
Geo tengah bersantai di ruang tamu ketika ponselnya tiba-tiba berdering. Cowok itu membuka matanya yang terpejam dan menatap ke arah ponselnya yang tergeletak di atas meja, melihat siapa sekiranya yang tengah menelponnya sore hari begini.
"Virzan" gumam Geo dengan kening yang mengkerut dalam. "Tumben"
Tangan kanan Geo terulur meraih ponsel miliknya, tanpa menunggu lagi Geo langsung menjawab panggilan tersebut.
"Halo" Geo tidak tau apa yang terjadi, tapi entah kenapa jantungnya berdebar sangat kencang saat ini.
"Geo"
Geo bisa mendengar suara Virzan yang berseru senang. Satu alisnya terangkat, wajahnya menampilkan ekspresi bingung. "Ya, kenapa Zan?"
"Gak apa-apa, cuma kangen aja sama lu" jawab Virzan yang jika Geo tak salah dengar, suara terdengar malu-malu.
"Tumben banget lu, kulkas" ucap Geo heran namun terkekeh kecilnya.
"Apaan, biasanya juga kalau gua nelpon gak pernah di jawab" sungut Virzan.
Geo menampilkan cengiran tak berdosanya meski tau Virzan tak dapat melihatnya. "Hehehe, lagi menata hati"
"Halah tai"
Kanfa dan Hiro keluar dari dalam kamar, keduanya berjalan mendekat pada Geo yang tengah bertelepon. Kanfa menunjuk ponsel Geo, bertanya siapa yang menelpon cowok itu.
"Virzan" jawab Geo tanpa suara.
Kanfa dan Hiro saling pandang, kedua sudut bibir mereka terangkat menampilkan senyum penuh arti.
"ZAN BAGI DUIT!!" teriak Kanfa dengan suara yang cukup keras. Geo yang terkejut dengan teriakan itu lantas melotot tajam pada sahabatnya itu.
"Berisik anjing!" sahut Geo kesal.
Seolah tidak perduli dengan omelan Geo, Hiro justru malah ikut menimpali. "PEWARIS TAHTA KAGA BOLEH PELIT!!" serunya tak mau kalah.
"Rusuh bener bocah heran" omel Geo lagi.
Suara tawa Virzan terdengar dari sebrang sana. Geo menurunkan ponselnya, menyalakan speaker seperti yang Virzan lakukan.
Selama mendengar Virzan yang tertawa, Geo baru menyadari bahwa tawa sahabatnya itu sangat merdu. Dan hal itu mampu membuat hatinya menghangat.
Hiro duduk di hadapan Geo, merampas ponsel cowok itu tanpa aba-aba. Geo mencoba mengambil ponselnya, namun tak berhasil karena Hiro yang lebih dulu menjauh.
"Apasih ah, gua mau minta duit sama pewaris tahta" ucap Hiro.
"Bapak lu abis ngirim duit ya bego!" Sungut Geo kesal. Hiro mengibaskan tangannya tidak perduli. "Bodo amat, lagian dia sepupu gua ya bajingan!" Balas Hiro.
"Si bangsat ini"
Suara tawa Virzan berhenti. "Udah-udah, nanti gua kirimin ya" ucap Virzan melerai keduanya.
Geo berdecak keras. "Jangan diturutin, magadir" ucap Geo yang kembali melirik kedua sahabatnya tajam. "Gak apa-apa, yo" balas Virzan lagi.
"Tuh yo dengerin, Virzan aja gak apa-apa. Posesif bener si kaya penganten baru" seru Kanfa menunjukan senyum penuh kemenangannya.
"Lu magadir goblok"
"Bodo amaaaatttt"
Tak lama suara pintu yang terbuka terdengar, Jeno yang seperti baru saja bangun tidur keluar dari dalam kamar. Netra hazelnya menatap tajam ketiga sahabatnya yang sedari tadi berisik dan sangat mengganggunya.
"Kalian tuh kaya monyet yang sahut-sahutan di hutan tau gak?! Berisik!" omelnya sambil menatap ketiganya satu persatu.
Hiro, Geo, dan Kanfa menatap sinis ke arah Jeno. Dateng-dateng malah marah-marah.
"Au bicik amat gak di ajak padahal"
"Au huh gak punya temen ya"
"Anjing!"
"Wkwkwkwk"
Saat asik menertawakan Jeno, Geo dikejutkan dengan suara Erick yang memanggilnya.
"Yo" panggil Erick. "Ya?" jawab Geo.
Geo tidak tau bahwa Virzan tengah bersama Erick, ia pikir Virzan tengah sendiri atau bersama Brian karena cowok itu tidak mengatakan apapun.
"Titip salam ya buat orang yang suka ngilang sama ngelanggar janji" ucap Erick dengan suara yang sengaja di besarkan.
Geo tertawa lebar. "Anjai-anjai" spontan Geo menatap ke arah Jeno, mencoba mencari tau bagaimana reaksi sahabatnya itu.
Benar saja, tubuh Jeno mendadak kaku setelah mendengar suara sang kekasih. Apalagi Erick terang-terangan menyindirnya.
"Bilangin juga, tenang aja gua gak bakal nungguin dia kok. semangat deh buat sekolah dan mimpinya, kalau ketemu yang baru jangan ditinggal tiba-tiba lagi ya" lanjut Erick.
Geo menutup mulutnya dengan kedua tangan, menahan diri agar tawanya tidak meledak. Begitupun dengan Hiro dan Kanfa yang sudah meledek Jeno habis-habisan.
"Aman Rick, pesan tersampaikan" seru Kanfa heboh.
"Thanks ya, Fa. Lanjut lagi dah malaknya, gua mau ngambil cemilan dulu"
"Oke siap" Kanfa mengacungkan kedua jempol tangannya.
"I'm so proud of you, bro" ucap Virzan setelah Erick keluar meninggalkan kamarnya.
"Brother goals banget ye kan" timpal Geo. Virzan terkekeh manis. "Jadi malu" cicitnya pelan.
"Apasih anjing cringe banget"
"Hehehehe"
"Tutup ya, Zan. Gua punya misi dadakan nih" ucap Geo yang sudah tidak sabar ingin meledek Jeno.
"Oke-oke gua paham. Nanti telpon lagi ya" balas Virzan.
"Siap"
Telpon sudah tertutup, detik itu juga tawa Geo, Hiro, dan Kanfa meledak. Jeno masih berdiri kaku dengan wajah shocknya. Tentu saja mereka bertiga tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.
Rasa kesal mereka beberapa minggu terakhir telah di bayar telak oleh Erick.
"Rasakan itu bajingan!" ucap Hiro puas.
"Mampus! Kena kan lu" timpal Kanfa.
"BUAHAHAHAHAHAHA" Geo hanya menjadi bagian yang tertawa paling kencang.
"Sialan!" Jeno kalah telak. Dirinya tidak bisa melawan walau hanya membantah dengan satu kata sekalipun.
See you!