
Beberapa hari kemudian
Hari ini Isabella dan sang putra, Jovan, akan berangkat. Segala persiapan mereka sudah selesai, semua orang melepas mereka seolah akan pergi berperang. Terutama Justin, ini adalah kali pertama bagi sang putra, dia berharap bahwa mereka akan baik-baik saja.
"Aku akan baik-baik saja, ayah. Bunda tidak akan membiarkan siapapun menyentuhku" Jovan berdiri dihadapan ayahnya, meyakinkan bahwa dirinya akan kembali dengan selamat. "Ayah tau, tapi bisakah kau menjaga dirimu sendiri? Karena jika kau lengah, kau tetap akan mati! "
"Aku putra kalian bukan? Siapa yang bisa melukaiku, jika ayah dan bundaku sehebat ini? Mereka yang akan mati" Justin terkekeh kecil, "kau benar. Kau selalu punya cara untuk menenangkan ayah, nak"
Jovan melangkah maju, memeluk ayahnya erat. "Jaga kaka dan adikku selagi aku tidak ada ayah"
"Tentu, tanpa kau minta ayah pasti akan melakukannya "
Arah pandangannya teralih pada kakak dan adiknya, lalu beralih pada si bungsu yang tengah tertidur. Berjalan menghampiri mereka, "kaka pergi dulu jagoan, akan bawakan hadiah untukmu saat kaka kembali nanti. Be a good boy hm" bisik Jovan pada adik kecilnya.
"Hati-hati Jovan, take care yourself " ujar Jesslyn, kemudian memeluk adik kembarnya erat. Disusul Jeno, Jeven, dan si cantik Valerie.
"It's time Jovan! " ucap Isabella. Keempat remaja itu memandang sendu bunda mereka. Pertama kalinya bagi mereka melihat sang bunda yang sesungguhnya, ada rasa takut dan khawatir yang mendominasi.
Jovan mengangguk, "ya bunda " remaja 13 tahun itu berbalik melangkah kearah sang bunda, tapi langkahnya terhenti karena sebuah tangan kecil yang menarik lembut lengannya. "Ka Jovan " panggilan lembut itu membuat sang pemuda tampan memejamkan matanya erat.
"Cepat kembali. Harena tunggu ka Jovan disini" Jovan menoleh, tersenyum kecil. Mengelus sayang puncak kepala si cantik. "I'm promise, wait me okay? " sahutnya lirih. Si cantik tersenyum manis dan mengangguk.
Mereka akhirnya berangkat, dengan dua pasukan besar yang mengikuti. La Cosa Nostra milik tuan Revano, dan The Phoenix milik sang kaka, Devan.
Isabella masuk kedalam mobil diikuti Jovan, lalu william dan Josh yang menyusl di mobil lain. Sedangkan Alex akan memantau seluruh Amerika untuk memastikan pergerakan anak buah Romanov di sana.
.....
"Isabella sudah berangkat, Kevin. Dia bersama dengan Jovan" lapor Danesh, salah satu anggota pasukan inti milik Phoenix. Kevin mengangguk, lelaki itu tengah berada di perbatasan Rusia saat ini.
"Apa kita akan menunggu mereka? " Tanya Danesh. "Kita tidak bisa masuk begitu saja. Aku tidak paham bagaimana situasi Rusia yang sebenarnya, dan aku tidak bisa mengambil resiko kita salah langkah. Mereka pasti sudah menyadari keberadaan kita, Danesh" jelas Kevin dengan sorot mata tajam kedepan.
Danesh mengangguk paham, apa yang dikatakan ketuanya ini benar. Ini bukan Amerika, mereka tidak bisa bergerak sembarangan.
Kevin berbalik masuk kedalam markas sementaa mereka, berjalan menuju kamar pribadinya. Lelaki itu menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur, mengeluarkan ponselnya, memandang benda pipih itu sendu. Sejak terakhir kali hingga sekarang, dia dan Galih belum juga berbicara.
"Aku merindukanmu, love! Bisakah kita bicara? Aku merindukanmu dan anak-anak "
Tangannya menari dengan cepat diatas layar, memberanikan diri untuk menghubungi istri tercintanya itu.
Tiga kali deringan, panggilan terjawab.
"Halo" suara diseberang sana terdengar.
Kevin tersenyum kecil, mendengar suara dari yang dirindukan. "Halo, love"
"Hmm"
"Masih ingat memiliki istri ternyata? " Galih berucap dengan sinis. Kevin tertawa kecil, "maafkan aku, love. Aku takut kamu masih belum ingin berbicara denganku" ucapnya membela diri.
"Cih! Alasan" cibir diseberang sana. "What are u doing? " Tanya sang dominant lembut.
"Mengumpatimu! " Galih berseru kesal. Kevin kembali tertawa, kali ini lebih keras dari sebelumnya. "Why r u so cute, hm? "
"Berisik!! Pulang!! Aku belum puas menghajarmu"
"Kamu bisa melakukannya setelah aku kembali, love"
"Apa anak-anak sudah tidur? "
"Ya, mereka baru saja tidur. Mereka menemaniku sejak kamu pergi. Tidak ingin jauh sedikitpun"
"Syukurlah, setidaknya aku sedikit lega" Kevin tersenyum, hatinya terasa sedikit tenang.
"Kenapa tidak pamit padaku? " Tanya Galih. "Maafkan aku! Aku begitu panik mendengar Aldre kabur. Jadi langsung bergegas tanpa persiapan" jawab Kevin menjelaskan.
"Aku khawatir padamu, hubby. Tapi aku sedang marah, jadi malas menghubungimu" Galih merajuk.
"Haha, aku mengerti. Istirahatlah, love. Aku akan menghubungi lagi besok"
"Mm, selamat siang hubby"
"Selamat malam, love"
.....
"Mereka memenuhi Area perbatasan, bos!! " lapor salah satu bodyguard.
"Terus pantau pergerakan mereka, dan pastikan anak buah kita telah siap" perintah sosok yang dipanggil bos tersebut.
"Baik, bos" Bodyguard itu berlalu, meninggalkan ruang bernuansa merah tersebut.
"Rencamu harus berhasil, son!! Atau keluarga ini akan hancur selamanya"
....
T B C?
BYE!