
Pukul 4 sore
"Papah, kenapa berdiri disana?" Keano berjalan menghampiri sang papah yang terlihat cemas.
"Papah sedang menunggu daddy" jawab Galih tanpa mengalihkan pandangannya.
"Tapi daddy--"
"Apa yang kamu lakukan disini, sayang" tubuh Galih terhentak kaget begitu ada yang memeluknya dari belakang.
Kepalanya menoleh dengan cepat, nafas lega mengalir begitu menemukan wajah tampan suaminya.
"Sejak kapan hubby dirumah?" Tanyanya yang masih terkejut. Kevin terkekeh. "Aku sudah dirumah sejak setengah jam yang lalu, love. Kamu tidak lihat mobilku sudah terparkir disana" tunjuknya pada kolam air mancur, dimana mobilnya terpakir didepan kolam
Galih mengumpati kebodohannya yang tidak menyadari mobil sang suami sudah bertengger manis ditempat favoritenya.
Keano menutup mulutnya yang terkikik. Wajah memerah papahnya sangat menggemaskan.
"Keano tidak bilang sama papah~" Galih merengek pada putra sulungnya yang masih tertawa.
"Keano baru mau bilang, tapi daddy suruh Keano diam" Keano meletakkan telunjuknya dibibir, mengikuti gaya sang daddy tadi.
Plak
"Auwww"
Pukulan gemas Galih berikan didada bidang Kevin, membuat sang empu meringis.
"Sakit, love"
"Au ah!"
"Kkkkkk"
Hentakan kaki nyonya Aldebaran menggema seiring langkah lebarnya yang ia bawa. Meninggalkan suami dan anaknya yang masih sibuk menertawainya.
Galih masuk kedapur dengan raut cemberut, disambut tatapan heran sang ibu.
"Kenapa wajah kamu kusut begitu? Lama-lama kamu mirip bebek kalau manyun kaya gitu" ucap Riyani geli.
"Aaahhh ibuuuu. Aku lagi sebel loh ini" Galih merengek. Kedua tangannya terlipat didepan dada, muka kesal, ditambah bibir mengerucutnya yang persis mirip bebek seperti kata sang ibu.
"Kenapa? Dikerjai suamimu lagi, hah?"
"Ibuuuu. Galih maluuu" Galih menatap sang ibu dengan wajah yang mulai memerah.
"Malu kenapa?" Tanya Riyani bingung.
"Tadi--"
"Tadi?"
"Dipeluk ka Kevin didepan Keano" cicitnya pelan dengan kepala menunduk.
Riyani sontak tertawa lebar mendengar penuturan putra keduanya itu. Padahal sudah dikarunia dua orang anak yang mau beranjak dewas, tapi Galih masih saja malu dipeluk suaminya didepan umum.
"Mangkannya jangan gengsi aja digedein. Gengsi kamu tuh beneran segede harapan orang tua"
"Aaahhh, ibuuuuu"
"Istrimu nih" Riyani menatap geli kearah sang menantu dan cucunya yang berdiri diambang pintu.
Galih meletot ketika menoleh kebelakang mendapati suami dan anaknya tengah menatap kearahnya dengan wajah tengil mereka.
"Cieee papahhh uhuyyy"
"Keanooooo"
"HAHAHAHA"
.
Mansion keluarga Scander
"Kamu baru pulang, Jov?" Jovan mengangkat kepalanya, matanya menangkap tubuh mungil kaka kembarnya.
"Mm. Bunda sama ayah kemana? Ko sepi" tanyanya dengan mata yang mengedar kesekeliling.
"Hadir keacara pesta koleganya ayah"
"Ouhh. Jeno?"
"Tuh, dikamar. Lagi ngerjain tugasnya yang kemaren baru selesai setengah" tunjuk Jesslyn keatas.
"Kalo gitu aku kekamar dulu, ya"
"Mm. Ouh malam ini kita pesen makan aja ya. Aku males masak" Jovan mengangkat jempol tangannya sebagai jawaban.
Didalam kamar
Jovan melempar asal tas hitamnya. Kemudian melemparkan tubuhnya keatas sofa. Matanya menatap langit-langit kamarnya.
"Jika aku tidak mengambil kalung itu, masalah ini pasti tidak akan terkuak. Bukankah paman Aldre harusnya berterimakasih padaku?"
"Tapi... Bagaimana caranya aku membantu daddy? Aku harus bisa berfikir cerdas seperti bunda"
Jovan mengulum bibir bawahnya, keningnya berkerut dalam, memaksa otaknya untuk berpikir rencana apa yang sekiranya bisa ia lakukan.
"Sial! Dunia bawah semenyebalkan ini ternyata!" Tanpa sadar Jovan mengumpat keras. Otak mungilnya tidak bisa ia paksa untuk memikirkan hal berat seperti itu.
"Kalau kau tau seberapa menyebalkannya, bukankah harusnya kau berhenti? Little Prince"
Jovan memutar bola matanya malas. Ia tau siapa yang baru saja menyauti perkataannya.
Jeven, tanpa permisi menerobos masuk kamar sang adik. "Apa yang sedang ingin kamu lakukan, sekarang?"
Jeven mendengus geli, "abang tau apa yang sebenarnya terjadi setelah paman Harves mengatakannya tadi. Abang ingin tau rencanamu, kita bisa bekerja sama"
"Tidak ada"
"Huh?"
"Tidak ada rencana apapun diotakku! Aku tidak bisa berfikir seperti bunda" Jovan mengeluh geram.
"Belum. Bukannya tidak bisa" Jeven melirik Jovan dari ekor matanya. "Kau harus memahami situasi dengan baik baru bisa membuat rencana yang bagus, Jovan. Itu yang bunda ajarkan pada abang"
"Apa abang pernah membuat suatu rencana?" Jeven mengangguk. "Benarkah? Apa itu berhasil?" Jovan menatap kaka sulungnya itu penuh minat.
"Berhasil..... Hampir masuk kepeti mati maksudnya"
Ekpresi antusias Jovan seketika berubah menjadi datar. Menatap kesal remaja brengsek didepannya yang sayangnya adalah kakaknya.
"Anjing!" Senyum manis terpatri diwajah Jovan.
Kepala Jeven terlempar kebelakang, mulutnya terbuka lebar karena tawa kerasnya yang meledak, tangannya memukul-mukul keras pahanya sendiri.
"Aku harap kau tersedak, sialan!"
"Hahahahahaha"
BRAK!!
"HEY!!"
Jovan membanting pintu kamar mandi, menimbulkan suara yang sangat keras.
"Abang pasti ngejailin Jovan lagi kan?" Seru Jesslyn. Gadis itu berdiri diambang pintu bersama kaka kembarnya, Jeno.
"Dia aja yang baperan" elak Jeven.
"Emang abangnya aja yang dasarnya usil" sahut Jeno sinis.
"Napa? Hah? Mau marah?"
"Abang nih, lama-lama Jovan jadi songong sama abang tau" Jesslyn menatap sebal Jeven.
"Iya iya sayang. Udah ah ayo, abang laper"
Ketiganya pun keluar dari kamar Jovan. Menuju kebawah untuk makan malam. Biarkan si bungsu tidak jadi menyusul nanti.
Pukul 08.00 pm, Justin dan Isabella tiba dirumah.
"Loh? Kalian kok belum tidur?" Tanya Isabella melihat keempat anaknya yang masih asik menonton tv diruang santai.
"Nanti dulu, bunda. Filmnya lagi seru" jawab Jeno. Isabella menggeleng kecil, "sudah makan malam?"
Keempatnya mengangguk kompak. "Yasudah kalau gitu, bunda keatas dulu ya"
"Bunda mau Jesslyn buatkan sesuatu?" Jesslyn bersiap untuk bangkit.
"Tidak usah, sayang. Nanti bunda buat sendiri aja"
"Ok"
Isabella melanjutkan langkahnya menuju kamar. Menyusul sang suami yang sudah berjalan lebih dulu.
"Anak-anak sudah tidur?" Tanya Justin begitu Isabella tiba dikamar.
Isabella kembali menutup pintu, melatakkan tanya diatas meja, lalu membantu sang suami melepaskan jasnya.
"Belum. Mereka sedang menonton film dibawah"
"Mau berendam?"
"Boleh. Aku lapar, Bee. Nanti tolong buatkan steak ya"
"Ada orang pulang dari pesta kelaperan"
"Hehehe"
"Bunda buat apa?" Kepala Jesslyn melongok kearah kompor. Mengintip apa yang sedang bundanya buat.
"Steak, sayang. Buat ayah, tadi ayah bilang lapar" jawab Isabella.
Jesslyn melongo, "loh? Kan abis dari pesta, kenapa masih lapar?"
Isabella tertawa kecil. "Ayahmu memang seperti itu, sayang. Dia tidak akan menyentuh apapun kecuali alkohol jika sedang berada dipesta"
"Pantes aku ngeliatnya cuma gelas berwarna merah ditangan ayah"
"Ayah kan tiada duanya, beda dari yang lain, only one. Aduhhh!!!"
Jeven mengusap kepala bagian belakangnya yang baru saja mendapat tabokan cinta dari sang ayah.
"Sakitt ayahhh"
"Apasih, cuma senggol doang. Lebay"
"Dih! Dia lupa kali kalo tangannya segede kingkong" cibir Jeven berani, yang langsung dihadiahi lirikan maut Justin.
"Kaboooorrrrr!!"
"Hahahaha"
......
T B C?
BYE!