
"Al.... " panggil Daniel.
"Mm. " Aldre yang sibuk mengunyah menyahut.
"Mau kah kau jujur pada kaka tentang sesuatu? " Daniel menatap penuh harap kearah sang adik.
"Sesuatu? "
"Ya. "
"Apa? "
"Apa saja yang mungkin kau rahasiakan dari kaka. " suaranya terdengar datar, meski Daniel berusaha menahan dirinya agar tidak mengamuk.
"Memangnya apa yang bisa aku rahasiakan dari kaka? "
"Kaka sudah tau segalanya tentang ku. " Aldre menjawab dengan santai dan tenang. Bohong! Tentu saja Aldre sedang memainkan perannya sebagai seorang adik yang baik.
"Benarkah? "
"Mm, tentu saja. "
"Kaka akan kecewa jika kamu berbohong pada kaka. " Daniel menatap sendu, Aldre terdiam sejenak sebelum akhirnya tersenyum manis. "Aku tidak akan berani. " jawabnya mantap.
"Kaka harap itu memang benar. " Daniel bangkit, berjalan keluar dari Apartment. Hatinya sesak mengetahui kebohongan besar yang disimpan rapat adik kesayangannya.
.
"Hiks.. Hiks... " lelaki itu terisak kencang didalam mobilnya. "Kenapa kau berbohong pada kaka Al? Kenapa menyembunyikan hal ini dari kaka? "
"Tidak kah kamu percaya pada kakamu ini Al? "
"Tuhan... Seberapa hancur adik kecilku sebenarnya? Kenapa dia bisa seperti ini? "
.
Sejak terakhir kali dia mengirimkan makanan untuk Aldre, kini sudah lebih dari sebulan Ara tak lagi melakukannya. Entah apa yang terjadi, hatinya seolah tidak tenang dan merasa marah.
"Ada apa sebenarnya? "
"Kenapa rasanya sakit sekali setiap ingat kamu Al? "
Ara bingung dengan hatinya, dia bingung dengan segala perasaan buruk yang melingkupinya. Matanya terarah pada sebuah lukisan diujung kamarnya. Apa arti dari lukisan itu? Kenapa 'dia' menggambarnya seperti itu?
"Semua gambar yang dibuat'nya' selalu memiliki arti, dan selalu berakhir menjadi kenyataan. Apa lagi kali ini? "
"Ka Bella, bisakah aku menanyakan hal ini padanya? Tapi mamah bilang ka Bella tidak boleh diganggu. "
Ara ingin sekali bertukar dengan'nya', tapi 'dia' sama sekali tidak merespon panggilannya. Dia ingin tau apa yang terjadi, menunggu seperti ini tidak memberikan jawaban apapun.
.
"Mm. "
"Kira-kira hadiah apa yang cocok?"
"Pedang? Haruskah aku mengirimkan itu? Tidak-tidak ka Bella yang akan menyimpannya nanti. "
"Mm, apa mereka masih bertengkar? Heh, aku penasaran. "
Aldre tersenyum sinis. Entah kenapa dia seperti menganggap Isabella adalah musuhnya sekarang. Wanita itu terlalu banyak ikut campur, dan terlalu banyak mengambil perhatian semua orang. Wajar saja jika dia memiliki banyak musuh.
Dia tidak ingin bersikap seperti ini, sama sekali tidak. Bagiamanapun Isabella adalah kakanya, dan Aldre jelas sadar hal itu. Tapi dia tidak suka jika wanita itu ikut campur urusannya kali ini.
"Maafkan aku ka Bella. Tapi aku hanya ingin kau diam dan duduk tenang merawat bayimu. "
Aldre meraih kunci mobilnya diatas meja. Dia akan pergi ke mall untuk membelikan hadiah bagi keponakan barunya. Setidaknya dia harus turut bahagia dengan hal ini.
Setibanya di mall, langkah kakinya tidak terarah pada toko perlengkapan bayi, tapi justru toko perhiasan. Lensa cokelat gelapnya tertarget pada sebuah gelang kecil berwarna silver putih.
"Ada yang anda butuhkan tuan? " Tanya salah satu pelayan.
"Bisa kau ambilkan gelang itu. " tunjuknya, pada benda mengkilap yang terpajang didalam lemari itu.
"Oh tentu. Silahkan tunggu sebentar. " pelayang itu membuka pintu kaca, menarik keluar gelang cantik tersebut.
"Ini tuan. " pelayan menunjukan benda itu, menaruhnya tepat dihadapan Aldre.
"Bisakah ini dipakai oleh seorang bayi? "
"Tentu saja, ini memang didesain untuk anak-anak. Tapi sepertinya anda harus menunggu sampai usianya 3-4 tahun untuk bisa dipakaikan pada anak anda. "
"Mm, baiklah aku ambil yang ini. "
"Mau kami tambahkan inisial nama untuk gelangnya tuan? "
"Tentu. Namanya Jafero. "
"Baikah, anda bisa menunggu di sofa sebelah sana. Saya akan memberitahu anda jika gelangnya telah siap. " Aldre mengangguk memberikan kartu debitnya, yang langsung diterima oleh sang pelayan. Berjalan kearah sofa.
Aldre menundukkan kepalanya, menyeringai lebar. Bisa dia bayangkan wajah datar wanita itu meski tersimpan amarah didalamnya. "I'm win. " bisiknya.
20 menit kemudian.
"Permisi tuan, ini gelangnya dan ini kartu anda. " ucap pelayan tadi menyerahkan papee bag mewah berwana biru dan debit card milik Aldre.
"Ohh, thanks you. "
....
T B C?
bye!