Her And Bitter Memories

Her And Bitter Memories
107 | TINGGAL BERSAMA



Jovan duduk disebelah Isabella, sedikit menjauh dari sang ayah yang menatap kearahnya lekat.


"Bunda. Sepertinya mereka menaruh mata-mata diperkebunan, paman" ucap Jovan memulai bicara.


"Apa kau yakin?" Tanya Isabella. Jovan mengangguk cepat, "sangat yakin, bunda. Ada sekita Lima belas orang, sepertinya mereka sudah Lama mengincar, paman ya?" Jawab Jovan penub keyakinan.


"Itu artinya ka Kevin dalam bahaya" sahut Ara. "Ka Bella, bukankah seharusnya memberitahu papah?"


"Papah tau Ara, dia pasti tau semua yang terjadi. Itu kenapa kak bilang bahwa kaka menunggu perintah darinya"


"Lalu, bagaimana dengan ka Galih?"


Tubuh Aldre yang semula santai kini menjadi tegang, lelaki itu baru teringat dengan sang kaka. Ia tidak pernah terpikirkan kesana sebelumnya.


"Apa ka Galih akan baik-baik saja?" Tanya Aldre cemas.


Tidak ada jawaban dari Isabella. Ia terlalu sibuk pada sang suami sampak tidak terpikirkan sahabatnya.


"Bawa Galih kesini, Bee. Ajak dia tinggal bersama kita" perintah Justin.


"Aku melupakannya. Minta paman Robert untuk menjemputnya, Jovan!"


"Baik bunda" Jovan beranjak dari duduknya, melangkah turun mencari tangan kanan sang ayah.


"Apa ka Kevin akan tertangkap?" Sama seperti Aldre, Ara juga tidak bisa menahan rasa cemasnya.


"Kalaupun dia tertangkap, itu artinya dia memang sengaja menyerahkan diri"


"Kau menangkap informasi dengan bagus, Cloe!"


Sosrot mata Isabella yang semula tenang kini berubah tajam dan dingin. Menyorot tepat kedua netra biru adik bungsunya yang perlahan berubah menjadi light grey.


Ara menyeringai, lebih tepatnya Cloe yang menyeringai. Gadis itu tanpa takut membalas tatapan tajam sang kaka, meski tubuhnya sedikit bergetar.


"Aku bisa menipumu sedikit ternyata" seringai lebar Cloe terpampang.


"Tidak juga. Menjadi pura-pura bodoh itu menyenangkan, Cloe. Cobalah sesekali!"


Cloe mendengus, wanita ini selalu tau bagaimana caranya membalikan keadaan.


"Cloe!" Panggilan penuh minat disebelahnya membuat Cloe menoleh. Menatap malas sosok tampan yang merupakan kekasih dari sipemilik tubuhnya yang asli.


"Hai adik ipar" sapa Cloe. Suaranya halus namun penuh ancaman.


"Hai *****"


Cloe menatap marah Aldre. Berani sekali lelaki itu memanggilnya seperti itu. "What the ****!"


Aldre menatap netra abu terang itu penuh antusias. Ia suka bagaimana netra abu itu berusaha mengintimidasinya, meski itu hanya usaha yang sia-sia.


"Bajingan!" Umpat Cloe.


Jovan kembali keruang santai setelah menyampaikan pesan sang bunda pada Robert. Remaja 14 tahun itu cukup terkejut dengan umpatan yang keluar dari bibir manis sang bibi.


"Aku tidak tau kalau ternyata bibi bisa mengumpat juga" ucap Jovan.


Cloe memandang sinis Jovan. "Aku bukan bibimu bocah!" Desisnya sinis.


Jovan menelengkan kepalanya kesamping, suara bibinya agak berbeda, warna matanya juga bukan berwarna biru.


Bocah itu mendongak kearah sang bunda, ekspresinya menampilkan raut bingung yang kentara.


"Cloe" ujar Isabella singkat. Bibir Jovan membulat, ia mengerti sekarang.


Justin yang sejak tadi memperhatikan sang putra cukuo tercengang. Apa yang dikatakan istrinya benar ternyata, putranya ini cukup peka dengan keadaan.


.


.


MANSION ALDEBARAN


"Ada apa Robert? Kenapa kau datang kerumahku?" Tanya Galih heran


"Maaf, tuan Galih. Saya datang kesini untuk menjemput anda dan anak-anak anda. Nona Isabella ingin anda mulai sekarang tinggal bersamanya" jawab Robert menjelaskan perintah atasannya.


"Apa? Tapi kenapa?"


"Untuk melindingi anda dan anak - anak anda, tuan. Hanya sampai masalah ini selesai"


"Aku tidak akan pergi kemanapun, Robert. Aku akan tetap disini" Galih menolak, ia bahkan sudah berniat untuk menutup pintu jika saja tidak mendengar perkataan Robert selanjutnya.


"Jika anda tidak ingin ikut dengan saya, maka nona Isabella sendiri yang akan menyeret anda, tuan"


Galih menggeram, apa yang dipikirkan sahabatnya itu? Wanita itu pikir dia ini anak kecil apa? Haiiishshs!


"Baiklah. Kau tunggu disini!"


Hampir satu jam Galih membereskan beberapa pakaiannya dan kedua anaknya. Kini ketiganya sudah duduk manis didalam mobil yang dikemudikan Robert.


"Papah, kenapa kita harus tinggal dirumah bibi Bella?" Tanya Kiransa bingung. "Papah juga tidak tau, sayang. Nanti kita tanya bibi langsung ya" Galih mengusap lembut rambut putri bungsunya.


Sejak meninggalka rumahnya, pandangam Keano hanya terfokus pada jalanan. Dirinya sedikit mengkhawatirkan sang dady, apalagi mereka belum berpamitan.


Setibanya dirumah sahabatnya, Galih dengan cepat keluar dari mobil. Melangkah terburu-buru menuju lantai atas. Tujuannya adalah ruaang santao lantai dua, dimana ia yakin sahabatnya itu pasti berada disana sekarang.


"Dear!!" Teriaknya kencang. Isabella tersenyum sumringah menatap kedatangan soulmatenya itu. "Hai, Ge"


"Untuk apa kau memintaku tinggal disini? Aku bukan anak kecil!" Sembur Galih penuh amarah.


"Tenanglah, Ge"


"Jeven!!"


Jeven datang setelah mendengar panggilan sang bunda. "Ya bunda"


"Bawa Kiran dan Keano bersamamu" perintah Isabella.


"Baik bunda. Jeven menarik lengan Kiran dan Keano ke ruang bermain.


"Sekarang jelaskan!"


"duduklah dulu, Ge" Isabella menarik lengan Galih untuk duduk disebelahnya.


"Aku hanya ingin melindungimu dan anak-anak" ucap Isabella. "Aku juga seorang lelaki jika kau lupa!" Balas Galih tajam.


"Aku tau. Tapi masalah ini tidak semudah yang kita bayangkan, Ge"


"Apa maksdumu?" Kedua alis Galih bertaut, ekpresi marah masih terpancar diwajahnya.


Isabella melirik sang putra, Jovan yang mengerti langsung menjelaskan apa yang didapatnya beberap hari ini.


Galih terkejut setelah mendengar semuanua. Apa suaminya tidak menyadari hal itu?


"Sepertinya ka Kevi menyadarinya, ka. Tidak mungkin jika dia tidak tau. Tapi aku rasa, ka Kevin pasti sengaja membiarkan mereka. Terkadang jalan pikirannya susah ditebak" seru Aldre.


Galih menatap kesal adik bungsunya. Ingin sekali ia melayangkan tinjunya pada bocah nakal itu.


"Ge" panggil Isabella. "Kenapa kau hanya diam, dear?" Sorot mata Galih menatap sendu sahabatnya.


"Papah know everything. Dan sekarang dia mengambil alih segalanya, papah turun tangan langsung, Ge. Karena ini tidak hanya melibatkan suamimu, ka Justin, ataupun Aldre"


"Tapi.... Juga putra kesayangannya"


"....."


.....


T b c?


Bye!