Her And Bitter Memories

Her And Bitter Memories
20. Acara keluarga



Dengan perasaan malas, Erick bangkit dari atas ranjang. Untuk kesekian kali dalam sebulan ia menginap di mansion sang kakek. Entah ada apa dengan sang papah yang akhir-akhir ini senang sekali bertemu kakeknya.


"Ka Erickkk!" teriakan keras dari luar kamar terdengar. Bisa Erick tebak dengan jelas bahwa pemilik suara itu adalah adiknya.


"Iya kaka sudah bangun" balas Erick sedikit berteriak.


"Ada ka Jeno di luar" seru Harena memberitahukan kedatangan kekasih sang kaka.


"Hah?!"


Dengan terburu-buru Erick berlari masuk ke dalam kamar mandi. Mencuci wajah dan menggosok giginya, bahkan tidak sempat untuk mandi karena takut membuat sang kekasih menunggu.


Setelah selesai, Erick melangkah menuju pintu kamarnya membuka pintu dengan gerakan tiba-tiba membuat Harena yang masih berdiri di depan kamarnya menjadi terkejut.


"Kaka tidak mandi ya?" tanya Harena yang tidak di hiraukan Erick.


Bocah itu tetap berjalan menuju tangga, bahkan sampai lupa mengenakan sendal miliknya.


"Ka Erick ko mau ketemu pacar gak mandi sih? Jorok banget" gumam gadis kecil itu sambil menatap kepergian sang kaka.


Erick tiba di lantai bawah, mendapati Jeno yang masih ada berdiri di depan pintu sambil memainkan ponselnya. Jeno yang merasakan kehadiran kekasihnya lantas mendongak, mengalihkan atensinya pada pujaan hatinya itu.


"Kamu kok gak bilang mau kesini?" tanya Erick dengan nafas memburu.


"Baru bangun ya?" Jeno balik bertanya tanpa menjawab pertanyaan Erick.


"Jawab dulu pertanyaan aku"


"Aku mau jemput kamu"


Kening Erick mengkerut dalam. "Jemput? Seingat aku kita gak punya janji buat main"


Jeno mengulas senyum tipis. "Memang tidak. Aku mau ajak kamu ke acara keluarga ku" ucap Jeno menyampaikan niatnya yang ingin memperkenalkan Erick pada keluarganya.


"Hah? Aku udah kenal keluarga Grandpa"


"Bukan keluarga Grandpa, sayang. Tapi keluarga opah"


Mata Erick melotot horor. Apa kata Jeno tadi? Keluarga opah? Maksudnya keluarga Scander?


"Hahaha, kamu bercanda ya?"


"Aku serius"


"Jen, kita masih kecil"


"Lalu? Aku cuma mau opah dan omah tau siapa calon cucu menantu dari cucu tertuanya"


Erick tidak pernah menyangka bahwa kekasihnya akan segila ini, mereka bahkan belum tentu berjodoh saat dewasa nanti. Dan oh? Dirinya baru menyadari bahwa penampilan Jeno sangat rapih, persis seseorang yang akan menghadiri pesta.


Kepala Erick menggeleng ribut. "Gak mau"


Sebelah alis Jeno terangkat, netranya memicing tajam. "Aku gak nerima penolakan"


"Jen..."


"Aku tunggu kamu disini"


"Ck!" Erick hanya bisa berdecak sebal kemudian berbalik kembali menuju kamarnya untuk bersiap.


"Duduklah Jeno" ucap Ana yang hendak menghampiri keduanya.


"Terimakasih aunty"


"Kamu benar-benar serius pada cucu kakek ya" Rayyan berucap begitu Jeno menjatuhkan tubuhnya di atas sofa.


" kakek, you know how my father is, right? people say I look like him" jawab Jeno dengan nada kelewat santai.


Rayyan tertawa mendengar jawaban putra dari sahabat putranya itu. Persis seperti ayahnya yang selalu serius dalam segala hal.


"Kau memang putra nya Justin. Setidaknya aku tidak perlu khawatir tentang Erick"


Bibir Jeno mengulas senyum miring. Dalam hati mengutuk sifat lelaki tua didepannya ini yang terlihat seperti begitu menyayangi keluarganya.


'Kau bahkan melupakan cucu mu yang lain. Yang bahkan adalah cucu kandung mu sendiri' cibir Jeno dalam hati.


Melihat Rayyan, mengingatkan Jeno pada sahabatnya yang jauh di sana. Bagaimana pemimpin keluarga Skholvies ini memperlakukan sahabatnya begitu buruk.


'Akan ku buat mereka menyesal, Ge. Karena sudah menyakiti mu! Suatu saat nanti, mereka sendiri yang akan mencari dan mengemis perhatian mu'


Tanpa sadar Netra hazel Jeno berkilat marah, bibirnya berubah datar. Wajahnya bahkan tak menampilkan ekpresi apa pun.


Sayang sekali tidak ada yang menyadari hal itu. Karena Rayyan sibuk mengobrol dengan Daniel dan Ana.


"Apa ada tamu?" tanya Galih pada sang suami yang berdiri di belakangnya bersandar pada counter dapur.


"Ada Jeno"jawab Kevin singkat.


Gerakan tangan Galih yang tengah mencuci piring terhenti. Seketika kembali teringat pada putra sulungnya.


"Jeno pasti sering berkomunikasi dengan Geo ya?" tanya Galih dengan suara lirih.


Kevin tersenyum. "Mereka seperti kamu dan Isabella"


"Jeno akan melanjutkan sekolahnya di Cartesy. Kamu bisa memintanya untuk mengetahui kabar Geo"


"Benarkah?"


"Hm"


Kevin mendekat, memeluk tubuh Galih dari belakang. Melayangkan satu kecupan ringan di Puncak kepala istrinya itu. "Tapi sebelum itu, aku punya kejutan untuk mu"


"Apa itu?"


"Tunggu sampai siang. Kamu akan tau apa itu"


Galih mendongak, menatap tak mengerti ke arah sang suami tapi Kevin hanya membalasnya dengan senyum kecil.


Setelah menunggu hampir 20 menit, Erick akhirnya turun. Bocah itu 10x lipat terlihat lebih manis dari sebelumnya membuat Jeno terpana.


"Cantik"


"Aku cowok kalau kamu lupa"


"Tapi kamu tetap yang tercantik"


"Cih!"


"Berangkat sekarang?" Erick mengangguk.


Keduanya berpamitan sebelum akhirnya Jeno membawa Erick menuju mansion keluarga besar Scander.


Mereka tiba di mansion tepat waktu. Erick meremas kedua tangannya, dirinya merasa gugup karena ini pertama kalinya ia datang ke mansion Scander tanpa kedua orang tuanya.


Di sebelahnya Jeno mengelus lembut punggung kekasihnya itu, menyalurkan ketenangan untuk Erick. "Tenanglah. Tidak perlu khawatir oke"


"Mm"


Jeno menggenggam erat sebelah tangan Erick, menggandengnya masuk ke dalam. Bisa Erick lihat di sana, Justin, Isabella, Jovan, Jesslyn, Valerie, dan si Kecil Fero sudah hadir dan menyatu dengan keluarga yang lain.


"Tuan muda Jeno sudah datang, tuan besar" Robert berucap, memberitahukan keberadaan Jeno yang sejak tadi di cari oleh semua orang.


Hal itu sontak membuat semua orang menoleh pada dua remaja yang baru saja tiba itu.


"Ada paman Charles?" tanya Erick sedikit berbisik begitu Netra birunya melihat kehadiran Charles di sana.


Jeno menoleh. "Tentu saja sayang. Bibi Ceyoura adalah sepupu ayah. Kami masih satu darah dari opah"


"Ouh"


Jeno membawa Erick mendekat pada keluarganya. "Pantas kau menghilang, son" seru Justin. Jeno terkekeh. "Maaf ayah"


"Selamat datang Erick. Jangan gugup buat dirimu nyaman disini" ucap Isabella.


"Terimakasih aunty"


"Ouhh cucu ku sayang. Darimana saja kau hah?!" itu suara nyonya Patricia, ibu kandung Justin. Wanita tua itu menghampiri cucu tertuanya yang baru saja tiba dengan membawa seseorang di sebelahnya.


"Siapa ini?" tunjuk Patricia pada Erick. Matanya memandang tajam remaja yang berdiri di sebelah cucunya itu. Yang sukses membuat Erick berkeringat.


"Jangan membuatnya takut, mom" tegur Isabella pada ibu mertuanya.


Patricia tertawa kecil. "Maaf maaf. Ayo, opah mu sudah menunggu"


Jovan menatap kesal sang kaka. Bisa-bisanya bocah itu pergi menjemput kekasihnya tanpa memberitahukan padanya.


"Kau kesal?" tanya Jesslyn yang berdiri di sebelah Jovan.


"Tentu saja. Jika tau begini, aku akan membawa Harena bersama ku"


"Kkkk"


****


See you!