
"Aldre!!! " Roxy menggeram. Amarahnya kembali membludak melihat orang yang dibencinya berada dihadapannya.
Roxy merampas sebuah senapan dari tangan salah satu anak buahnya, lalu berjalan cepat menuju Aldre yang memandangnya dengan remeh.
"Kau akan mati ditanganku kali ini!!! "
"Benarkah? Kau pikir bisa membunuhku? " Aldre mamandang sepupu angkatnya remeh.
"Brengsek kau Aldre!! Kau hanya bocah!! " geram Roxy.
"Bodoh! "
"Kau yang bodoh! Perasaan yang tak terbalas, dikhianati gadis yang kau cintai, dan sekarang dikhianati sahabatmu sendiri"
"Hahahahahaha. Aku benar-benar kasian padamu Aldre. Dan bahkan, aku yakin kau bukan orang pertama yang menyentuhnya, iya kan?!"
Roxy mencoba memancing amarah Aldre, karena ia tau lelaki itu akan bertindak bodoh dan lepas kendali. Dan usahanya berhasil, kini kedua tangan Aldre mengepal erat.
"Kau memang tidak ditakdirkan untuk bahagia Aldre! Kau hanya sampah! " pancing Roxy lagi.
"Kau bahkan kalah dari kaka angkatmu. Mereka hanya memandangmu sebelah mata, tidak perduli apa yang kau lakukan, dan karena itu kau mencari kekuatan dari pamanku"
"6 tahun lalu! Tidak satupun ada yang membela mu. Mereka menyalahkan tingkah dramamu yang melarikan diri dan bersembunyi. Padahal mereka tau kau hanya korban"
"Jika aku jadi kau, aku lebih baik mati"
Emosi Aldre mulai tersulut, kepalan tangannya semakin kuat sampai seluruh uratnya keluar. Giginya menggeretak, menahan amarah yang hampir meledak.
"Kami menyayangimu, Aldre. Kau tau itu! Kami memang salah karena tidak ada untukmu selama ini. Disini saat ini, kami tengah menebus rasa bersalah kami padamu. Izinkan kami memperbaiki semuanya. Izinkan kami mengganti enam tahun yang menjadi mimpi buruk bagimu menjadi kebahagiaan" ucap Neoura penuh penyesalan.
Ia tak ingin ucapan Roxy mempengaruhi Aldre, jadi lebih baik katakan semuanya disini.
Galih mengambil.langkah maju kedepan. "Aldre... Kaka disini. Kaka selalu disini bersamamu. Kaka menyayangimu, sangat, kau adik kaka yang paling kaka sayangi. Maafkan kaka jika selama ini kamu mengira bahwa kaka tidak perduli padamu. Kaka tidak bisa melihatmu, rasanya hancur, Aldre. Kaka tidak sanggup berpura-pura tegar didepanmu. Kau tau ayah sangat menyayangimu, kan? Begitu juga ibu. Mereka bangga padamu, selalu bangga padamu. Ayah melarang kami menemuimu bukan karena dia tidak perduli.
Tapi ayah tau kau membutuhkan waktu bagi dirimu sendiri. Ayah tidak mau kau semakin terluka melihat kami. Ayah tidak mau kau terus dihinggapi rasa bersalah. Kau tidak tau betapa bahagianya kami saat kau kembali. Kami pikir... Luka itu sudah sembuh dari hatimu walau hanya sedikit. Kami pikir... Kau sudah bangkit dari rasa sakitmu.
Maafkan kaka, maaf karna tidak pernah ada untukmu. Izinkan kaka mendapatkan kesempatan kedua dan memperbaiki segalanya. Maukah kamu memberikannya, little boy? " Galih menatap sedih adik bungsunya. Adik kecilnya yang saat ini tengah memperjuangkan kebahagiaannya yang terenggut.
"Haruskah aku percaya? " balasan Aldre membuat Roxy menyeringai. Galih menunduk, hatinya menerima jika sang adik membencinya.
"Itukan yang ingin kau dengar dariku Roxy? " Aldre menatap tengil Roxy. "Tepati janjimu ka" ucap Aldre pada Galih.
Galih kembali mendongak dengan cepat. "Pasti" ucapnya mantap.
.
"Imelda Manova! Putramu memiliki wajah yang persis seperti ayahnya! " perkataan Jovan sukses membuat Roxy membola.
"A-apa?! "
Anak itu tidak mendapat perintah apapun dari sang bunda untuk bersuara, tapi sangat mengerti apa yang harus dilakukannya.
"Ooh, kau tidak tau anakmu sudah lahir? " Jovan memasang wajah polosnya yang menipu. "Apa kau ingin melihat fotonya, paman Roxy? "
"Darimana kau tau tentangnya?!! " ujar Roxy panik.
"Tidak penting, darimana aku tau! "
"Panggil dia daddy, Prince. Karena dia akan segera menjadi daddymu" seru Isabella.
Jovan menatap Roxy dari atas sampai bawah. "Dia? " tunjuknya. "Apa bunda tidak bisa mencari yang lebih baik? " ejek Jovan.
Roxy gelagapan. Tidak mengira putra Isabella ada disini.
"Jangan bertele-tele paman Aldre. Aku mulai bosan disini! " ujar Jovan malas.
DOR DOR
dengan cepat Aldre melepaskan dua peluru kelengan Roxy, membuat senapan digenggamannya terlepas.
Haybie menyerang tubuh Erd dari belakang. Merobek kulit bahu lelaki itu dengan kukunya yang panjang dan tajam.
Cloe mengambil kesempatan tersebut dengan membalik keadaan. Gadis itu mulai menghajar tubuh Erd dengan serangan bertubi-tubi. Membuat lawan dibawahnya tak sanggup membalas.
"Mundur!!! " Devan memerintahkan pasukannya untuk mundur, begitu melihat sang adik sudah menarik kembali pedangnya.
"Cloe!! Aldre!! Mundur sekarang!! " teriak Devan lagi dengan lantang.
Haybie, Aeion, dan Tier berlati cepat naik keatas bukit menyusul yang lainnya.
"AEION!!! " Kevin berteriak ketika mendapati Aeion yang berbalik. Harimau putih itu berlari kearah Thomas dan Roxy, lalu menyeret tubuh keduanya.
Kevin kembali berlari menuruni bukit, membantu Aeion menarik tubuh Thomas. Dan membiarkan harimau itu membawa tubuh Roxy.
Dia tidak menyelamatkannya, tapi Aeion sangat tau bahwa perintah membawa mereka hidup-hidup dari sang papah. Tuan Revano.
Isabella mengayunkan pedangnya membabi buta. Menyerang pasukan milik Roxy yang jumlahnya sangat tidak sebanding dengan dirinya yang hanya sendiri. Tapi inilah sang Godmother yang sebenarnya. Siapapun lawannya, ia akan menghabisi mereka tanpa ampun.
.
Bukannya takut dengan apa yang dilihatnya saat ini, Jovan justru menatap penuh kekaguman sang bunda. Dalam hatinya, berharap ia juga bisa sehebat itu.
"Buang jauh-jauh pikiranmu, Prince! Kau sudah berjanji pada ayahmu" tegur Leo. Ia tau apa yang dipikirkan keponakannya itu.
Jovan memandang malas pamannya yang terkenal paling pendiam. "Ayolah paman, setidaknya biarkan khayalanku bekerja saat ini"
"Terserah! "
"Ohh, kau lupa sesuatu daddy" Kevin mengernyit bingung. "Apa yang daddy lupakan? "
"Gadis itu" Jovan menunjuk kearah Sin yang masih terikat dibatang pohon.
Galih meringis. "Kau jahat sekali Hubby! Dia pasti trauma" ucapnya yang terdengar seperti ejekan.
"Aoohh, maafkan aku. Aku akan menyelamatkannya sekarang" Kevin kembali turun, melepas ikatan Sin. Gadis itu menangis dengan masa terpejam kuat.
"Kau takut? " tangisan Sin semakin keras. Kevin tertawa kecil. "Ayo naik adik manis" ejek Kevin.
.
Aldre mengusap lembut rambut Ara. Mengamati wajah gadis itu yang sedikit berantakan. Ada bercak darah dibeberapa bagian. Tapi itu tidak menghilangkan kesan manis diwajahnya sedikitpun.
"Sakit ya? " Aldre bertanya dengan lembut. Ara mengangguk, "sedikit, tapi tidak apa-apa, Al"
Ara kembali memandang sang kaka yang masih bertarung. "Pantas ka Justin selalu marah dengan ka Bella jika menyangkut hal ini. Aku mengerti sekarang? "
"Pertama kalinya kita melihatnya secara langsung. Dulu ka Bella selalu menolak untuk mengajariku. Dan itu karena dia tidak mau aku sepertinya"
"Bagaimanapun, ka Bella saat ini adalah hasil karya papah"
"Hahaha. Aku jadi penasaran bagaimana paman dulu" Ara menggelengkan kepalanya sedikit kencang. "Aku tidak ingin membayangkannya"
"Ra!!! " Aldre terkejut dengan Ara yang tiba-tiba bangkit dari posisi duduknya dan berlari. Gadis itu berlari dengan tertatih, Aldre lantas segera mengejarnya.
Ara berlari menuju Kevin yang tengah menyeret tubuh Sin. "Ka Kevin lepas!! " Ara menjerit. Tangannya menarik paksa lengan Kevin agar melepaskan sahabatnya.
"Ara!!! " Aldre tiba disamping Ara, menarik tubuh pujaannya untuk menjauh. "Kamu ngapain si? " omelnya.
"Ka Jos. Apa kaka bawa obat? Aku ingin membersihkan luka Sin" Tidak mengindahkan perkataan Aldre. Gadis itu hanya fokus pada Sin yang terluka.
Jos menggeleng. Bukan tidak memiliki, tapi Harves memberi kode untuk tidak memberikannya. "Maaf nona, saya tidak membawanya.
Menunduk lesu, Ara menatap lengan Sin yang lecet akibat tali yang melilit tubuhnya tadi.
"Pasti sakit ya? " Tanya Ara khawatir. Sin tertegun, disituasi seperti ini gadis itu masih mengkhawatirkannya.
"Kenapa kau perduli? " Tanya Sin parau. "Kau sahabatku, tentu saja aku perduli" tanpa ragu Ara menjawab.
Putri tunggal keluarg Forist kembali menangis, lebih keras dari sebelumnya. Rasa bersalah dan penyesalan kini hinggap dihatinya. Ara meraih tubuh Sin, memeluknya erat.
Aldre dan yang lainnya, langsung bersikap waspada. Ara terlalu nekat, bagaimana jika Sin mengambil kesempatan untuk melukainya.
"Ara! Lepaskan dia, jangan buat kaka marah! " tegas Devan. Si bungsu menurut, melepaskan pelukannya. "Jangan lukai dia lagi ka" ucapnya memohon.
"Menurutlah! "
.....
T B C?
BYE