Her And Bitter Memories

Her And Bitter Memories
37. Cartesy



PLAKK!!!


"AYAH!!"


BUGGHH!!


Isabella membalas tamparan suaminya dengan pukulan keras di wajahnya, membuat Justin hampir tersungkur ke bawah.


"Jangan melimpahkan semua kesalahan padaku!!"


"Ku ingatkan jika kau lupa. Apa yang terjadi padaku dulu berawal dari kau dan keluargamu!!" Tunjuk Isabella tepat di depan wajah Justin.


Rahang Justin mengeras, dirinya kelepasan menampar sang istri dan sekarang mereka hampir bertengkar di depan anak-anak mereka. Dan yang terpenting dirinya sukses kembali membuka luka lama istrinya.


"Kita bicara di luar" ucap Justin setelah berhasil mengendalikan dirinya.


"Aku tidak mau bicara apapun padamu" tolak Isabella.


"Bee.."


"Keluarlah ka Justin dan jangan buat keributan di sini. Kau tidak lihat kondisi istriku?!" Seru Kevin menyela pertengkaran keduanya


Justin memilih mengalah, melangkah keluar dari sana. Tak dirinya sangka jika perdebatan semalam membuat putranya itu melakukan tindakan nekat seperti ini.


"Dear..." Panggil Galih. Isabella menarik nafas panjang, lalu mendekat pada Galih yang masih berada dalam pelukan suaminya.


"Maafkan aku, harusnya aku tidak menceritakan hal itu pada anak-anak ku" ucap Galih penuh penyesalan.


Isabella menggeleng. "Tidak Ge. Ini salah ku dan ka Justin, memang sudah seharusnya mereka mengetahui hal ini"


"Aku tidak selamanya bisa menyembunyikan hal ini dari mereka, apalagi mereka sudah dewasa. Tapi mungkin aku masih butuh waktu untuk menceritakan segalanya" Isabella melirik sekilas anak-anak nya yang masih berdiri kebingungan.


"Aku mengerti" Galih mengelus lembut tangan sahabatnya. Keberadaan Isabella membuatnya jauh lebih tenang.


"Suami mu terlalu berpusat pada rasa sakitnya sampai melupakan bahwa dia yang menciptakan rasa sakit mu" timpal Rayyan.


Isabella memutar bola matanya. "Jangan lupakan bahwa putra kebanggaan mu juga salah satu penyebab luka ku!" balasnya tajam yang langsung membuat Rayyan merapatkan bibirnya.


**


"Aku tidak menyangka kau akan melakukan hal segila ini" Geo mengeluh begitu dirinya dan Jeno tiba di Jerman.


Keduanya melangkah keluar dari bandara sembari menyeret koper milik mereka juga jangan lupakan tas besar yang tersampir di pundak mereka.


Geo bisa membayangkan bahwa saat ini papahnya pasti tengah menangis histeris seperti waktu itu saat tau dirinya pergi tanpa pamit.


"Aku akan membunuh mu jika terjadi sesuatu pada papah ku!" Geo kembali melayangkan kekesalannya pada Jeno meski sahabatnya itu tak menghiraukan nya sama sekali.


Mobil yang Jeno pesan tiba tepat ketika mereka sampai di lobby bandara. Tanpa banyak bicara Jeno meletakkan barang bawaannya di bagasi belakang lalu masuk ke dalam mobil diikuti Geo setelahnya.


"Bitte beeilen Sie sich, Sir" pinta Jeno pada supir.


"Gut, junger Meister"


"Yahhh i'm back my school life"


Geo berteriak lantang sambil merentangkan kedua tangannya. Kesibukannya sebagai siswa akan kembali di mulai.


Keduanya berjalan beriringan masuk ke dalam gerbang sekolah. Nyatanya sudah banyak para siswa baru yang mulai berdatangan tapi sepertinya tak satupun dari yang sudah menempati asrama kecuali Jeno. Pengecualian untuknya karena ia adalah putra pemilik sekolah.


Ouh apakah aku sudah beritau bahwa Cartesy Family School adalah milik keluarga Courtland? Saat ini yang memegang sekolah tersebut adalah Isabella Scander.


Saat Isabella berusia 17 tahun ketika dirinya masih menginjak bangku kuliah di Cartesy University, Cartesy Family School sudah di pindahkan kepadanya sebagai yang bertanggung jawab mengelola dan menjaga sekolah tersebut.


Dan jika Jeno bisa bertahan lebih dari 5 tahun di sana dengan prestasi yang luar biasa, maka Cartesy akan di berikan kepadanya untuk di kelola dan di jaga sebagaimana mestinya.


"Selama datang, tuan Jeno" para penjaga yang berjaga di dalam pos langsung berlari keluar begitu melihat kehadiran Jeno.


Mereka adalah para penjaga yang sama yang menjaga Cartesy saat Isabella dan yang lainnya masih sekolah di sana. Betapa senangnya hati mereka bisa melihat keturunan nona muda yang selalu menjadi penghibur mereka saat merasa lelah bekerja dan saat rindu keluarga.


"Selamat pagi, pa. Tak perlu panggil tuan muda, panggil Jeno saja" Jeno membalas sapaan itu dengan senyum lebar. Senyum yang mengingatkan mereka pada sosok gadis muda yang tidak pernah memandang mereka rendah.


Sosok gadis muda yang selalu menyempatkan diri datang ke depan gerbang di pagi hari demi menyapa dan mengantarkan mereka sarapan. Memastikan bahwa hari mereka diawali dengan kebahagiaan.


"Kalau begitu kami masuk dulu ya pa" pamit Geo


"Silahkan. Semoga hari-hari kalian berjalan menyenangkan"


"Amin" Geo dan Jeno menjawab kompak.


Perjalanan kembali mereka lanjutkan menuju pintu utama bangunan sekolah.


"Dimana kampusnya?" tanya Jeno. Sejauh mata memandang, dirinya sama sekali tidak melihat bangunan kampus.


Geo tertawa dengan keras, kapan terakhir kali sahabatnya ini berkunjung kesini?


"Ini kampus bodoh" serunya.


"Hah?"


"Ck! Bangunan depan ini adalah area kampus. Bangunan sekolah yang kita tempati masih jauh kebelakang. Saat kita kuliah nanti, kita akan pindah ke bangunan yang paling megah itu"


Geo menunjuk ke sebuah bangunan paling besar dan megah di antara yang lainnya. Berdiri kokoh selayaknya bangunan kerajaan dalam cerita dongeng.


"Ouh?"


"Bangunan sekolah kan sebelumnya terpisah, tapi setelah generasi paman Greyson bangunannya di satukan karena area taman belakang masih sangat luas bahkan terlalu luas untuk perkebunan dan lapangan golf" jelas Geo lagi.


"Seberapa luas?"


"Mungkin 10x lipat dari luas istana keseluruhan"


"Wow"


Jeno sama sekali tak menyangka bahwa keluarga bundanya bisa memiliki sekolah sehebat ini.


"Amazing"


"Hahaha dasar norak"


***


See you!