Her And Bitter Memories

Her And Bitter Memories
BAB 48



Kevin dan Jovan kini sudah tiba di mansion Courtland. Kedatangan mereka mengejukatkan seisi mansion. Terutama Galih, baru kemarin sore sang suami menghubunginya, tapi pagi ini lelaki itu sudah berdiri didepan mansion.


"Hubby" panggil Galih. Kemudian menghampiri suami dan keponakannya. Kevin menoleh pada sang istri yang menghampirinya.


"Bantu aku gendong dia" Kevin menyerahkan anak Imelda pada Galih, membuat lelaki itu terkejut. Ingin bertanya tapi ia urungkan melihat suaminya yang begitu repot.


"Chindy, tolong siapkan kamar tamu" perintah Kevin. Chindy mengangguk, kemudian berlari masuk kembali kedalam.


Galih semakin terkejut mendapati seorang wanita yang baru saja digendong keluar dari dalam mobil oleh Danesh.


Di kamar tamu


Danesh meletakkan Imelda di atas ranjang dengan hati-hati. Kondisi wanita itu masih cukup rentan.


Beberapa menit kemudian. Tuan Revano masuk kedalam kamar, diikuti yang lainnya. Mereka baru saja mendapat kabar bahwa Jovan dan Kevin telah kembali. Ini jauh lebih cepat dari dugaan mereka.


"Kevin! " panggil tuan Revano. "Siapa dia? Dan dimana Isabella? " Tanyanya begitu pandangannya mendapati sosok wanita yang tengah menggendong bayi.


"Isabella masih berada di Rusia. Dia meminta kami untuk pulang terlebih dahulu, paman" ucap Kevin.


"Dan kalian membiarkannya begitu saja?! " Justin menatap marah pada Kevin.


"Tenanglah Justin! " ucap Devan menenangkan adik iparnya itu. "Bagaimana bisa aku tenang? " Justin benci jika istrinya berada diluar pengawasan.


"Justin! Isabella adalah penguasa dunia gelap. Percayalah, Kevin juga tidak ingin meninggalkannya begitu saja. Tapi melawan perintahnya saat ini, sama saja mengajukan diri untuk mati! " Jelas Devan. Justin mengusap kasar wajahnya, bagaimanapun apa yang dikatakan kaka iparnya itu benar.


"Jadi, jelaskan siapa dia! " Devan menatap kearah Kevin, meminta adik iparnya itu segera menjelaskan.


Kevin menghembuskan nafas berat, sebelum mulai menjelaskan semuanya. "Dia Imelda, Imelda Manofa. Kekasih Roxy, sepupu angkat Aldre! "


"Tunggu. Manofa? "


Kevin mengangguk,"dia keponakan paman qui"


"Apa Isabella ingin menjadikannya ancaman untuk Roxy? " kali ini Rion yang bertanya. Kevin kembali mengangguk.


"Ya tadinya. Aku yakin saat ini Isabella sudah merubah rencananya. Dan jika sudah seperti ini, dia pasti akan bergerak sendiri atau..... "


"Menjadi bayangan untuk Aldre" sambung Rion.


"Seperti yang dia lakukan padamu dulu, hubby? " Tanya Galih. "Iya" untuk kesekian kalinya Kevin mengangguk.


Mendengar penjelasan sang daddy membuat Jovan menjadi cemas. Pikirannya berkelana, seberapa berbahayanya sosok sang bunda dalam dunia gelapnya.


"Apa kita akan kembali membantu bunda, daddy? " nada khawatir itu tidak bisa sedikitpun Jovan sembunyikan.


Kevin menggeleng, menatap sendu keponakannya. Mengerti apa yang remaja itu rasakan saat ini.


"Tidak Jovan. Kita hanya akan mengawasi dari jauh. Pilihannya hanya dua, dia sendiri yang akan menyelesaikannya atau dia yang akan menjadi bayangan untuk pamanmu! "


"Bayangan? "


"Paman Aldre akan bergerak sesuai perintah dan alur yang ia buat"


"Bagaimana jika paman Aldre memberontak? " Tanya Keano tiba-tiba. Putra sulung Galih dan Kevin masuk diikuti saudara-saudaranya yang lain.


Kamar yang Imelda tempati menjadi penuh seketika, beruntung kamar itu adalah salah satu ruangan terluas di mansion Courtland.


Jesslyn berlari menghampiri Jovan, memeluk erat adik kembarnya. Merasa bersyukur karna lelaki itu baik-baik saja.


Keano kembali menatap sang daddy, "dad?"


"Hanya ada satu hal yang akan terjadi padanya, Keano" Keano menoleh pada Saka. "Apa itu? "


"Berarti paman Aldre harus mengikuti apa yang bunda mau? " Saka mengangguk.


"Tapi kita bisa menghentikan bunda, bukan? "


"Tidak ada yang bisa menghentikannya. Kita tidak akan pernah tau sudah seberapa jauh dia bergerak"


"Dan tentang Sin.... " semuanya menatap prihatin pada Ara dan Darren.


"Ka Darren.... " panggil Ara. Darren tersenyum, mengusap lembut puncak kepala sahabat adiknya itu. "Ka Darren tidak apa-apa, Ara. Kami sudah menerima apapun yang terjadi padanya. Itu konsekuensi yang harus Sin tanggung"


Tiba-tiba


"Kevin! "


"Ada apa Danesh? "


"Istana Romanov! Isabella menghancurkan seluruh istana Romanov! "


Semuanya terkejut dengan berita yang disampaikan Danesh. Terutama tuan Revano, tidak menyangka putrinya akan berani mengambil tindakan senekat itu.


Kejadian ini bisa menimbulkan masalah politik antar negara, karena bagaimanapun Romanov adalah aset berharga Rusia.


"Ada lagi? "


"Pemerintah mengkonfirmasi bahwa ledakan tersebut berasal dari bom yang sedang diuji coba di dalam lab milik keluarga Romanov"


Tuan Revano memijat pelipisnya. Ini lah yang dia benci dari sang putri. Dia benar-benar melakukan semuanya sesuai keinginannya.


"Itu artinya Isabella sudah meninggalkan Rusia. Dia pasti menuju ke tempat Aldre berada" ujar Devan. "Leo! Cari Aldre! " peritahnya.


"Aku ikut. Ara ikut ka Leo!"


"Ara!! "


"Ara mohon. Ara tidak mau Cloe memberontak seperti kemarin, please biarkan Ara ikut" Ara memohon pada kaka sulungnya untuk membiarkannya kali ini.


"Kalau Ara ikut, Galih juga harus ikut ka Devan" ucap Galih. "Love!! " sentak Kevin.


"Hanya Masev yang bisa mengendalikan Cloe! "


Drrrttt


Suara deringan ponsel terdengar. Leo merogoh saku celananya, meraih ponselnya. "Hm"


"Tetap ditempatmu, Leo! Jangan bergerak tanpa perintahku! " suara lembut tapi dingin terdengar dari seberang sana.


Hembusan nafas kasar terdengar dari bibir Leo. "Where are you? "


"Kau akan tau nanti"


"I see" panggilan terputus. "Tidak akan ada yang ikut karena aku tidak akan pergi kemanapun! " ucap Leo.


"Berarti Isabella sudah mendapatkan Aldre! " ujar Rion.


......


T B C?


BYE!


MOHON MAAFKAN KALAU MAKIN GAK NYAMBUNG 😭😭 GUA LUPA ALURNYA WOYY 😭😭