Her And Bitter Memories

Her And Bitter Memories
21. Pulang?



"Astaga!!"


Riyani mendapatkan kejutan tak terduga saat dirinya membuka pintu mansion. Niat hendak ingin keluar, ia justru malah mendapati seseorang berdiri di depan pintu dengan sebuah tas besar di punggungnya.


"Selamat siang, nenek" sapa sosok itu dengan senyum manisnya.


"YATUHAN GEO!!!" Riyani menjerit kencang. Sosok itu, Geo tertawa dengan reaksi sang nenek.


"Kamu? Kenapa gak bilang kalau mau pulang?! Kamu bikin nenek jantungan" seru Riyan kesal. Tapi tetap maju untuk memeluk cucu sulungnya yang akhirnya setelah sekian lama memutuskan untuk pulang.


"Yatuhan cucuku. Akhirnya kamu pulang sayang hiks hiks"


Geo balas memeluk sang nenek. Dalam hati merasa begitu bahagia karena akhirnya ia bisa mendapat pelukan dari neneknya.


"Geo sehat kan nak?" tanya Riyani. Geo mengangguk. "Sangat sehat. Nenek sehat kan?"


"Jauh lebih sehat setelah melihat mu"


Riyani tau cucunya itu berbohong. Geo jauh lebih kurus dari saat terakhir ia melihatnya. Dan Riyani bisa menebak apa yang membuat cucunya ini menjadi seperti ini.


"Ayo masuk. Papah mu pasti senang kamu pulang"


Geo mengangguk, keduanya lantas berjalan masuk ke dalam mansion.


Riyani membawa Geo menuju ruang makan karena semua orang saat ini sudah berkumpul di sana. Mengingat waktu sudah menunjukan saatnya makan siang.


Di depan pintu ruang makan, Geo menghirup nafas berat. Menyiapkan dirinya sebelum bertemu sang kakek.


"Geo takut ketemu kakek ya?" Riyani jelas tau bagaimana perasaan Geo saat ini. Geo tersenyum kemudian menggeleng. "Tidak nenek. Hanya rasanya begitu merindukan tempat ini"


Riyani memukul pelan lengan cucunya itu. "Mangkannya pulang"


"Hehehe"


Keduanya masuk ke dalam ruang makan, pemandangan pertama yang Geo dapat adalah sang papah yang sedang menata makanan diatas meja. Dan sepertinya pria itu tak menyadari kehadirannya.


"Ayo hampiri papah mu" bisik Riyani.


Geo melangkah pelan, berusaha tidak menimbulkan suara. Di belakangnya Riyani berdiri dengan mata berkaca-kaca. Galih begitu merindukan putranya, dia pasti menangis melihat putranya pulang.


"Papah" panggil Geo lembut.


Galih terdiam, gerakannya terhenti, tubuhnya mematung kaku, matanya perlahan mulai berkaca-kaca. Dirinya sangat mengenali suara ini, suara putra sulungnya yang sudah dua tahun tak di temuinya.


"Papah" panggil Geo lagi.


Galih merasa dadanya begitu sesak, ia merasa putra sulungnya ada disini. Dengan cepat kepalanya menoleh ke arah pintu, air matanya luruh begitu saja ketika melihat bahwa putranya benar-benar berdiri di sana.


"Papah" lagi, Geo kembali memanggil sang papah.


Galih dengan cepat berlari, memeluk erat sosok yang serupa dengan suaminya itu. Geo balas memeluk sang papah tak kalah erat. Menaruh kepalanya pada pundak lelaki yang paling di cintainya itu.


"Ka Geo!!" jerit Kiransa. Melakukan hal yang seperti yang di lakukan sang papah. Berlari dan memeluk erat sang kaka.


"Yo!!" Keano juga melakukan hal yang sama. Keempatnya berpelukan erat seperti teletubies.


Galih menangis terisak, rasa rindunya meledak keluar. Akhirnya setelah dua tahun, dirinya bisa kembali melihat putra sulungnya dan melepaskan rindu yang selama ini menggebu.


Galih melepaskan pelukannya menatap lamat wajah Geo yang sedikit berubah. "Kamu kurus banget, sayang? Geo gak makan teratur ya?" Tanyanya dengan sorot mata penuh kesedihan. Sisa-sia air mata masih menggenang di pelupuk matanya.


Geo tersenyum menggeleng kecil sambil mengusap lembut pipi chuby sang papah. "Geo banyak tugas akhir-akhir ini. Banyak gerak mangkannya jadi kurus. Geo makan teratur kok pah, tapi emang gak banyak. Tapi papah jangan khawatir Geo masih suka ngemil ko"


Galih menangkup wajah Geo dengan kedua telapak tangannya, seketika teringat perlakuan sang ayah beberapa minggu lalu pada putranya.


"Son, salim dulu pada paman dan bini juga kakek mu" ucap Kevin yang mengalihkan atensi ke empatnya. Geo mengangguk tanpa sadar menarik nafas berat.


Kiransa masih memeluk erat sang kaka, gadis kecil itu enggan melepaskan pelukannya.


"Kiram, lepas dulu sayang. Kaka gak bisa jalan" pinta Geo dengan suara lembut. Kiran menurut melepaskan pelukannya tapi beralih menggenggam erat lengan Geo.


Geo berjalan ke arah paman dan bibinya, menciumi tangan mereka satu persatu. Aldre bahkan memeluk erat tubuh keponakannya itu.


Kini hanya tersisa sang kakek, Pandangan Geo beralih pada Jevin yang juga menatapnya. Anggukan kecil Kevin berikan meyakinkan hati Geo untuk melangkah maju.


"Kakek.." Panggil Geo lirih. Rayyan mendongak menatap cucunya, menampilkan senyum simpul yang tak pernah Geo duga akan ia dapatkan.


"Selamat datang, nak" ucap Rayyan dengan suara halus. Geo terkejut begitupun Galih dan yang lainnya. Jika ia tak bisa menahan diri, Geo yakin air matanya pasti sudah menetes.


"Terimakasih kakek"


"Duduklah, kau pasti lelah dan lapar setelah menghabiskan perjalanan yang cukup panjang. Setelah makan siang baru beristirahat di kamar ya"


"Iya kakek"


Galih menatap sang ayah dengan sorot sulit di baca. Dirinya sangat mengenal bagaimana tabiat ayahnya itu. Galih tau pasti ada alasan yang mendasari sang ayah bisa selembut ini pada putra sulungnya.


Setelah makan siang.


Kevin mengantar Geo beristirahat di kamarnya. Keduanya masuk ke dalam kamar bernuansa hitam itu beriringan.


"Son"


"Aku tau. Aku tidak sebodoh itu daddy. Sejujurnya, aku tidak ingin menginjakan kaki ku lagi di rumah ini" ujar Geo dengan nada dingin. Sorot matanya berubah tajam, seperti menahan amarah yang hampir meledak.


"Bertahan sedikit lagi untuk papah mu, ya? Daddy disini bersama mu"


"Hm"


Geo berbalik kini dirinya berdiri berhadapan dengan Kevin. "Maaf jika aku harus membenci saudara ku sendiri daddy"


"Daddy mengerti, son. Daddy tak akan menghentikan mu"


"Terimakasih"


"Istirahatlah. Papah mu akan kesini setelah menyelesaikan pekerjaannya"


Geo kembali mengangguk, meletakkan tas miliknya ke atas sofa. Lalu mulai merebahkan dirinya di atas ranjang setelah menyimpan sepatu yang dikenakannya di lantai.


"Sweet dreams, son"


****


See you!