
Geo sampai kembali ke sekolah tepat pukul 5 sore. Karena jalanan yang macet membuat Geo sedikit terlambat untuk pulang dari waktu yang di tentukan.
"Aisshhh, keasikan jalan jadi kejebak macet" keluh Geo begitu dirinya keluar dari taksi.
"Geo"
Langkah Geo terhenti ketika telinganya menangkap ada sebuah suara yang memanggil namanya. "Kaya ada yang manggil" gumam Geo.
"Ah bodo ah" ucapnya kembali melanjutkan langkah.
"Geo" lagi, namanya kembali di panggil membuat Geo mengurungkan niatnya untuk masuk.
"Geo" di panggilan ketiga Geo akhirnya memutuskan untuk membalikkan tubuhnya untuk melihat siapa gerangan yang terus memanggil namanya.
Begitu dirinya berbalik, tubuh Geo langsung membeku tanpa bisa mengeluarkan sepatah katapun. Sosok yang memanggil namanya adalah sosok yang selama ini dirinya hindari dan tidak pernah ingin dia temui.
"Hai" senyum lebar terbit di bibir sosok tersebut. Perlahan sosok yang lebih tinggi darinya itu mendekat.
Kening Geo mengkerut wajahnya murung pertanda bahwa ia tidak suka melihat sosok yang kini berdiri tegak di hadapannya.
"Akhirnya ketemu juga. Abang udah nunggu tiga jam disini karena penjaga bilang kamu sedang pergi keluar" ucap sosok yang memanggil dirinya sendiri dengan sebutan abang.
"Ngapain abang kesini?" Tanya Geo dengan nada tak suka yang begitu kentara.
"Abang kangen kamu. Kenapa kamu selalu menghindar dari abang?" Tanya Jeven.
"Gak ada alasan" jawab Geo cepat. Kening Jeven mengkerut. "Gak ada alasan? Bagaimana bisa kamu menghindari abang tanpa alasan" seru Jeven dengan nada yang sedikit meninggi.
Kepala Geo memiring ke kanan dengan satu alis yang terangkat. "Memangnya semua butuh alasan?" Tanyanya dengan ekspresi yang cukup menyebalkan menurut Jeven.
Jeven menghembuskan nafasnya kasar, matanya terpejam sebentar sebelum kembali terbuka. "Kamu gak mungkin menghindari abang tanpa penyebab dan abang ingin tau apa penyebabnya"
"Aku muak melihat wajahmu" jawab Geo santai yang mampu membuat Jeven terperangah.
"Geo--"
"Pergilah sebelum aku menelpon bunda bahwa kau lancang datang ke sini" ujar Geo yang mulai muak dengan kehadiran Jeven.
"Abang gak akan pergi sebelum abang dapat jawabannya" lanjut Jeven yang mulai keras kepala.
Geo memutar bola matanya malas, tidak mau lagi memperdulikan orang dihadapannya dan memilih berbalik masuk ke dalam sekolah. Namun dengan cepat Jeven menarik tangan Geo dan menyeretnya masuk ke dalam mobil.
Geo jelas memberontak dan hendak berteriak, tapi lagi-lagi gerakan Jeven lebih cepat dari Geo.
Posisi mereka yang tidak tepat berada di depan gerbang membuat para penjaga tidak melihat apa yang tengah terjadi pada Geo.
"BANG JEV--MMMPHHSMSKSLWYEJAK" Geo terus memberontak sampai Jeven akhirnya berhasil membawanya masuk ke dalam mobil dan membawanya kabur.
"Abang mau bawa Geo kemana?" tanya Geo dengan nada takut. "Diam dan jangan banyak bertingkah, maka abang tidak akan menyakiti kamu" balas Jeven tajam.
Mata Geo menatap ke luar jendela, dirinya kebingungan dengan jalan yang mereka lewati. Pasalnya ia tidak pernah melintas di jalanan ini sebelumnya.
'Dia mau membawaku kemana?' gumam Geo takut dalam hati.
Dengan gerakan hati-hati Geo memasukkan tangan kirinya ke dalam saku celana mencari keberadaan ponsel miliknya. Setelah berhasil mendapatkan nya Geo mengeluarkan benda pipih itu dari sana. Berusaha tidak mengeluarkan suara sedikitpun agar Jeven tidak menyadarinya.
Geo menyalakan Gps ponselnya agar siapapun yang menyadari kepergiannya bisa langsung mengetahui dimana lokasinya berada.
Setelah berhasil memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celana, Geo semakin merapatkan tubuhnya pada pintu mobil.
Skip time
Mobil tang Jeven kendarai berhenti di depan sebuah bangunan megah yang dikelilingi hutan pinus.
Geo menatap ke arah Jeven yang masih belum beranjak dari dalam mobil. "Kita dimana abang?" tanya Geo pelan.
"Rumah abang" jawab Jeven singkat. "Turun" ucapnya lagi.
Jeven turun lebih dulu berjalan memutari mobil dan membukakan pintu penumpang, dengan sedikit kasar menarik tangan Geo untuk keluar lalu menyeretnya masuk ke dalam rumah.
"Abang sakittt" Geo merintih merasakan sakit di pergelangan tangannya yang ia yakin pasti sudah memar.
Seolah tuli Jeven sama sekai tidak perduli dengan rintihan kesakitan yang keluar dari bibir Geo. Cowok 17 tahun itu terus menyerat yang lebih muda menuju lantai dua.
Setibanya di lantai dua Jeven membuka pintu besar yang berada di ujung lorong, membawa Geo masuk ke dalam dan dengan kasar melempar cowok itu ke atas ranjang.
"A-abang"
Tatapan tajam Jeven menusuk tepat kedua netra Geo. Dalam hati Jeven ia sebenarnya tidak ingin melakukan apapun pada sosok yang dianggapnya adik itu. Ia hanya ingin berbicara berdua dengan Geo.
"Jangan buat abang marah dan menurutlah" perintah Jeven.
Geo mengangguk takut. "Iya abang"
Perlahan Jeven mendekat, mendudukkan dirinya di pinggir ranjang menarik lembut tubuh Geo menjadi duduk.
"Abang hanya ingin bicara. Abang merasa ada banyak hal yang harus kita bicarakan" ucapnya sambil mengelus penuh sayang rambut Geo. "Maafin abang udah bersikap kasar sama kamu"
Geo tidak menjawab, hanya menundukkan kepalanya tanpa berani melihat wajah yang lebih tua.
----
See you!