Her And Bitter Memories

Her And Bitter Memories
5. Jajan



Para siswa dan siswi berhamburan keluar dari kelas satu detik setelah bel pulang berbunyi.


Begitu pun ke tujuh remaja yang kini berjalan beriringan menuju parkiran. Erick berjalan sempoyongan kepalanya terasa pening setelah tertidur hampir dua jam di dalam kelas dan bangun tiba-tiba karena mendengar suara bel pulang.


"Kau berjalan seperti mumi" celetuk Virzan. Erick berdecak, kepalanya sangat-sangat pusing. "Kepala ku pusing"


"Kita naik mobil aja ya" ucap Jeno khawatir. Erick kembali berdecak, "memangnya kamu bawa mobil?" Jeno mengangguk sebagai jawaban.


Jovan yang mendengar hal itu langsung mendelik pada sang kaka. Manusia seperti Jeno mana mau membawa mobil ke sekolah,bocah itu lebih senang mengendarai motor besarnya. Jelas saja mobil yang di maksud adalah milik Jovan yang hampir di sita sang ayah semalem.


"Mobil siapa yang kau maksud sialan?!" Seru Jovan sewot.


Jeno tak menghiraukan perkataan sang adik, pandangannya hanya terfokus pada cowok manis di hadapannya.


Erick menghela nafas berat, kepalanya yang pusing bertambah menjadi pusing mendengar perdebatan kedua saudara kembar ini.


"Naik motor aja. Biar sekalian kena angin" lerai Erick.


"Kamu yakin?" Tanya Jeno meyakinkan masih dengan raut khawatir yang tercetak jelas di wajahnya.


Erick mengangguk mantap. Jeno berjalan ke arah motornya, mengambil helm dan memakainya. Lalu mengambil satu helm lain yang sengaja di bawanya untuk Erick, karena biasanya Erick memang selalu pulang bersamanya.


"Buseehhh soswet banget kang mas" goda Brian yang heboh sendiri.


"Mau juga dong di pakein helm" sahut Virzan ikut menggoda keduanya.


"Yang jomblo minggir yang jomblo minggir. Yang lagi kasmaran mau lewat nih boskuh" timpal Keano yang tak mau kalah.


Semburat merah menyelimuti pipi Erick. Cowok itu menunduk menahan malu. Sedangkan Jeno hanya bersikap santai seolah godaan para sahabatnya tak mempengaruhinya sama sekali.


"Gak usaj di dengerin. Ayo pulang" ucap Jeno pada Erick yang masih menunduk. Erick mengangguk pelan, tidak berani mengangkat wajahnya.


"Iya sayang ayok pulang yuk"


"Jalan-jalan dulu ya yang "


"Peluk aku ya sayang biar kamu gak jatuh ke pelukan yang lain"


"AAAACCCIIEEEEEEE" heboh ketiganya yang mengundang perhatian para siswa yang masih berada di area parkir.


"Orang gila" gumam Jeno tersenyum miring.


Jeno mengeluarkan motornya dari barisan kembali tidak memperdulikan tingkah menyebalkan para sahabatnya.


"Ayo naik"


Erick bergegas naik ke atas motor besar itu. Berpegangan pada kedua bahu sang kekasih.


"Peluk dong peluk" goda Virzan lagi.


"Gak usah malu malu. Udah biasa kok kita" timpal Jesslyn yang ikut gemas melihat tingkah malu-malu Erick.


Erick hanya meletakkan kedua tangannya di atas pahanya sendiri tidak berani menyentuh atau memeluk tubuh Jeno.


"A-ayo jalan" ucap Erick gugup.


Jeno tidak bergeming, masih setia pada keterdiamannya. Cowok itu justru malah mematikan mesin motornya.


Erick menatap Jeno bingung. "K-kenapa?"


"Gak mau jalan kalau belom di peluk" ujar Jeno.


"UHUYYYY" teriakan heboh semua orang yang berada di parkiran seolah mendukung perkataan Jeno.


Membuat wajah Erick yang semula sudah memerah semakin bertambah merah. Dalam hati Erick menyumpah serapahi sang kekasih yang selalu membuat dadanya berdebar tak karuan seperti saat ini. Di tambah banyak sekali siswa dan siswi lain yang memperhatikan mereka sejak tadi.


Dengan gerakan lambat, Erick melingkarkan kedua tangannya di pinggang Jeno yang sukses membuat si empu tersenyum lebar.


"Dasar menyebalkan" bisik Erick kesal sambil menyandarkan kepalanya di pundak Jeno.


Tawa merdu Jeno menggema, yang sukses membuat debaran di hati Erick semakin kencang. Jeno menolehkan kepalanya ke samping, dengan lembut berkata. "Pegangan yang erat ya sayang"


Erick mengeratkan pelukannya pada pinggang sang kekasih, mengecup bahu lebar Jeno dari balik helm. "Jangan ngebut-ngebut ya sayang" balas Erick dengan senyum manisnya.


"Aasshhh"


***


"Ka Erick belum pulang?" Tanya Harena pada Valerie yang tengah menyusun lego.


"Ka Jeno juga belom pulang. Ka Erick pasti di bawa kabur ka Jeno" ucap Valerie dengan wajah polosnya.


Harena melipat kedua tangannya di depn dada, memasang ekspresi kesal yang justru malah terlihat menggemaskan.


"Huh. Ka Jeno selalu culik ka Erick" bibir Harena mengerucut.


"Hihihihi"


***


"Kita mau kemana?" Tanya Erick. "Kamu maunya kemana?" Ucap Jeno balik bertanya.


"Pulang"


"Kok pulang?"


"Emangnya mau kemana lagi? Lagian aku belum ketemu Harena sejak kemarin"


"Yakin mau pulang? Gak mau street food?" Tawar Jeno.


"Ihh mau" jelas Erick tidak akan menolak apa pun yang berhubungan dengan jajan. Karena jajan adalah separuh hidupnya, begitu kata Erick.


"Hahaha. Let's go" Jeno melajukan motornya ke salah satu area street food terkenal di Los Angeles.


Salah satu tempat yang selalu masuk dalam list kencannya dengan Erick. Tidak pernah terlewat sekali pun, bahkan mereka tidak pernah bosan datang kesana.


Mereka tiba di area parkir. Tanpa banyak berucap Erick langsung melompat turun dari motor,melepaskan helmnya dengan cepat, lalu berlari masuk ke dalam area jajanan.


Jeno yang melihat hal itu hanya bisa menggelengkan kepalanya. Erick selalu semangat jika bertemu jajanan seperti ini. Cowok itu akan mendatangi satu persatu stand yang ada di sana.


Setelah memakirkan motornya dengan tepat, Jeno menyusul Erick masuk ke dalam. Tidak sulit menemukan kekasihnya itu, karena stand pertama yang di datangi Erick sudah pasti cumi bakar.


"Halo Jeno" sapa pria paruh baya yang meruapakan pemilik stand.


"Halo paman" Jeno kembali menyapa. "Berapa yang Erick pesan?" Tanyanya.


Paman mengangkat empat jarinya ke atas. Cukup membuat Jeno terkejut, karema biasanya Erick bahkan tidak bisa menghabiskan satu cumi berukuran besar tan berakhir dirinya yang harus menghabiskan.


"Banyak sekali" gumam Jeno. Erick menolehkan kepalanya kebelakang, memamerkan cengiran lebarnya pada sang kekasih.


"Buat orang-orang di rumah" ucap Erick. "Ya, terserah kamu aja"


"Ihiy"


"Nah ini cuminya" paman menyerahkan dua kantong plastik besar pada Erick yang diterimanya dengan senang hati. Dan Jeno mendapat bagian membayar jajanan sang kekasih.


Selanjutnya yang mereka lakukan adalah menghabiskan seluruh uang di dalam dompet Jeno. Lebih tepatnya Erick yang menghabiskan uang sang kekasih.


****


See you again!!