
Jeno hanya bisa memandang ponselnya yang mati dengan penuh tanya. Apakah dirinya salah berucap? Atau Erick tidak suka dengan gombalan yang dia berikan?
"Memangnya perkataan ku ada yang salah? Kenapa di matiin?" Tanyanya pada dirinya sendiri.
Jeno mencoba menelpon kembali nomor Erick, tapi nomor itu justru tidak aktif. Bukan sang kekasih, justru malah operator yang menjawab panggilannya.
"Hish, nomor sekali pakai rupanya" gumamnya.
Jeno menyerah, memilih memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celana daripada berusaha terus menelpon sang kekasih.
Pandangannya ia bawa lurus ke depan. Pada hamparan bunga yang tersusun rapih di taman belakang mansikn keluarganya.
Rasa rindu yang membuncah di hatinya selama tiga tahun, kini harus kembali dirinya tahun selama tiga tahun lagi. Bayangan memeluk dan mencium erat pujaan hatinya lenyap sudah. Karena nyatanya sosok yang di rindukannya justru memilih balas dendam, dengan pergi tanpa pamit padanya.
"Kalau aku cari kamu, kamu pasti bakal marah sama aku kan, Rick?"
"Kamu selalu tau cara hukum aku. Sekarang aku harus kembali menahan rasa rinduku"
"Kamu dimana, Rick? Kenapa aku gak boleh tau keberadaan kamu?"
"I really miss you so much"
Kedua netra hazel itu hanya bisa memandang sedih bunga-bunga indah yang bermekaran. Keindahan itu nyatanya tak mampu menenangkan hatinya sedikit pun.
"Erick suka bunga. Dia sendiri yang menanamkan bunga-bunga ini" ucap Isabella yang muncul tiba-tiba.
Jeno tersentak mendengar suara sang bunda yang menyadarkannya dari lamunan singkatnya. Kepalanya menoleh ke samping dimana sang bunda berada.
"Erick?" Tanyanya lirih.
Isabella mengangguuk, bibirnya menampilkan senyum teduh yang mampu menenangkan hati Jeno.
"Dia selalu datang ke rumah setiap hari, sesekali menginap di sini. Tidak hanya menemani Jovan latihan, tapi juga melepaskan rindunya padamu.
Meski anak itu tak pernah mengatakan apa pun soal perasaannya, tapi kami pahan apa yang dia rasakan. Erick bahkan tidur di kamar mu setiap kali dia menginap" jelas Isabella.
"Pantas ada beberapa bajunya di lemari ku" Jeno baru teringat tentang baju-baju Erick yang tersimpan rapih di dalam lemari miliknya. Bahkan masih menyimpan aroma khas pujaan hatinya meski sudah lama berada di sana.
"Bunda sudah bilang, jangan pernah biarkan ego mu menang. Karena kamu sendiri yang akan hancur karenanya.
Rasa benci bisa kita hapuskan dari hari seseorang, tapi kecewa sulit di hilangkan, Jeno. Rasa itu akan abadi di dalam hati mu"
"Jeno mengerti, bunda" Jeno hanya bisa menundukkan kepalanya. Menyesal dengan segala keputusan yang di ambilnya.
"Bunda akan memberitahumu dimana Erick saat kalian lulus nanti. Jadi bersabarlah, dan selesaikan pendidikan mu dengan cepat"
"Pasti"
"Oh, ngomong-ngomong. Erick sudah semester 4 sekarang. Dia hanya menjalani satu setengah tahun di High School" ucap Isabella sebelum akhirnya berjalan masuk ke dalam rumah meninggalkan sang putra yang tercengang.
"Hah?"
Di balik tembok.
"Erick semester 4?" Seru Jovan tak percaya. Jesslyn di sebelahnya mengangguj membenarkan.
"Serius?!" Tanya Jovan lagi memastikan.
"Kenapa?" Tanya Jesslyn heran. "Kaget banget kayanya" lanjutnya lagi.
"Pinter banget" ucap Jovan kagum.
"Iyalah. Paman Daniel sama bibi Ana kan pinter. Emang kamu!!"
"Yeee Julid!!"
"Tapi kalau gak salah semester depan Erick mau skripsian loh"
"WHAT??!!"
Jesslyn memandang kesal adik kembarnya. Pasalnya, Jovan baru saja berteriak kencang tepat di telinganya. Dan itu cukup membuat telinganya terasa pengang.
"Berisik Jovan!!"
***
"Gak kangen sama abang? Kenapa cemberut gitu mukanya?" Tanya Jeven pada Keano yang menatap kesal kearahnya.
Keano melipat kedua tangannya di didepan dada. Padahal semalam dirinya sudah mengatakan pada lelaki tua dihadapannya untuk tidak datang dan menemuinya di rumah. Tapi pagi ini, lelaki itu justru sudah duduk manis di ruang tamu rumahnya.
"Keano kan udah bilang jangan datang ke rumah!! Ngapajn abang kesini?!" Sentak Keano dengan nada kesal.
"Loh, abang kangen. Kenapa emangnya?" Balas Jeven santai.
"Selamat pagi, tuan Geo" sapa salah satu maid pada Geo yang baru saja menampakkan dirinya.
"Pagi bibi" sapa Geo.
"Tuan Geo ingin sarapan sekarang?" Tanya maid.
"Tidak bibi. Geo akan kelua sebentar lagi"
"Kalau begitu bibi pamit ke dapur dulu ya tuan"
"Silahkan"
Wajah Keano mendadak pucat begitu Geo menatap datar ke arahnya. Sedangkan Jeven, lelaki itu hanya bersikap santai. Berusaha tetap santai lebih tepatnya. Padahal hatinya sudah jedag jedug ingin disko.
"Ouh, ada tamu rupanya" seru Geo kalem. Kakinya melangkah menghampiri keduanya.
Geo menjatuhkan tubuhnya tepat di samping Keano yang terdiam kaku dengan wajah pucatnya.
Kening Geo mengkerut melihat ekspresi adik kembarnya. "Kenapa dengan wajahmu itu? Kau ingin mati?" Tanyanya dengan nada menyebalkan.
Keano menatap kesal sang kaka, mulut lelaki itu memang harus di jahit. Selalu sembarangan jika berbicara. "Kau saja yang mati!!" Serunya kesal.
"Tidak jelas" Geo mengalihkan pandangannya ke depan. Keningnya kembali mengkerut menatap sosok di hadapannya.
"Who are you?"
"Kau tidak kenal aku?" tanya Jeven tak percaya.
"Apakah penting?" tanya Geo lagi.
"Itu bang Jeven, bodoh" timpal Keano.
"Aahhh. Si bodoh Jeven" ujar Geo santai begitu mengenali siapa sosok di didepannya.
"Ihh Geo!!"
"Apasih! Tidak jelas"
"Kamu yang gak jelas! Heh mau kemana?!"
"Kepo"
"DADDYYYYY KEANO WLEEOOWLEOOO!!!" Teriak Geo kencang pada kedua orang tuanya yang sedang menyesap teh di gazebo depan rumah.
"GEOOOOOO!!!!"
"KABOOORRRRRR!!!"
Jeven hanya bisa terdiam melihat kelakuan dua saudara kembar itu. Dirinya jadi teringat ketiga adiknya di rumah. Sama sekali tidak ada bedanya.
Sedangkan Galih dan Kevin hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan kedua putra mereka. Dan Kiransa, gadis cantik itu tak ingin terlibat dengan kegilaan kedua kakanya.
"Harusnya mereka tidak perlu pulang" gerutu Kiransa.
*****
T b c?
Bye!