
"Jangan nangis lagi, Bee"
Sudah sejam Isabella menangis dan air matanya tak kunjung berhenti. Wanita itu seperti meluapkan seluruh rasa kesal di dalam hatinya.
"Kesel!!!" seru Isabella dengan suara seraknya.
"Iya iya aku tau. Udah ya matanya udah bengkak, sayang" ucap Justin menenangkan sang istri sambil sesekali mengusap lembut air mata yang mengalir di pipi chubby itu.
Justin tersenyum diam-diam, mumpung Isabella sedang tidak sadar saat memeluknya seperti ini maka ia akan mengambil kesempatan sebaik mungkin. Membalas pelukan wanitanya itu tak kalah erat.
"Udah nangisnya, suaranya udah serak tuh. Udah ya" ucap Justin lembut. Tangannya masih Setia mengusap air mata yang mengalir di pipi sang istri.
Brukk!!!
"Sakittt Beeeee..."
Dengan tidak elitnya Justin jatuh tersungkur ke lantai. Siapa lagi pelakunya jika bukan wanita tercintanya, Isabella Courtland.
Isabella baru saja tersadar jika dia tengah memeluk suami menyebalkannya itu, jadi dengan reflek langsung mendorong Justin dengan sangat kencang hingga sang suami tersungkur ke lantai.
"Issshh, ngapain kamu peluk-peluk aku?!!" semprot Isabella dengan wajah kesal dan sembabnya.
"Kamu yang meluk aku" balas Justin sambil berusaha bangkit dan menahan sakit di pantat nya.
Ucapan Justin sukses membuat Isabella gugup seketika. "Masa sih..." gumamnya yang masih bisa Justin dengar.
Kekehan kecil Justin terdengar meski mulutnya sesekali masih meringis akibar rasa sakit di pantatnya, karena dorongan istrinya cantiknya sangat tidak main-main.
"Gemes banget padahal udah mau 40 tahun" seru Justin dengan senyum lebarnya.
Isabella mendelik tak terima ke arah suaminya itu, dirinya tak suka jika angka usianya di sebut-sebut. Baginya ia masih gadis cantik 19 tahun.
"Aku masih 19 tahun ya!" protesnya.
"Immortal dong"
"Biarin wleee"
Keheningan kembali terjadi di antara mereka, tidak ada lagi yang membuka suara. Justin kehilangan kata untuk menyambung percakapan sedangkan Isabella hanya ikut terdiam karena ia sendiri tidak mau memulai pembicaraan.
"Javin sudah menjelaskan masa lalu ku pada Jeno" ucap Justin kembali bersuara setelah berusaha meyakinkan dirinya untuk jujur pada Isabella.
"Karena itu Ge dan kaka memaksaku?" sekarang Isabella paham akan perkataan dua sahabatnya tadi. Pantas mereka sedikit mendesaknya untuk jujur meski akhirnya harus ada pertengkaran kecil.
"Ya"
"Apa menurut mu aku harus jujur?"
"Kamu tau aku benci kebohongan bee"
"Bagaimana jika Jeno mengecewakan mu?" Isabella memandang lekat wajah suaminya, mencoba mencari tau reaksi pria itu.
"Mereka tidak pernah mengecewakan ku. Saat mereka dewasa aku tidak akan lagi bisa mengatur mereka, karena mereka lebih pintar dari kita" jelas Justin dengan senyum kecil terukir di bibirnya.
Justin balas menatap Isabella dengan pandangan penuh cinta yang tidak pernah lepas dari sorot matanya.
"Jeno membuatku teringat dengan diri ku yang dulu"
"..... Hahaha. Sosok anak kecil yang semua orang tunggu dari kita"
"You right"
***
Sejak siang tadi lebih tepatnya sejak mengobrol dengan Javin dan Galih, di dalam kamarnya Erick hanya melihat Jeno yang melamun menatap keluar jendela. Sesekali kekasihnya itu akan menghembuskan nafas berat dari mulutnya.
Dengan segala macam pertimbangan Erick akhirnya memutuskan menghampiri Jeno yang masih setia berada di tempatnya. Duduk di depan pintu balkon yang tertutup sambil memandang ke arah luar.
"Sayang.." Suara lembut Erick mendayu merdu di telinga Jeno.
Jeno menoleh ke arah Erick yang sudah duduk di sebelahnya sambil membelakangi pintu.
"Hm" Jeno menjawab dengan deheman singkat.
"Jangan melamun terus, ayo masuk. Udaranya makin dingin" ajak Erick masih dengan suara lembutnya.
Untuk sesaat Jeno termangu, ia baru sadar bahwa dirinya masih berada di mansion Courtland harusnya kan ia sudah kembali ke sekolah.
"Aku kok masih disini?" Tanyanya kaget. Bola mata Jeno membola lebar karena terkejut.
Erick spontan tertawa kecil. "Nahkan kebanyakan melamun sih sampai gak saar kalau ini udah lewat waktu makan malam"
"Hah?!"
"Don't worry, grandpa udah minta izin kok ke Mrs. Rena"
"Hiro sama Kanfa gimana?"
"Mereka udah istirahat di kamar. Kecapean main sama Eyon dan yang lain"
"Oh..."
"Ayo masuk, overthinking juga butuh energi"
Dengan sekali hentakan Erick menarik tangan Jeno untuk bangkit, menuntunnya ke arah ranjang dan memaksa kekasihnya itu untuk segera beristirahat.
Wajah Jeno merengut begitu dirinya telah berbaring sepenuhnya di atas ranjang. "Sifat pemaksa mu lebih menyebalkan dari Jovan ternyata" sungutnya kesal.
"Bawel. Ayo tidur"
Setelahnya Erick ikut merangkak naik ke tempat tidur. Berbaring di sebelah Jeno dengan posisi miring, menghadap kekasihnya itu.
"Jelek" cibir Jeno. Erick mendengus "Jelek gini kamu cinta sama aku" balasnya tak terima.
"Aku kena pelet berarti"
"Heh!!"
"Kkkkk"
****
See you!