
Isabella tidak pernah mengira bahwa jika tidak ada Jeno maka Erick akan datang ke rumahnya. Karena anak itu cukup pemalu jika berada di sekitar orang dewasa.
"Erick" sapa Isabella. Wanita cantik itu tengah berada di halaman depan rumah, mengurus taman kecilnya yang belum sempat ia sentuh karena masalah kemarin.
Namun perhatiannya teralih ketika mendengar suara gerbang yang terbuka diikuti sebuah motor yang serupa milik putranya melaju memasuki halaman.
"Aunty" Erick turun dari motornya lalu berjalan menghampiri Isabella.
"Mau main sama Jovan?" Tanya Isabella. Erick menggeleng. "Gak aunty. Erick.... Mau nginep di sini boleh?" Tanya Erick hati-hati.
"Menginap?" Tanya Isabella kembali memastikan. Kepala Erick mengangguk kaku.
Senyum manis Isabella mengembang. "Tentu boleh dong, sayang. Erick masuk duluan ya, nanti aunty nyusul. Aunty mau selesain ini dulu" tunjuknya pada beberapa pot yang belum tersusun rapih.
"Erick bantu ya?"
"Tidak, tidak. Ini sudah hampir selesai. Erick masuk aja, Jovan dan yang lainnya sedang nonton film di ruang santai"
"Kalau gitu Erick masuk dulu ya aunty"
"Iya sayang"
Erick berbalik berjalan menuju pintu utama. Ia membawa helm di tangan kanannya, juga sebuah tas cukup besar di punggungnya.
Erick terus melangkah hingga dirinya tiba di ruang santai. Mansion Scander memiliki dua ruang santai, yang pertama berada di lantai satu dan yang kedua berada di lantai dua, namun ukurannya lebih kecil dari yang pertama. Dan disinilah Erick, berdiri di depan pintu ruang santai pertama sambil memperhatikan tingkah Scander bersaudara yang tengah mempeributkan adegan film yang mereka tonton.
"Pagi-pagi udah ribut" seru Erick yang langsung membuat keributan tersebut berhenti.
"Loh Erick?" Kaget Jesslyn. Erick melangkah mendekat, meletakkan helmnya di lantai lalau duduk di samping Valerie yang tengah asik memakan popcorn.
"Rapih banget, Lo mau kemana?" Tanya Jesslyn lagi. Erick menggelengkan kepalanya, "Gak kemana-mana" jawabnya.
"Itu bawa tas?"
"Oh, gua mau nginep disini seminggu. Nanti gua tidur di kamar kakak lo"
"Di kamar abang?" Jeven yang mendengar itu lantas menunjuk dirinya sendiri.
Erick memutar bola matanya malas. "Dih. Ngapain banget tidur sama abang"
Cengiran lebar Jeven terbit. "Kali aja kamu mau tidur bareng abang" perkataan Jeven membuat Erick bergidik ngeri. "Hih ogah"
"Kenapa lo ngeliatin gua?" Erick mengalihkan pandangannya kepada Jovan yang terus menatapnya lekat.
"Lo abis nyindir Jeno ya?" Goda Jovan dengan wajah tengilnya. Erick mendengus tanpa menjawab.
"Kkkk, anaknya ngelamun terus gara-gara sindiran lo"
Beberapa hari yang lalu Jovan menelpon Kanfa untuk menanyakan keadaan sang kaka karena Geo kembali sulit di hubungi. Kanfa mengatakan padanya bahwa Jeno sering melamun lagi, dan penyebabnya adalah hal yang sama. Tapi bukan karena Jeno teringat oleh Erick, tapi karena Erick yang menyindirnya terang-terangan di telfon. Dan hal itu ternyata cukup membebani fikiran Jeno.
"Bagus lah, berarti dia masih punya otak" ucap Erick ketus.
Jesslyn memukul lengan abangnya itu kencang. "Jangan godain dia abang, tendangan Erick bisa bikin abang gak bisa duduk berhari-hari"
Mendengar itu Jeven lantas membungkam mulutnya. Ia tidak akan berucap apapun lagi Demi keselamatan tubuhnya.
"Kaka Erick, kenapa tidak bawa Harena?" Valerie mendongakkan wajahnya menatap Erick, gadis kecil itu bertanya dengan suara lucunya.
Erick tersenyum manis. "Harena sedang di Washington, sayang. Kemaren kakek dan nenek menjemputnya" jawab Erick lembut.
"Yah, padahal Arie mau main sama Harena" ucap Valerie dengan wajah kecewanya.
"Lain kali ka Erick ajak Harena kesini ya"
"Janji ya?"
"Janji dong"
Setelah mengobrol panjang lebar dengan Scander bersaudara, Erick memilih untuk berjalan-jalan di sekita area taman belakang rumah. Di tempat ini lah ia lebih sering menghabiskan waktu bersama Jeno di rumah ini selain kamar cowok itu.
Erick membawa pandangannya pada sebuah gazebo kecil yang berada di tengah taman bunga. Taman bunga berbentuk melingkar seperti mengelilingi gazebo.
Gazebo itu menjadi saksi saat untuk pertama kalinya Jeno menyatakan perasaannya pada Erick. Mengungkapkan lewat sepotong red velvet yang sudah di makan setengahnya.
Erick tertawa mengingat hal tersebut, namun di tengah tawanya ia tidak bisa menahan air matanya untuk keluar. Erick menggigit bibirnya, menahan isakannya agar tidak keluar.
Matanya terpejam, menarik nafas dalam kemudian menghembuskannya perlahan. 'Aku baik-baik saja, Jen. Jika memang itu yang kamu inginkan'
Erick melanjutkan langkahnya menuju gazebo, pandangannya kembali mengedar pada bunga-bunga di sekitar gazebo yang mulai layu. Bahkan beberapa pohon ada yang sudah mati.
Erick berjongkok di depan salah satu bunga tulip berwarna putih. Bunganya sudah mulai layu, sepertinya karena masalah yang terjadi akhir-akhir ini, semua orang jadi tidak sempat merawat bunga-bunga ini.
"Maaf ya, kami sering mengabaikan kalian akhir-akhir ini. Mulai besok aku akan merawat kalian agar kalian kembali menjadi cantik" ucap Erick berbicara pada bunga-bunga yang mulai kehilangan kecantikannya.
--
Waktu sudah menunjukan pukul 6 sore, tapi Jeno masih setia berdiri di depan taman asrama.
Netra hazel nya menatap fokus pada hamparan bunga Lily cantik yang mekar dengan indahnya. Dirinya teringat pada kekasihnya yang sangat suka melihat hamparan bunga.
"Kamu pasti suka ada disini, Rick. Cartesy punya berbagai tempat kesukaan kamu" ucap Jeno.
"Jen" panggil Hiro dari arah gerbang asrama. Jeno mengalihkan pandangannya dari hamparan bunga ke arah Hiro.
"Ayolah, udah sore ini" ucap Hiro lagi mengajak Jeno kembali ke kamar.
Jeno berdecak kecil. "Bilang aja lo laper" cibirnya. Hiro terkikik kecil, "itu Lo tau. Ayo ah" ajaknya lagi sambil menyeret lengan Jeno masuk ke dalam asrama.
----
See you!