
Hari ini merupakan hari yang cukup melelahkan bagi Aldre. Rasa lelah ditubuhnya belum juga menghilang sejak ia latihan tembak pagi tadi.
Ini bahkan baru percobaan, bagaimana hari-hari berat kedepannya, mungkin badannya akan langsung remuk. Padahal sebelumnya, ia tidak pernah memiliki masalah melakukan latihan seperti ini. Atau mungkin karena ia berlatih dengan orang-orang gila yang mengawasinya?
"Cape ya?" Ara bertanya dengan tangan yang masih setia mengelua rambuta Aldre. Lelaki itu tengah merebahkan kepalanya diatas paha sang kekasih.
"Mm. Padahal sebelumnya gak pernah setelah ini" keluh Aldre dengan suara lirih.
"Mungkin karena kamu sudah lama tidak latihan, Al. Ditambah, kamu juga sibuk akhir-akhir ini"
"Mungkin kali ya, gak tau aku capek banget"
Aldre membenamkan wajahnya diperut Ara, memeluk erat pinggang ramping gadisnya. Keduanya kini berada dikamar tamu, masih berada di mansion Scander. Memutuskan menginap sampai semua masalah selesai.
"Tidur yuk" ajak Ara. Aldre menggeleng, ia masih belum mengantuk meski badannya terasa lelah. "Belum ngantuk, Ra" ucapnya dengan suara yang teredam.
"Minimal berbaring dikasur, Al. Biar badan kamu lebih enak" ajak Ara lagi. Karena saat ini mereka tengah ada diatas lantai yang dilapisi karpet lantai.
"Mm"
Ara menarik lengan Aldre untuk pindah keatas ranjang, meski lelaki itu mengerang kesal karena posisi nyamannya terganggu.
"Sayang~" Aldre merengek, membuat Ara mendengus kesal dengan bayi besar itu. "Sabar dong, Al. Kaya bayi tau gak kamu!"
"Aaaahhhh sayangggg" lagi, Aldre kembali merengek, dan tidak mengindahkan perkataan kekasinya.
Lelaki itu menatap kesal Ara yang berdiri diambang pintu kamar mandi. "Sayaangggg" Ara terkikik. Jarang-jarang Aldre akan manja seperti ini. Menggemaskan sekali.
Ara masuk kedalam kamar mandi, lalu menutup pintunya rapat-rapat, mencegah bayi besar itu nyelonong masuk. Ara ingin buang air kecil, ia sudah menahannya sejak tadi karena kekasihnya itu enggan beranjak dari pangkuannya.
BRAKK BRAKK BRAKK
Suara pintu yang dipukul cukup kencang terdengar. Ara memutar bola matanya malas. Benara kan dugaannya, untung saja ia sudah mengunci pintu.
"Kalau kamu pukul lagi itu pintu, aku gak mau peluk kamu sambil tidur!" Ancamnya. Berhenti, tidak ada lagi suara pintu yang dipukul keras.
Ara membuka pintu dengan perasaan kesal, didepan pintu Aldre menunggu dengan raut cemberut. "Sayaannggggg" rengeknya lagi.
"Berisik!"
"Aaaaa jangan marah. Uuuhhh"
Ara berjalan kearah ranjang, langsung merebahkan tubuhnya. Aldre setia mengikuti gadisnya, lelaki itu terdiam karena sang kekasih yang tak kunjung memeluknya.
Mata Aldre berkaca-kaca, bibirnya mencebik kecil. "Sayanggg? HUAAAAAA HIKS HIKS"
Netra biru Ara yang sudah tertutup kembali terbuka lebar. Ara terperanjat dari posisinya, terkejut dengan kekasihnya yang tiba-tiba menangis dengan kencang.
Dengan cepat Ara menarik tubuh Aldre kedalam dekapannya. Gadis itu shock, kenapa dengan hal kecil seperti ini kekasihnya jadi menangis? Astaga, padahal biasanya juga lelaki itu langsung saja memeluknya. Tidak perduli ia marah atau tidak.
"Ara jahattt huaaaaaa hiks hiks"
"Iya iya, maaf ya. Ara cuma bercanda loh tadi" tangan Ara menepuk-nepuk pundak Aldre seperti bayi.
"Gak boleh kaya gitu sama Aldreee hiks hiks"
"Iya sayang maafin Ara ya"
Setelah lelah menangis hampir setengah jam, Aldre pun terlelap dengan posisi masih dipeluk Ara. Lelaki itu tertidur pulas setelah drama anehnya yang tiba-tiba merengek dan menangis.
Ara mengubah posisinya perlahan menjadi berbaring tanpa melepaskan pelukannya, takut kekasihnya itu akan terbangun dan menangis lagi.
"Selamat malam, bayi besar"
.
Matahari bersinar dengan cerahnya pagi ini. Cahaya keemasannya menyambut setiap insan dengan kehangatannya.
Ara membuka matanya karena cahaya matahari yang menyorot tepat kewajahnya.
"Selamat pagi" sambutan riang dari Aldre gadis itu dapatkan.
Senyum lebar Aldre menjadi pemandangan pertama yang Ara dapatkan saat matanya terbuka sempurna.
"Selamat pagi, bayi besar" balas Ara dengan senyum manisnya.
"Bayi besar?" Kening Aldre mengerut bingung. "Iya, kamu bayi besar" ucap Ara lagi.
"Sudah mandi?" Aldre menggeleng. "Mandi dulu gih"
"Mandi bareng ya" pinta Aldre dengan masa berbinar. Ara menggeleng cepat, "gak boleh, sayang. Kan belum sah" tolak Ara lembut.
"Udah-udah, cepet mandi gih. Nanti kita telat sarapan"
Aldre beranjak turun dari ranjang dengan wajah cemberut. Berjalan lemas kearah kamar mandi. Berkali-kali menoleh pada Ara, berharap gadis itu amu bergabung dengannya. Tapi hanya gelengan kepala sang kekasih yang diringa dapatkan.
.
.
Kevin duduk dimeja makan, bersamaan dengan Galih yang muncul dari dapur dengan dua piring omelette ditangannya. "Ara dan Aldre belum turun?" Tanya Kevin.
"Belum. Mungkin sebentar lagi" jawab Galih yang sibuk menatap makanan.
"Dimana anak-anak?"
"Dapur. Lima bocah rusuh itu tengah ribut membuat susu, dan yang paling tua hanya menonton sambil tertawa seperti orang kerasukan" keluh Galih. Ia pusing melihat tingkah anak dan keponakannya. Mereka memang tidak seharusnya disatukan.
"Hahaha, biarkan saja. Setidaknya mereka tidak memikirkan masalah kita"
"Iya sih, tapi--"
"THE TRIPLETS!!!! WHAT ARE YOU DOING?!!" Teriakan menggelegar Isabella terdengar.
Galih menatap sang suami lemas. Baru ingin ia keluarkan keluhannya, sudah kejadian duluan.
"GEEEEEEE!!!"
"I'M COMING"
Kevin terkekeh geli, tubuhnya bergetar menahan tawanya agar tidak meledak. Galih memejamkan matanya erat menahan emosinya yang hampir meledak. Bocah-bocah itu benar-benar.
"Ayo ayo, nanti dia semakin mengamuk" ucap Kevin mendorong halus tubuh sang istri.
"Wow!! Apa ada acara mandi susu pagi ini?" Ucap Kevin begitu ia masuk ke dapur.
Disebelahnya sang tuan rumah hanya menggeleng lemah melihat kelakuan ketiga putranya dan dua keponakannya. Jeven yang berdiri diujung sudah seperti orang keserupun karena mentertawai kelima adiknya yang berlumuran susu.
"Kemana muka datar mu itu, Jovan?" Celetuk Kevin lagi.
"Foto dad foto dad, kirimkan pada Harena" timpal Jeven.
"AAUUU, kalian kenapa?" Ara ternganga melihat kelima keponakannya
"WAAAHHHH, ada manusia susu" heboh Aldre.
"Paman tidak akan pernah mengijinkan Edward berteman dengan kalian berlima lagi. Benar-benar rusuh" ucap Leo ketus.
"TIDAK ADA SARAPAN SEBELUM KALIAN BERESKAN INI!!" Amuk Isabella.
Kelimanya hanya bisa menunduk. Bahkan wajah Jovan yang biasanya hanya dihiasi raut datar kini tampak konyol karena bubuk susu yang memenuhi wajahnya seperti bedak.
"Ka Jovan ehh--"
Tawa Jeven semakin keras ketika wajah musuh bebuyutannya itu berubah panik.
Harena dan Erick baru saja masuk kedapur, diikuti Daniel dan Ana dibelakang mereka.
"Apa kita sedang mengadakan pesta susu?" Tanya Erick polos.
"HAHAHAHA"
"Liat anakmu, Boo! Aku pusing dengan mereka bertiga! Kamu juga, kenapa adeknya didiemin?!" Keluh Isabella.
"Loh, Jeven sama papah udah ngelarang, bundaaa. Tapi kan bunda tau gimana mereka kalau udah bersatu" jawab Jeven membela diri.
"Bunda, kami selesai" kelima bocah rusuh itu masuk keruang makan, masih dengan kondisi yang sama.
"Bunda, lapeeeerr"
"Mandi dulu, bunda pusing nyium bau kalian"
"Iya bunda" Kelimanya pun pergi menuju kamar masing-masing untuk membersihkan diri.
.....
T B C?
BYE!