Her And Bitter Memories

Her And Bitter Memories
BAB 51



Aldre menatap heran Isabella yang terlihat cemas. Ekspresi wanita itu terlihat panik, berbeda dari sebelumnya.


"Ada apa denganmu ka Bella? " Aldre akhirnya buka suara. Dia sudah cukup jengah melihat sahabat kakanya yang seperti orang bodoh.


"Haybie-- Haybie kabur! " jawaban Isabella membuat Aldre spontan berdiri, menatap tidak percaya.


"Ka Bella bercanda? Bagaiman bisa dia kabur?!! "


"Tidak hanya Haybie. Tapi Aeion dan Tier juga bersamanya"


"Gila!! Benar-benar Gila!!! " umpat Aldre.


Isabella menoleh kearah adik sahabatnya. "Kau tau dimana mansion mereka kan? " tanyanya. Aldre mengangguk, "tentu saja aku tau"


"Kita kesana sekarang! "


"Kau ingin menyerang mereka sekarang? " Aldre mengernyit, persiapan mereka bahkan belum selesai.


"Tidak bodoh!! Tapi aku merasa bahwa mereka bertiga ada disana"


Mata Aldre membola ketika teringat sesuatu. "Ka Bella! Mereka sangat dekat dengan Carissa, kan? "


"Kau benar, Aldre! Sialan! Kita kesana sekarang! "


Mereka bergegas pergi menuju hutan tempat mansion Roxy berdiri. Tidak lupa membawa pasukan untuk berjaga-jaga.


30 menit kemudian mereka tiba. Lokasinya tidak terlalu jauh ternyata.


Isabella berlari cepat masuk kedalam mansion. Pintu utamanya terbuka, dan ia bisa mencium bau anyir darah yang begitu kuat.


Mereka terkejut mendapati lautan mayat yang menyambut begitu melewati pintu. Isabella kenal setiap luka ditubuh salah satu mayat. Persis seperti cara Haybie menerkam seseorang.


"NONA SEBELAH SINI!! " teriak salah satu pengawal.


Isabella dan Aldre melangkah mendekat. Mereka dapat melihat sebuah tangga yang menuju kebawah.


"Ruang bawah tanah " gumam Aldre.


Aldre masuk lebih dulu diikuti yang lain. Terus berjalan hingga sampai keujung lorong. Bisa ia lihat tubuh besar Tier yang berjaga didepan pintu salah satu sel.


Tier menggeram, bersiap menerjang siapapun dihadapannya saat ini. Singa besar itu mengaum keras membuat Aldre dan yang lainnya terkejut.


Namun tidak lama suara siulan yang familiar bagi ketiganya terdengar. Haybie spontan bangkit, mengaum keras menjawab siulan tersebut, seolah mengijinkan mereka untuk mendekat.


Aldre melangkah hati-hati. Kepalanya menoleh kedalam sel. Dapat ia lihat tubuh seseorang yang terkapar mengenaskan dengan darah yang menutupi hampir seluruh tubuhnya.


Kepala orang itu menoleh, tersenyum pada Aldre. "CARISSA!!! " Aldre menerobos masuk. Meraih tubuh sahabatnya. "Apa yang terjadi padamu? "


"hai, Al" jawab Carissa lemah.


Aldre menggeleng, air matanya berderai. "no no no. jangan bicara apapun dulu ok! "


Isabella mendekat, netra abunya menggelap melihat kondisi adiknya. "Bawa Carissa kerumah sakit Aldre!! " perintahnya. Aldre mengangkat tubuh Carissa hati-hati.


Dengan gerakan cepat anak buah Aldre memberikan kain untuk menutupi tubuh Carissa.


Aldre berlari keluar menuju mobil. Secepat mungkin membawa sahabatnya menuju rumah sakit.


Isabella menatap ketiga kesayangannya tajam. "Looking them!! " perintahnya. Tangannya menempelkan sebuah chip dimasing-masing tubuh besar itu.


Mereka mengaum kompak, seolah mengerti perintah yang mereka terima. Berlari cepat menuju pintu belakang, tempat Roxy dan yang lainnya melarikan diri.


"Ikuti mereka!! "


"Baik nona"


.


.


Di Rumah sakit xx


Carissa kini sudah berada diruang operasi. Lima tim dokter langsung bergegas menganinya. Kedatangan mereka membuat seisi rumah sakit terkejut, dan bergerak cepat memberikan penanganan.


Kondisi Carissa yang datang dengan tubuh penuh luka, dan darah yang menutupi, membuat atensi mereka hanya tertuju pada gadis itu. Bahkan para perawat langsung mengosongkan ruang UGD saat itu juga.


Untung tidak banyak pasien di sana, jadi mereka bisa dipindahkan untuk sementara ke ruang rawat. Bisa shock mereka jika melihat kondisi mengenaskan Carissa.


Aldre merogoh saku celananya, meraih ponselnya. Jarinya bergetar bergerak diatas benda pipihnya. Menempelkan ponselnya ke telinga.


"Halo"


"Halo? Aldre! " suara lembut yang sejak dulu membuat Aldre jatuh cinta terdengar menyahut. Aldre memjamkan matanya sejenak, sebelum menjawab seseorang diseberang sana.


"Carissa? Apa kau sudah menyelamatkannya? Dimana dia, aku ingin bicara dengannya" ucap Ara semangat.


"Maafkan aku.... Carissa? Mereka menyiksanya, Ara. Rumah sakit xx. Dia sedang ditangani dokter" Aldre berbicara dengan suara yang bergetar.


"A-apa? "


"A-aku, aku akan beritahu yang lain"


.


.


Sambungan telpon mati. Matanya berkaca-kaca, menarik nafas berusaha mengendalikan dirinya. Tangannya mendorong pintu kamar tuan Rayyan.


Semua yang berada didalam menoleh. Charles menghampiri sang adik, wajah gadis itu terlihat shock.


"Ara, ada apa? " Tanya Charles. Ara menatap sang kaka, air mata yang sedari tadi ditahannya luruh seketika. "Sayang, ada apa? Beritau kaka" ucap Charles khawatir.


Ara menoleh pada Jason. Dirinya bingung bagaimana harus memberitau lelaki itu perihal kondisi adiknya.


"Pelan-pelan, sayang" ucap Charles lagi.


"Little princess? It's okay, bicaralah dengan tenang" ucap Leo.


"Tadi-- tadi Aldre menghubungi Ara" ucap Ara gugup.


"Aldre? " Ara mengangguk. "Apa yang dia katakan? " Tanya Leo lembut.


"Carissa.... Aldre sudah mendapatkan Carissa. Tapi.... Mereka menyiksanya ka. Dan saat ini Aldre ada di Rumah sakit xx"


"Mamih!! " Sena berteriak panik. Ibu mertuanya pingsan. Jason berlari keluar, Galih dan Darren bergegas mengejarnya.


David mengangkat tubuh sang ibu. Membawanya kembali ke kamar. Diikuti Sena dan anak-anaknya.


Jadi inilah alasannya kenapa Haybie dan dua sahabatnya kabur. Mereka sepertinya tau apa yang akan terjadi pada Carissa.


Tuan Revano menatap tangan kanannya. "Cari mereka William! Lacak keberadaan mereka. Dan hubungi anak buah Aldre! "


William membungkuk, "baik tuan"


"Devan! Lacak seluruh Amerika, jangan biarkan mereka lolos! "


Devan mengangguk, segera menjalankan perintah sang papah.


Nyonya Sofia mendekat pada suaminya, memeluk lengannya erat. "Bagaimana nasib Sin, ka? " nyonya Sofia bertanya dengan lirih.


Tuan Revano menggenggam tangan istri tercintanya. "Aku tidak tau, Sofia. Tapi yang pasti bukanlah hal baik"


"Apa Isabella masih belum bisa dihubungi? "


"Isabella tidak akan menjawab panggilan apapun jika sudah dalam situasi seperti ini, bibi" jawab Rion. Nyonya Sofia mengangguk mengerti.


Charles kembali menatap sang adik yang masih terlihat shock. "Kita ke kamar ya sayang. Kamu harus istirahat"


Charles menarik tubuh Ara untuk keluar, tapi gadis itu menahannya. "Aku ingin melihat keberadaan Carissa, ka"


"Tidak sekarang sayang. Tidak dengan kondisimu yang seperti ini" tolak Charles.


"Tapi--"


"Little princess! " suara tegas tuan Revano menghentikan ucapan Ara. Gadis itu menunduk takut mendapat tatapan tajam papahnya. "Masuk ke kamarmu, besok kita jenguk Carissa bersama! "


"Baik, pah"Charles kembali menuntun sang adik menuju kamarnya.


"aku akan melihat kondisi bibi, Lia" ucap Justin.


"panggilkan dokter, Justin"


"baik, mah"


....


Bab ini agak berantakan kayanya.


maafkan jika alurnya semakin alsjsjsiskakow


pushing banget, mikirin kata yang tepat 😭😭


T B C?


BYE!