
Dua pintu besar berwarna cokelat muda itu terbuka lebar, menampilkan sosok wanita cantik yang bisa Jeno tebak mungkin seusia grandpa dan grandma nya.
"Selamat datang cucu Revano Courtland dan Sofia Courtland" sambutan hangat Jeno dapatkan dari wanita tua tersebut, meski diselipi sedikit nada sarkas dalam ucapannya.
Satu alia Jeno menukik. "Siapa dia?" gumamnya.
"Kau tidak tau? Rena Monsel. Mantan kekasih grandpa sekaligus kepala yayasan Cartesy" jawab Geo.
Kepala Jeno mengangguk paham, ia kenal nama itu. Bundanya pernah menceritakan kisah Cinta grandpa nya sebelum bertemu grandma dulu.
Rena menatap kesal Geo, seharusnya bocah ini tak usah menyebut nama itu. "Diam kau bocah" sentaknya.
"Harusnya nenek bangga karena diperebutkan dua putra mahkota Courtland dan Skholvies pada masanya"
"Panggil aku Mrs. Dan aku tidak perduli pada dua kakek mu"
"Marah-marah terus awas asam urat nya kambuh"
Plakk!!
"Akhhhss! Penganiyaan dalam sekolah"
"Rasakan itu"
"Ayo masuk" Rena menarik lengan Jeno untuk masuk ke dalam sekolah, meninggalkan Geo yang masih meringis kesakitan akibat geplakan maut yang didapatkannya.
"Dasar pilih kasih" gerutunya.
"Kau datang lebih cepat dari yang mrs duga" ucap Rena memecah suasana.
"Aku kabur" jawab Jeno singkat. "Kabur?" Rena menoleh menatap calon anak muridnya itu dengan kepala yang miring ke samping.
"Something problem"
"I see"
Mrs. Rena mengantar Geo dan Jeno sampa ke depan gerbang asrama. Wanita paruh baya yang masih cantik itu tidak mengeluarkan banyak suara, dirinya paham jika mood putra Isabella dan Justin tersebut sedang dalam mood yang tak baik.
"Istirahatlah. Nikmati waktu mu dengan baik sebelum masa persekolahan dimulai"
"Terimakasih Mrs."
"Sama-sama, kalau begitu saya permisi dulu ya"
****
Revan baru mendengar kabar tentang cucunya yang sepertinya lebih tepat disebut kabur daripada berangkat tanpa pamit.
Netra birunya yang sudah tua bergantian menatap Putri dan menantunya sejak beberapa menit yang lalu.
Masih tidak habis fikir dengan ego dan emosi keduanya yang tak kunjung berubah setelah puluhan tahun.
Isabella hanya bisa menundukkan kepalanya tanpa berani menatap sang papah, sedangkan Justin mengedarkan pandangannya ke arah lain.
"Pah!!" sentak Justin keras.
"Kenapa? Memang benar kan? Ego mu mengalahkan hatimu sampai berkali-kali menyakiti hati istri mu sendiri. Dan istri mu? Kau yang menciptakan emosinya"
"Apa yang salah dari perkataan papah untuk meminta kalian bercerai? Papah muak melihat permasalahan kalian yang berputar di titik yang sama!"
Satu tangan Revano memijat pelipisnya yang terasa berdenyut, mereka masih berada di kediaman Aldebaren. Rasanya sangat tidak pantas jika bertengkar di rumah orang lain tapi mau bagaimana lagi, dirinya sudah tidak memilik kesabaran hanya untuk menyeret anak dan menantunya pulang.
"Bagaimana?" Revano bertanya pada William yang baru saja kembali setelah mencari kabar tentang Jeno.
"Tuan Jeno dan tuan Geo sudah sampai di Cartesy, tuan besar" jawab William.
Revano menghembuskan nafas lega, setidaknya kedua cucunya sudah aman sekarang. "Syukurlah"
"Kau boleh pergi, William"
"Baik tuan"
Revano kembali menatap Justin dan Isabella bergantian selama beberapa menit sebelum akhirnya tatapan terhenti pada sang Putri.
"Jangan lupa beritahu Jeno saat kalian bercerai. Selama kamu mengurus perceraian, Isabella akan kembali ke mansion Courtland" ucap Revan pada Justin.
"Justin gak akan pernah menceraikan Isabella!!" seru Justin dengan keras.
Tanpa menghiraukan perkataan Justin, Revan menarik lengan putrinya untuk bangkit dan membawanya pulang.
"Ayo, princess"
"Mm"
Isabella hanya menurut tanpa perduli pada sang suami yang menatapnya sendu.
Perlahan Ara mendekati kakak iparnya, menepuk pelan bahu yang lebih tua. "Pulang lah ka Justin, ajak anak-anak. Kasian mereka"
"Iya. Bisa tolong panggil kan mereka?"
"Tentu"
Skip time..
"Kenapa bunda tidak ikut pulang bersama kami, ayah?" tanya Jovan. Sejak mereka berangkat dari mansion Aldebaren, Jovan sama sekali tidak melihat dimana keberadaan sang bunda.
"Bunda pulang ke rumah grandpa untuk sementara" jawab Justin seadanya.
"O-oh oke" Jovan tak bertanya lebih banyak, raut wajah sang ayah menunjukan bahwa lelaki itu sedang tidak ingin berbicara apa pun.
"Ayo kita ke kamar" Jeven mengajak adik-adiknya masuk ke dalam kamar, meninggalkan Justin yang termenung di ruang tengah.
*****
See you!