Her And Bitter Memories

Her And Bitter Memories
BAB 73



Malam berganti dengan pagi yang cerah. Bulan memohon pamit undur diri yang digantikan matahari setelahnya.


Sinar Mentari yang selalu menyambut, seolah memaksa setiap orang untuk bangun dan berpisah dengan ranjang hangat mereka.


Seperti sosok lelaki tampan yang tengah mengerjapkan matanya saat ini. Tubuhnya menggeliat kecil sebelum kedua kelopak matanya terbuka.


Tangannya terjulur meraba sisi sampingnya yang semalam diisi sosok gadis pujaannya, kini kosong.


Lelaki tampan itu terkekeh kecil. Biasanya ia yang akan bangun paling pertama, lalu berdiam diri menunggu kekasih hatinya bangun. Sambil menatap wajah indah yang selalu menjadi favoritenya.


Tapi pagi ini sedikit berbeda, ia bangun tanpa kehadiran Ara. Sepertinya gadis itu masih merajuk.


Aldre bangkit dari posisinya, kepalanya menoleh kesamping, pada jendela yang tirainya sudah terbuka sepenuhnya.


Untuk sesaat lelaki itu terdiam, hanya fokus memandang kearah luar. wajah tidak menyiratkan emosi apapun, tapi sorot matanya terlihat kosong.


"Its not over" gumamnya.


Sedetik kemudian ia turun dari ranjang, menuju kamar mandi guna menyelesaikan ritual rutin dipagi hari.


.


Dapur utama Mansion Courtland.


"Pergilah ke kamar, dan liat Aldre, little princess. Bangunkan dia" ucap Sofia pada Putri bungsunya yang tengah asik membuat omelete.


Ara menoleh sebentar pada sang mamah, lalu kembali fokus pada masakannya. "Tidak mau. Biarkan saja dia" jawabnya cuek.


"Apa lagi yang kalian ributkan kali ini?" Sofia menatap Putri datar. Tangan wanita paruh baya itu bertengger apik di pinggang.


"Gak tau ah! Aldre ngeselin" acuh Ara.


menghela nafas, "Terserah lah. Mamah pusing dengan kalian berdua" Sofia akhirnya menyerah, membiarkan putrinya itu.


Para pelayan membawa masakan yang sudah siap ke ruang makan. Menyusunnya dengan rapih. Kemudian menuangkan air putih pada setiap gelas, juga susu putih yang merupakan hal wajib yang harus ada saat sarapan.


Ada dua meja makan panjang dengan ukuran besar didalam ruang makan tersebut. Dan kedua meja itu sekarang sudah terisi penuh oleh berbagai macam menu sarapan.


Tadinya hanya ada satu meja disana, tapi tuan Revano menambahkannya setelah seluruh anak-anak nya menikah dan memiliki anak. Menyisakan si bungsu yang baru beranjak dewasa.


Ara meletakkan omelete buatannya tepat didepan kursi miliknya. Ya, karena gadis itu hanya membuat untuk dirinya sendiri.


"Sungguh luar biasa! Dia membuat omelette untuk dia makan sendiri? Hebat..." Rafael yang baru masuk kedalam ruang makan menyeletuk.


Dibelakangnya ada sang papah dan tuan Rayyan, juga Riyani. "Jangan menggoda adikmu Rafael! Ini masih pagi"


Peringat tuan Revano. Rafael menyengir, "dikit doang pah" belanya.


Semuanya sudah tiba di ruang makan, Aldre menjadi yang paling terakhir datang. Lelaki itu langsung mengisi tempat kosong disamping Ara.


Tuan Revano mengangkat tangannya, sebagai izin bagi seluruh anggota keluarga untuk mulai menyantap makanan mereka.


Aldre mengernyit heran menatap omelete milik Ara, sarapan gadis itu berbeda sendiri.


"Kenapa tidak membuatkan untukku juga?" tanya Aldre.


Ara melirik kekasihnya sinis, "berisik! Ada ka Bella. Kamu mau disemprot karena bicara saat makan?"


Aldre meletakkan kembali sendok dan garpu ditangannya. "Siniin omelete kamu" pintanya.


Ara menarik piringnya menjauh, bibirnya mengerucut kesal. "Gak!"


"Ara! Siniin omelete kamu!"


"Gak mau Aldre! Kamu rese banget sih!"


"Kamu berani sama aku?"


"Iya!!!"


TAKK!!!


Ara dan Aldre tersentak, begitupun yang lainnya. Mereka menoleh pada Isabella yang kini memandang tajam kedua pasangan baru itu.


"this is the dining table!" ucap Isabella datar dan tajam.


Aldre dan Ara menunduk,sadar dengan kesalahan mereka. "Maaf ka Bella" ucap keduanya.


"Sudah - sudah. Ayo lanjutkan makannya" lerai Riyani.


Setelah selesai sarapan satu persatu anggota keluarga mulai pamit untuk melanjutkan kegiatan mereka hari ini. Hanya menyisakan Ara, Aldre, kedua orang tua mereka.


"Kalian jadi kembali ke mansion hari ini?" tanya Sofia. Rayyan dan Riyani mengangguk.


"Kenapa ayah dan ibu tidak tinggal disini saja?" tanya Ara.


"Kami tidak mungkin terus berada disini, little princess. Siapa yang akan menempati mansion Skholvies nanti?" jawab Rayyan dengan lembut.


"Dia" Ara menunjuk Aldre santai. "Biarin aja dia tinggal sendiri disana, ayah dan ibu tetap disini"


"Memangnya kamu gak takut kangen sama Aldre?" Rayyan menatap menggoda Putri bungsu sahabatnya.


Ara mengedikkan bahunya acuh. "Ara udah bosen liat muka, Aldre" ujarnya santai.


Plakk!


Dengan tanpa dosanya, Aldre menabok jidat Ara dengan keras. Membuat si empunya mengaduh kesakitan, sambil melirik tajam kearahnya.


.


Aldre telah selesai mengepak barang - barangnya. Setelah sarapan tadi ia langsung kembali menuju kamar untuk merapihkan barang miliknya.


Ara hanya memperhatikan kesibukan kekasihnya dengan bersender di depan pintu. Gadis itu masih dengan mode merajuknya, jadi tidak berniat sama sekali untuk membantu.


"Masih ngambek, hm?" Aldre melangkah mendekati sang kekasih.


Berdiri tepat didepan Ara. Tangan lelaki itu terangkat, menyingkirkan helaian rambut yang menutupi wajah manis gadisnya ke belakang telinga.


"Aku akan sangat sibuk untuk beberapa hari kedepan. Dan dua minggu lagi aku harus melakukan perjalanan bisnis, sayang"


"Jadi berhenti merajuk padaku, atau aku akan menelantarkan pekerjaanku lagi untukmu" keluhnya.


"Aku gak ngambek" cicit Ara pelan.


Meski mengatakan sudah tidak ngambek, ekspresi gadis itu sama sekali tidak berubah. Masih dengan bibir mengerucut dan ekspresi sebalnya.


Ara mendongak, menatap wajah tampan yang lebih tinggi darinya. "Jangan genit sama cewe lain. Kalau gak mau aku potong tongkat kamu" ancam Ara.


"Hahahaha. Apa aku pernah genit sama wanita lain?" Aldre tertawa geli. Perkataan gadisnya sungguh konyol.


"Mana aku tau! Lagian kamu kan ganteng, pasti banyak yang suka"


Membayangkan Aldre yang dikerumuni para wanita membuat hati Ara sangat jengkel. Dulu saja Aldre adalah artis sekolah, apalagi sekarang.


Diitambah wajah lelaki itu yang sangat tampan, hidungnya yang mancung, rahang tegas, badan tinggi, dan kekar.


siapa yang tidak akan tergila - gila padanya.


"Kalau mereka suka aku, itu hak mereka. Masa aku harus marah - marah sama semua orang yang suka sama aku"


"Bagi aku yang terpenting itu kamu, aku gak perduli yang lainnya"


"Gombal"


Cupp


"I love you"


Membalikkan badannya dan melangkah keluar. Ara meninggalkan Aldre begitu saja tanpa membalas perkataannya.


Kedua pipi gadis itu bersemu merah, dan ia tidak ingin Aldre melihatnya, atau lelaki itu akan kembali menggodanya.


"Sayang..."


"Hey!"


"Sayang...."


"Haissshhh. Untung Cinta"


....


"Kehilangan terburuk yang pernah kamu alami adalah hadiah terbesar yang dapat kamu miliki. - Byron Katie


....


T B C?


BYE!


yaeayyyyyy, target cuma sampe 40 BAB ehhhh malah keterusan 😩


gak ad yang mau kasih aku masukan kah? Mentok banget ini sama idenya 😩😭