
"H-hamil?"
Charles menatap adik kesayangannya tak percaya. Kekecewan terpatri jelas pada kedua matanya.
"MAH!!" Sofia pingsan. Wanita paruh baya itu begitu shock mendengar berita kehamilan putri bungsunya.
Charles menepis tangan Ara yang hendak meraih tubuh sang mamah, tidak membiarkan gadis itu menyentuh sang mamah sedikitpun.
"Ka...."
"Jangan bicara apapun sebelum kau sadar apa kesalahanmu" Charles mengangkat tubuh sang mamah, membawanya keluar dari kamar sang adik.
Air mata Ara keluar semakin deras, gadi itu menangis histeris. Ara memukul-mukul perutnya kencang. Kenapa bayi ini harus hadir dalam hidupnya, kenapa ia juga bodoh mengikuti keinginn Aldre hanya demi agar lelaki itu tak membencinya.
"Pergi! Pergi!! Aku tidak mau kau ada diperutku!" Hati Ara sakit, sakit mendengar perkataannya sendiri. Janin dalam kandungannya seolah mengerti bahwa sang ibu tak menginginkan kehadirannya.
Ara membaringkan tubuhnya diatas ranjang, dirinya belum mendapat kabar tentang Aldre, entah bagaimana keadaan kekasihnya itu sekarang.
Charles membawa tubuh sang ibu disalah satu kamar tamu yang letaknya tak jauh dari kamar Ara. Meletakkan hati-hati tubuh lemas Sofia keatas ranjang.
"Ada apa dengan mamah? Kenapa sampai pingsan begini?" Javin baru saja tiba dari kantornya. Lelaki itu terkejut melihat sang ibu yang berada dalam gendongan adiknya dalam keadaan pingsan.
"Ka..." Panggil Neoura lembut. Tangannya mengelus pelan lengan sang suami.
"Ada apa?" Tanya Javin lagi dengan raut bingung.
"Ara hamil, ka"
"Hah?"
"Mamah pingsan setelah mendengar kabar itu, dan ka Bella begitu murka sama Ara"
"Dimana dia?"
"Dikamarnya, ada diujung lorong"
Javin melangkah keluar setelah menyerahkan jas kerjanya pada istrinya. Langkahnya ia bawa menuju kamar yang ditempati adik bungsunya.
Ceklek
Pintu yang terbuka dari luar sama sekali tidak mengganggu si penghuni yang tengah menangis. Tubuh mungil yang bergetar hebat dengan isak tangis yang kuat menjadi pemandangan yang Javin dapatkan begitu ia berhasil masuk kedalam kamar.
"Ara" Panggilnya lembut.
Ara berhenti terisak begitu mendengar suara kaka keduanya. Kepalanya menoleh cepat kebelakang tubuhnya.
"Abang..." Ucap Ara lirih dengan suara yang parau.
Javin mendekat, duduk dipinggir ranjang, tangannya mengelus halus rambut indah Ara.
"Kemarilah, peluk abang" Javin merentangkan tangannya, meminta sang adik menyambut pelukannya.
"Abang hiks hiks"
"Ssssttt sayang, abang disini" Javin memeluk erat tubuh mungil itu, memberikan kecupan-kecupan kecil dipuncak kepala Ara.
Kedua kalinya bagi Ara dipeluk seerat ini oleh satu-satunya kaka yang ia panggil abang itu. Yang pertama saat kejadian enam tahun lalu, dan sekarang adalah kedua kalinya.
"Jangan takut, abang disini sayang"
"Maafin Ara abang, Ara bodoh. Abang pasti kecewa sama Ara kan? Hiks"
"Kecewa, abang kecewa. Tapi Ara lebih butuh abang sekarang" jawab Javin lembut.
Tangis Ara semakin kencang, tidak menyangka abangnya lebih memilih mengesampingkan rasa kecewanya daripada meninggalkannya sendiri.
"Bagaiman Aldre?" Tanya Javin lagi. Tangannya masih setia mengelus punggung sang adik.
Javin bisa menebak apa yang terjadi pada Aldre, tapi ia tidak ingin menyuarakannya, khawatir kondisi Ara akan memburuk. Bagaimanapun Ara sedang hamil, dan pikirannya harus tenang agar tidak ada hal buruk yang terjadi padanya, atau kandungannya.
"Sekarang Ara istirahat ya, abang temani disini" Javin membaringkan tubuh Ara kembali keatas ranjang, menarik selimut untuk menutupi tubuh gadis itu.
"Abang jangan tinggali Ara, ya" Ara menahan lengan Javin agar tidak pergi.
"Abang disini, little princess. Abang akan menemani Ara sampai Ara bangun" ucap Javin.
Mata Ara mulai terpejam, tidak butuh waktu lama calon ibu muda itu langsung terlelap. Padahal dia juga belum dua jam bangun dari tidurnya.
.
.
William berjalan tergesa-geda memasuki ruangan tuannya. Lelaki itu baru saja mendapat telpon dari Leo tentang situasi di LA.
Tok tok tok
"Permisi, sir"
"Masuk"
Pintu terbuka, Revan dan Devan yang tengah berbicara menoleh kearah William. Dahi Devan sedikit mengkerut kesal karena pembicaraannya dan aang papah terganggu.
"Ada apa William?" Tanya Revan.
William menunduk hormat, "tuan Leo menelpon, tuan. Beliau menyampaikan sesuatu"
"Apa itu?"
Tarikan nafas berat lelaki 43 tahun itu lakukan sebelum melanjutkan perkataannya. "Nona Ara hamil, tuan. Dan nyonya pingsan setelah mengetahui kebenarannya"
Rahang Revan mengeras mendengarnya. "Aldre?"
"Iya tuan" William mengangguk.
"Brengsek!"
"Siapkan heli, kita ke bandara sekarang William!" perintah Revan.
"Baik tuan"
"Papah yakin?" Devan menatap papahnya serius.
"Ya. Lagipula semua persiapannya sudah selesai"
.
20 menit kemudian, Sofia tersadar dari pingsannya. Wanita paruh baya itu menangis begitu teringat dengan putri bungsunya. Masa depan putrinya hancur hanya karena cinta. Ara masih terlalu muda menjadi seorang ibu, bahkan gadis itu belum bisa menentukan mana yang baik dan buruk bagi dirinya sendiri.
"Mah, sudah ya. Mamah harus tenang" Neoura menggenggam erat tangan sang mertua. Memberikan kekuatan pada wanita paruh baya itu.
"Bagaimana bisa mamah tenang, Neoura. Bagaimana jika papahmu tau?"
"Papah tau, papah sudah tau" sahut Charles.
Tubuh Sofia semakin lemas mendengarnya. Kepalanya terasa semakin sakit sekarang. Bagiamana ia harus menghadapi sang suami nanti. Suaminya pasti marah besar.
.....
T B C?
BYE!