"Iya bunda"


"Where are u son?"


"Skholvies mansion"


"Hm? It's time to dinner"


"Eee... Bunda--"


"No!"


"Jeno belum mengatakan apa pun"


"I said no. Home now, bunda tunggu oke"


"Tapi Erick ngambek bunda, dia ngancem mau kabur kalau Jeno pulang"


"It's not a reason dan bunda tidak menerima alasan apa pun"


"Give me a 30 minutes "


"Sure"


Panggilan terputus, Jeno menatap Erick menaikkan sebelah alisnya. "How?"


Bibir Erick mencebik melengkung sedih. "Mau sama kamu" cicitnya kecil. Jeno kembali menghela nafas untuk kesekian kalinya hari ini. "Sayang..."


"Hiks hiks hiks"


"Oh tuhan"


"Fine. Kamu ikut aku pulang, tapi mandi dulu oke"


"Oke"


Brukk!


"Astaga! Pelan-pelan sayang"


"Hehehe"


****


See you!