Her And Bitter Memories

Her And Bitter Memories
BAB 15. PELUKIS (REVISI)



"Tidak menyangka bertemu denganmu disini little boy. " wanita hamil itu tersenyum memandang sosok dihadapannya. Cukup terkejut melihat banyak perubahan dalam dirinya.


"Mau mengobrol? " ajaknya.


"Tidak ada hal penting. " jawaban ketus Isabella terima. Wanita itu terkekeh, "tidak harus ada hal penting untuk sekedar bicara, bukan? "


"Masuklah, kita bicara didalam. " Aldre memutar bola matanya jengah, sungguh kesialn dia harus bertemu wanita ini disini.


"Jangan menggangguku ka Bella. "


"Apa aku terlihat mengganggu? "


"Masuk! "


Dengan sangat terpaksa Aldre menurut, masuk kembali kedalam cafe dan kembali duduk di mejanya tadi yang terletak di pojok.


"Jika kaka ingin bicara tentang adikmu, lebih baik diam. "


"Hmm, aku hanya ingin mengobrol santai. "


"Aku dengar kau baru pulang dari perjalan bisnis? "


"Hm. "


"Bagaimana dengan Romanov? " pertanyaan Isabella membuat lelaki itu menatapnya tajam. "Apa maksud kak? "


Isabella kembali tersenyum, senyuman yang mengandung banyak makna. "Bukankah kau bekerja sama dengan mereka? Kenapa sepanik itu dengan pertanyaanku? "


Aldre menjilat permukaan bibirnya, mencoba menenangkan dirinya yang mulai gusar. Dia tidak boleh panik berhadaoan dengan wanita ini.


"Aku tidak bekerja sama dengan mereka. " ucapnya tenang.


"Oh benarkah? Berarti aku mendapat informasi yang salah, atau-- sepertinya aku salah mengartikan informasi. "


"Jika tidak ada lagi yang ingin kaka bicarakan, aku permisi karena aku masih memiliki urusan. " Aldre bangkit dari duduknya, bersiap untuk pergi.


"Kau tau kapan harus berhenti kan little brother? Keadannya tidak akan baik jika aku ikut campur. Iyakan? " Peringatan Isabella membuat Aldre cukup gelisah. Sejak awal wanita ini memang harus diperhitungkan.


"Sampai nanti ka Bella. "


Senyum dibibirnya tidak luntur sama sekali setelah Aldre pergi. Isabella menyesap minumannya, menikmati setiap rasa yang lewat dilidahnya. "Aku melewatkan banyak hal dalam mengawasimu, adik kecil. Tapi akan ku pastikan, kau kembali ketempat yang tepat. "


.


"Sial, sial, sial! "


"Bagaimana bisa aku bertemu dengannya? " Aldre tidak berhenti menggeram sejak masuk kedalam mobil, tangannya terus menerus mengepalkan tinju kesegala arah tanpa henti.


"Semua rencanaku bisa kacau jika seperti ini! "


"Aku harus berhati-hati dengan wanita itu. Dia bukan hal remeh yang bisa aku abaikan."


"Cihh!! "


.


"Apa maksud perkataanmu tadi di restorant hubby? " Galih langsung menghujani suaminya dengan pertanyaan begitu mereka tiba dirumah.


"Tenanglah, love. "


"Aku tidak bisa menjelaskannya sekarang karena ini masih tabu. Tapi aku mohon bersabarlah, aku akan menjelaskan semuanya suatu saat nanti. " Kevin berbicara hati-hati, dia tidak ingin mengambil resiko istrinya ini mengamuk. Dia sungguh menyesali mulutnya yang tidak terkontrol.


"Baiklah, tapi janji padaku jangan sembunyikan apapun. "


Kevin meraih tubuh istrinya kedalam pelukannya, dia jelas mengerti bagaimana perasaan istrinya ini. Tapi dia tidak bisa menjelaskannya, setidaknya tidak untuk sekarang.


'Maaf love, maafkan aku. '


.


Jari lentik nan cantik yang dihiasi berbagai macam warna itu mengayunkan kuas dengan gerakan anggun dan indah. Kanvas putih itu kini penuh dengan coretan warna yang abstrak.


Sebuah coretan yang jika diperhatikam dengan jelas, membentuk sebuah gambar yang sangat mengerikan. Penuh dengan warna merah disetiap sudutnya.


"Kau bisa menjadi pelukis handal jika memamerkan karyamu. "


"Mm, benarkah? " alunan suara yang lembut tapi mematikan terdengar. Jari lentik cantik itu kini ternoda dengan cat merah, mengusap noda tersebut kedalam kanvas. Noda yang memunculkan bau menyengat yang membuat siapapun akan mual jika menciumnya.


"Kau membunuh hewan lagi? " wanita itu menatap miris seekor kelinci yang tergeletak mengenaskan diujung ruangan.


"Ara tidak akan melakukan ini? "


"Ara? Aku bukan dia. "


"Berhenti! "


"Aku melakukan-- apa yang aku sukai. "


"Kau tau aku bukan? Maka lakukan. " ancamnya.


Gadis itu berdecak kencang, "Kenapa semua orang tunduk padamu? " kepalanya menoleh, menatap sosok dibelakangnya. Mata dengan warna dark grey yang hampir mirip dengannyabitu terlihat santai, tapi tersirat banyak makna didalamnya.


"Aku bukan tuhan. " ucapnya santai.


"Benar, tapi semua orang takluk padamu. "


Light grey yang mencoba mengintimidasi, meski tidak berhasil sama sekali.


"Kalau kau ingin menaklukanku,,, "


"Jangan gunakan matamu,, "


"Tapi-- gunakan otakmu. "


"Setidaknya aku cukup kuat sekarang. " sahut gadis itu bangga.


"Kau lemah jika berada diduniaku. "


"Bersihkan ini, aku tidak suka sampah berserakan. "


sosok itu masih menatap tajam kearah pintu tempat wanita itu menghilang. matanya berubah gelap perlahan.


....


T B C?


bye!