
Dua hari kemudian
Tepat hari ini, satu jam dari sekarang, Carissa akan melaksanakan operasi cangkok tulangnya. Semua orang berkumpul guna memberi dukungan padanya.
Tuan Revano bahkan meminta pihak rumah untuk mengosongkan ruang operasi dan lantai dua untuk Carissa, karena seluruh keluarga dan teman yang datang untuk melihat Carissa sebelum dipindahkan.
Perawat memeriksa kembali kondisi Carissa sebelum dibawa keruang operasi.
Isabella sudah siap dengan pakaian khususnya, begitupun tim dokter dan para perawat. Ana istri Daniel, juga ikut andil dalam operasi sebagai assistant dokter.
Selain dokter kandungan, Ana juga mengambil ahli bedah, tapi ia hanya akan ikut dalam operasi untuk menjadi assistant dokter seperti saat ini.
"Ka Darren belom dateng? " Tanya Sena pada sang suami. Pasalnya hanya lelaki itu yang belum hadir saat ini.
Jason menggeleng, "dia bilang mau mengunjungi Sin dulu sebentar" Sena mengangguk kecil sebagai jawaban.
Salah satu perawat menghampirinya, "permisi nyonya, tuan. Nona Carissa akan kami bawa sekarang ke ruang operasi" ucap sang perawat.
Jason dan Sena mengangguk, "baik sus" jawab Sena.
Para perawat mulai mendorong keluar ranjang Carissa. Membawanya masuk kedalam lift. Kamar rawat Carissa berada dilantai empat, sedangkan ruang operasinya berada dilantai dua. Berbeda dengan ruang operasi sebelumnya saat Carissa dibawa kesini.
Di lobi Rumah sakit.
Dua orang berbeda gender dan usia, berlari terburu-buru kedalam rumah sakit. Keduanya berhenti berlari begitu tiba di depan lift. Antrian yang panjang membuat mereka gelisah.
Salah satu dari dua orang tersebut mendengus kesal. Tubuhnya bergerak acak. "Lamban!! " gumamnya kesal. Pandangannya teralih pada tangga disebelah lift. Dengan cepat berlari menaiki tangga.
"Sin!! " teriak sang lelaki yang tak lain adalah Darren. Sin menaiki tangga dengan terburu-buru, gadis itu berkali-kali hampir terjerembab.
Darren mengejar panik sang adik. Dia sudah panik karena takut terlambat, ditambah semakin panik dengan kelakuan adik satu-satunya itu.
Ting
Bertepan dengan Sin yang tiba dilantai dua, pintu lift terbuka. Seorang perawat menarik keluar ranjang pasien.
Gerakan Sin terhenti, menatap dengan seksama siapa yang di bawa perawat tersebut.
"Carissa... " lirihnya. Matanya berkaca-kaca melihat kondisi sahabatnya. Penyelasan kembali memenuhi hatinya. Kondisi sahabatnya jauh diluar bayangannya.
Ketika mereka sedang video call, Carissa tidak pernah membiarkan Sin melihat keadannya yang sesungguhnya, Sin hanya mengetahui luka pada kepala dan lengan sahabatnya itu.
Carissa menoleh merasa namanya disebut. Kedua netranya berbinar senang, "Sin!! " serunya kencang. Mengalihkan atensi semua orang. Para perawat yang paham memberi waktu sebentar untuk keduanya.
Dengan perlahan Sin mendekat, air matanya luruh. Tidak menyangka bahwa kondisi sahabatnya seburuk ini, dan itu semua karena dirinya.
"Car... " nafas Sin tercekat. Air matanya mengalir semakin deras.
"Sin, kamu dateng? Aku seneng banget" seru Carissa dengan bahagianya. "Tapi kok, kamu bisa keluar? "
"Ka Darren minta izin pada ketua pusat rehab, untuk membawa Sin kesini. Dan karena Sin bersikap baik selama disana, maka mereka mengijinkannya, dan memberi waktu tiga hari untuk Sin menemani kamu" jelas Darren.
Senyum Carissa semakin melebar. Tangannya bergerak pelan, memberi kode untuk Sin memeluknya. Sin mendekat, memeluk tubuh sahabatnya.
"Kamu pasti sembuh, Car"
"Mm, doain aku ya"
"Pasti"
Ana melangkah menghampiri mereka. "Sudah waktunya untuk masuk ruang operasi, Carissa" ucap Ana menyadarkan mereka.
Carissa mengangguk. "Iya ka Ana. Jangan kemana-mana sampai operasiku selesai ya, Sin" Sin mengangguk kecil.
Ana menatap para perawat, mengangguk kecil. Empat orang perawat tersebut kembali mendorong ranjang Carissa menuju ruang operasi.
Sena dan Jason yang sejak tadi hanya diam, tersenyum kearah Sin. Jason menepuk pelan pundak adik sahabatnya, kemudian kembali melanjutkan langkahnya.
Sin tidak mengalihkan sedikitpun pandangannya dari Carissa yang sudah sepenuhnya masuk ruang operasi. Kini semua orang menatapnya, kedua orang tuanya bahkan hadir.
Gadis itu meremat tangannya gugup. Rasa takut menyerangnya seketika. Darren merangkul sang adik, guna menguatkannya.
"Tidak apa, sayang. Ayo"
Dengan ragu, Sin melangkah bersama Darren disampingnya. Kepalanya menunduk, tidak berani menatap siapapun yang ada disana. Bahkan kedua orang tuanya yang tidak memandangnya sedikitpun.
Sin merasa ia ingin kembali menangis sekarang. Mengutuk dirinya yang begitu bodoh. Darren menarik lembut tubuh sang adik untuk duduk, kemudian memeluknya erat.
"Jangan khawatirkan apapun, oke? "
"Mm"
.
Dua jam berlalu
Tidak ada tanda-tanda siapapun akan keluar dari dalam sana. Semua orang menunggu dengan gelisah. Bahkan Sin tidak berenti merapalkan doa dihatinya.
Diposisi yang tidak terlalu jauh. Ara menatap sedih kearah Sin. Ia ingin sekali memeluk sahabatnya, tapi Aldre tidak melepaskan genggamannya sedikitpun. Lelaki itu masih belum bisa mengendalikan emosinya dengan baik.
Ia sesekali mendengus sebal dengan tingkah menyebalkan kekasihnya itu. "Berenti kesal padaku, toh dia tidak akan menghilang" ujar Aldre santai. Ara hanya melirik sinis lelaki itu.
Sin yang sejak tadi terpejam membuka matanya saat menyadari ada sesorang yang duduk disebelahnya.
Sofia tersenyum kearah Sin, mengelus puncak kepala gadis itu dengan sayang. "Tadi pagi Sin sarapan? Wajah kamu pucat, sayang" tanyanya lembut.
Sin menggeleng kecil, ia memang tidak sempat memakan bekal yang sang kaka bawa saking paniknya.
"Kita makan dulu yu. Sudah waktunya jam makan siang" ajak Sofia.
"Gak usah tante, Sin disini aja" jawab Sin lemas.
Sofia bangkit, berjalan kembali ketempatnya sebelumnya. Tidak lama untuk nyonya besar Courtland itu kembali ke tempat Sin.
Tangannya terulur, menyerahkan kotak makan dan botol minum berisi cokelat kocok kepada Sin. Persis seperti yang Sin minta kemarin.
"Makanlah sayang. Kamu membuat mereka khawatir" tunjuknya pada orang-orang yang kini menatap mereka.
"Terimakasih"
"Jangan berfikir bahwa kami membencimu. Semuanya sudah berlalu, kami sudah memaafkanmu, sayang. Begitupun orang tuamu, mereka hanya membutuhkan sedikit waktu untuk menenangkan emosi mereka. Jadi jangan ragu untuk berbicara dengan kami, ya"
"Iya tante. Terimakasih"
"Sama-sama. Sekarang makanlah"
Dengan gerakan pelan, Sin membuka kotak makan. Gadis itu tertegun untuk sesaat, kepalanya kembali mendongak menatap Sofia.
"Ini--"
"Ara yang buat. Tadinya dia mau nitipin ini ke Darren untuk kamu, tapi kakakmu pergi tanpa pamit. Jadi dia membawanya untuk bekal makan siang, dan kebetulan kamu hadir disini sekarang" jelas Sofia sambil menoleh pada sang putri yang tersenyum kearah mereka.
Sin tersenyum bahagia. Tanpa banyak kata mulai melahap makanan kesukaannya yang dibuat sahabatnya.
Ara yang melihat dari kejauhan tersenyum lembut. Ada rasa bahagia yang mengalir dihatinya melihat Sin menikmati bekal buatannya dengan sangat lahap.
"Pelan-pelan, Sin. Tidak akan ada yang mengambilnya darimu" tegur Darren. Lelaki menggeleng melihat sang adik yang seperti orang kelaparan.
Sin cemberut, "udah lama aku gak makan ini, kaaaaa" protesnya.
"Iya deh iya"
.....
T B C?
BYE!
Bekal yang dibuat Ara untuk Sin