Her And Bitter Memories

Her And Bitter Memories
154 | SELESAI



"Sin"


"Iya kak"


"Kaka tau kamu terluka dan hancur, tapi inilah takdir yang sudah Tuhan tentukan. Sesakit apa pun rasa yang kamu terima sekarang, itu sudah menjadi konsekuensi yang harus kamu hadapi. Kaka ingin kamu terus berjalan dan fokus sama masa depan kamu. Kesalahan yang pernah kamu lakukan dulu jangan kamu ulangi lagi ya? Kaka akan di sini, terus di sini bersama kamu. Kamu tidak perlu mengkhawatirkan apa pun lagi sekarang, kejar kebahagiaanmu dengan cara yang benar sayang. Kaka akan bahagia jika kamu bahagia, tapi dengan cara yang Tuhan restui"


Kedua mata Sin berkaca-kaca, bibirnya melengkuk ke bawah siap membentuk sungai kecil di kedua pipinya.


"Kaka...."


Tangis Sin pecah, aliran sungainya terbentuk begitu derasnya bersamaan dengan isak tangis yang terdenga cukup keras. Darren meraih tubuh sang adik, membawanya ke dalam pelukan hangatnya yang sejak dulu selalu menjadi tempar terhangat favorite Sin.


Segala kesedihan, sakit, marah, kecewa, semuanya Sin tumpahkan hari ini. Rasa bersalahnya kembali menyerang. Sin terus merutuki segala ke bodohannya dalam hati. Bagaimana bisa dulu ia se bodoh itu? Bagaimana bisa dirinya dulu setega itu pada ke tiga sahabatnya?


Sin memeluk tubuh sang kaka dengan begitu erat. Satu-satunya rasa sakit yang di rasakannya kini hanyalah rasa sakit karena kebodohannya selama ini. Sekarang Sin merasakan apa yang sahabat-sahabatnya rasakan dulu.


Di belakang keduanya berdiri Lynea, istri Daren, dan Ransa putranya, tengah memandang dua kaka adik itu dengan aliran sungai yang juga mengalir deras di pipi mereka.


"Bibi sudah kembali ya, mom" Ransa mendongak menatap sang mommy. Lynea mengangguk kecil di iringi senyum tipis di bibirnya. "Iya sayang"


"Keluarga kita akan kembali seperti dulu mulai sekarang" lanjutnya.


"Maafkan Sin ya ka? Maaf karena Sin begitu bodoh selama ini. Maaf tidak pernah mendengar apapun yang kaka katakan pada Sin, dan maaf tidak pernah menjadi adik yang baik"


"Kaka selalu memaafkan Sin, semarah apa pun kaka, maaf kaka selalu kaka berikn untuk Sin. Karena Sin adalah adik kecil kaka yang manis, dan lucu, sampai kapan pun tidak akan berubah di mata kaka"


"Sin sayang kaka, sayang banget. Terima kasih karena tidak pernah meninggalkan Sin"


"Kaka juga sangat menyayangi Sin. Kaka akan selalu di sisi Sin selamanya. Tidak akan pernah kaka biarkan adik kaka berjuang sendirian selama kaka masih hidup"


"Carissa sudah bilang bahwa Sin akan kembali" Carissa memberikan gaya angkuhnya pada sang kaka, Jason.


Saat Jason mengatakan untuk memutuskan hubungannya dengan Sin, Carissa menolak dengan tegas. Karena bagaimana pun Sin adalah sahabatnya dan Carissa tidak akan pernah meninggalkannya sendirian. Bagi Carissa, Sin hanyalah salah memilih arah hingga dia tersesat, dan Carissa pasti akan membantu sahabatnya itu kembali pada jalan yang tepat.


"Iyaiya, Carissa menang sekarang"


"Jangan benci Sin lagi ya ka? Dia sudah berubah sekarang, Carissa juga sudah sembuh. Ara dan Aldre juga sudah bahagia" ucap Carissa memohon. "Ingat yang ka Bella katakan bahwa setiap orang berhak mendapatkan kesempatan kedua. Sin sudah berjanji akan berubah, dan Caridsa yakin Sin akan kembali menjadi Sin yang kita kenal dulu"


Jason menarik nafas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Lelaki itu memajamkan matanya, berusaha menghilangkan segala amarah yang di pendamnya selama ini.


Matanya kembali terbuka, menatap lurus adik kecilnya yang kini telah beranjak dewasa.


"Iya. Kaka akan berusaha memaafkan Sin" balas Jason.


Carissa menghamburkan dirinya untuk memeluk kaka tersayangnya itu. Menangis haru sekaligus bahagia. Segala rasa sakit dan luka di hatinya seolah sembuh dan menghilang dalam sekejap mata.


"Apa semuanya telah berakhir, Bee?" Justin menoleh ke samping, memandang sang istri yang hanya diam memandang lurus ke depan.


"Not yet. Tapi ini awal yang baik untuk mereka" jawab Isabella tenang.


Isabella adalah seorang cenayang, dirinya bisa melihat sesuatu yang akan terjadi di masa depan ataupun masa lalu, meski yang di lihatnya terkadang tidak pasti. Karena segalanya bisa berubah, begitupun jalan hidup seseorang.


"Apa Sin akan bahagia ka?" tanya Lynea yang sudah berdiri di sebelah kaka sepupunya itu.


Sebagai seorang kaka ipar, Lynea juga berharap yang terbaik untuk adiknya. Ia ingin Sin bahagia seperti Ara dan Aldre.


"Tentu saja. Selama dia tidak mengulangi kesalahannya. Dia akan mendapat kan seseorang yang menerima dengan ikhlas masa lalunya. Tunggu sampai waktunya tiba" ucap Isabella.


"Benarkah? Aku bisa tenang jika begitu" senyum lebar Lynea menghiasi wajahnya.


"Orang itu bahkan sudah berada di sekelilingnya sejak lama, Lynea"


Netra abu gelap Isabella menyorot pada seorang lelaki tampan yang memandang Sin penuh kagum. Wajahnya terhias senyum menawan yang menambah ke tampanannya.


Justin mencoba menerka siapa yang tengah di lihat istrinya, tapi lelaki itu tidak bisa menebak yang mana yang di maksud istri tercintanya.


Isabella menatap jengah suaminya. "Tidak perlu kepo, Boo! Kau juga akan tau jika waktunya tiba nanti"


"Hihihihi" Lynea terkikik geli.


*


"Selalu cantik seperti dulu. Tidak berubah dan tidak pernah berubah" gumam seorang lelaki tampan yang tengah menatap wanita pujaannya.


"Bagaimana caranya mengajak dia berkencan? Haruskah aku tanya ka Maxime?" ucapnya bingung.


*


"Dimana Fedryck?" tanya Maxime pada sang suami.


Verrel menggeleng. Dia baru teringat dengan adik angkatnya yang tidak terlihat sejak tadi. Entah dimana bocah itu kini?


Maxime memukul kencang bahu suaminya, membuat si empu meringis kesakitan. "Sakit sayang" seru Verrel.


"Cari adik kamu! Aku pusing kalau dia udah kelayapan kemana-mana!" balas Maxime kesal.


"Gak usah dicari, Po. Noh orangnya noh" Virzan menunjuk lelaki dengan setelan berwarna abu-abu yang berdiri di ujung anak tangga.


"Haiiisshh, FEDRYCK!!!"


"Ya ampun Moon tidak perlu berteriak seperti itu"


"Berisik!"


"Wkwkwkwk"


"Tidak perlu berteriak ka Maxime aku masih mendengar" ucap Harry begitu dirinya tiba di hadapan kaka iparnya.


"Jangan protes! Ayo pulang. Kaka tidak mau kamu kelayapan tidak jelas seperti pengangguran"


"Galak bener"


"jangan banyak protes! ayo masuk ke mobil"


"sabar ya, kaka ipar mu sedang sensi" Verrel menepuk-nepuk bahu adiknya.


"coba ajak ke dokter, siapa tau Virzan sebentar lagi punya temen main"


"ide Bagus"


"FEDRICK!!!"


Fedrick terkejut mendengar teriakan menggelegar lelaki tampan setengah manis itu. "buset dahhhhh"


"wkwkwkwk" Virzan tertawa begitu puas, bahagia melihat pamannya yang terbuli.


"KA SENAAAAA ADIK IPARNYA BUNTING LAGIIII" Fedrick berteriak kencang begitu dirinya melewati Sena yang tengah menggendong Jieun.


Maxime berbalik dengan kedua mata yang melotot tajam, tangannya bergerak melepas pantofel di kaki kirinya.


"KABOOOORRRR"


"FEDRICKKKK!!!!"


"HAHAHAHAHA"


.....


T b c?


Bye!