Her And Bitter Memories

Her And Bitter Memories
BAB 52



FLASHBACK CARISSA


Aku merasa tubuhku seolah mati rasa. Kepalaku berdenyut, darah yang mengalir deras diwajahku. Hanya kedua hal itu yang bisa aku rasakan.


Aku tidak mengerti mengapa Roxy melampiaskan amarahnya padaku. Aku tidak melakukan apapun. Aku bersikap baik, tidak pernah melawan mereka sedikitpun.


Tapi aku mendengar lelaki itu mengatakan bahwa ini bentuk balas dendamnya karena mereka menghabisi keluarganya.


Mereka? Tapi mereka siapa yang dia maksud?


Ohh, kepalaku. Rasanya seperti akan hancur detik itu juga.


Aku ingin bergerak setidaknya merubah sedikit posisiku, tapi sepertinya Roxy masih belum puas jika aku belum mati. Baiklah, aku harus menjadi anak baik sedikit lagi.


10 detik 20 detik


Kenapa aku tak lagi merasakn apapun? Ohh, aku mendengar suara tongkat yang terjatuh. Dan, ada suara auman keras yang terdengar.


Hey... Aku rasa aku kenal auman itu. Tapi... Mereka tidak mungkin disini, tempat ini bahkan sangat jauh.


Aku masih sadar, jadi tidak mungkin salah mendengar. Auman itu... Auman itu milik Haybie dan Aeion. Mm, tunggu sebentar... Tier, itu suara tier.


Oh, Tuhan. Terimakasih karena mengirim mereka untuk menyelamatkanku. Aku bisa merasakan ada sebuah harapan baru bagiku.


Suara langkah kaki seseorang yang mendekat bisa aku dengar. Dari suara dan langkah kakinya yang tergesa bisa aku tebak sepertinya ada hal buruk di luar sana.


Tidak lama setelah orang itu masuk, suara teriakan kesakitan terdengar begitu keras. Bahkan tidak hanya satu tapi lebih dari dua, atau sepuluh ku rasa. Entahlah.


Aku tersenyum kecil. Oh, baby boy.... Apa kalian menyerang mereka semua? Kaliam memang nakal sekali. Aku tidak akan bertanggung jawab jika ka Bella marah pada kalian.


Seseorang yang tadi masuk dengan panik itu menyeret Thomas pergi, dan aku bisa mendengar Sin, dan Roxy juga mengikutinya.


Apa aku bisa merubah posisiku sekarang? Kepalaku kram sekali.


Tunggu... Ada suara langkah kaki lagi yang terdengar mendekat. Tidak hanya satu, emm.... Tiga? Ya tiga. Tapi sepertinya ini bukan langkah kaki manusia!


Aku mendongak sedikit, sepasang kaki besar berdiru tepat dihadapanku. Aku mengenali pemiliknya, sangat mengenalinya. Bocah-bocah ini benar-benar nakal sekali.


Aku kembali tersenyum. "Hey boy" panggilku. Haybie mendekat mendudukan tubuhnya disebelahku. Lidahnya terjulur menjilat darah diwajahku, tapi itu sama sekali tidak membuatku khawatir bahwa mereka akan menerkamku.


Aeion duduk disisi ku yang lain. Kepalanya menyundul pelan kepalaku, seolah memberi kode aku untuk bersandar ditubuhnya. Aku mengerti dan melakukan apa yang dia inginka. Ahh, nyamannya.


Tier masih berada diluar selku, sepertinya dia memilih untuk menjaga diluar saja.


"Kalian nakal sekali, hm? Aku tidak mau bertanggung jawab jika ka Bella menghukum kalian"


Tier menggeram kesal. Menyahut ucapanku seolah berkata, 'ini karenamu Carissa'. Aku terkikik kecil.


"Apa kalian lapar? Kalian pasti lelah dengan perjalanan sejauh itu kan? "


Kali ini Aeion yang menggeram kecil. Memberitahuku bahwa mereka baik-baik saja.


Jangan menganggap aku aneh jika bertingkah seolah aku mengerti ucapan mereka. Tapi ka Bella memang mengajarkan ku bagaimana memahami perkataan mereka. Walau terkadang aku masih sedikit bingung.


"Maafkan aku, ya. Aku pasti membuat semua orang khawatir. Aku tidak bisa menjaga diriku dengan baik"


Haybie menggeram sedikit keras. "Aku hanya ingin menjaga kesadaranku, Haybie" aku terus berbicara agar aku tetap sadar. Tapi Haybie mengerti kondisiku bahwa aku tidak boleh banyak bicara, karena itu akan menguras tenagaku.


"Saybie dan yang lainnya pasti sudah sebesar kalian sekarang. Aku tidak sempat menemui mereka kemarin" Tier kembali menyahutiku.


"Apa? Mereka tetap kecil? Hahaha" Tier menggeram sekali lagi. Aku bisa melihat wajah kesal Haybie. Tier memang senang sekali mengganggunya.


Ssshhhhh


Aku meringis kecil, merasakan rasa nyeri dikepalaku semakin menjadi. Ketiganya langsung merespon begitu mendengar ringisan ku.


"Tidak, aku tidak apa-apa. Tenanglah"


10 menit 20 menit 30 menit


Tidak lagi ada suara diantara kami, kecuali deruan nafas ketiga beruang besar ini. Aku masih berusaha menjaga kesadaranku. Ya tuhan, aku benar-benar ingin tertidur rasanya.


Aku terkejut mendengar teriakan kencang itu. Apa ada yang datang? Al, apa itu kau? Ka Bella aku mohon tolong aku.


Aku berusaha menggerakkan tanganku, tapi tidak berhasil. Aku mencobanya sekali lagi, tapi hasilnya tetap sama. Tubuhku mati rasa.


Suara langkah kaki yang besahutan memenuhi Indra pendengaranku. Aku bisa merasakan Tie yang bangkit dengan cepat dari posisi duduknya.


Beruang gondrong itu menggeram kencang, kemudian mengaum sangat keras. Langkah kaki itu berhenti tepat saat Tier mengaum.


Aeion juga merespon. Tubuhnya yang menyanggaku menegang dengan posisi siaga.


Tidak lama kemudian aku mendengar sebuah suara siulan yang cukup kencang. Itu ka Bella! Terimakasih Tuhan, akhirnya rasa sakit akan segera berakhir.


Haybie mengaum keras seperti Tier sebelumnya. Tubuh besarnya kini berdiri tegak. Menyaut siulan ka Bella.


Aku melirik beruang gondrong kesayangnku yang perlahan mundur. Lalu disambut langkah kaki yang mendekat.


"CARISSA!!!! " Aldre? Aku senang melihatmu baik-baik saja Al.


"Apa yang terjadi padamu? " suara Aldre bergetar, dia menangis untukku. Aku tersenyum lemah padanya, "maaf, Al" ucapku lemah.


Aldre menggeleng, "no no no. Jangan bicara dulu, ok " tangannya mengusap sisa darah diwajahku.


"Bawa Carissa kerumah sakit xx. Cepatlah Aldre!! " itu ka Bella. Dia tidak masuk hanya berdiri didepan selku.


Aku bisa melihat kedua tangannya yang mengepal erat. Ka Bella, aku baik-baik saja sungguh. Aku sangat takut dia kehilangan kendali dirinya.


Aldre mengangkat tubuhku keluar, salah satu anak buahnya menghampiri kami, dan memberikan sebuah kain untuk menutup tubuhku.


Aku melirik ke belakang. Ka Bella sepertinya tidak akan ikut dengan kami, aku yakin dia akan mengejar Sin dan yang lainnya.


Mata abunya melirik khawatir kearahku. Dan sejujurnya aku ingin sekali dia yang menanganiku. Tapi emosinya lebih besar dari apapun saat ini.


Aku tidak tau seberapa cepat Aldre berlari, karena saat ini aku sudah bisa merasakan teriknya cahaya matahari.


Di dalam mobil, aku terus menatap wajah Aldre. Satu-satunya sahabat laki-laki yang aku miliki. Banyak sekali yang berubah darinya. Dulu dia sangat kurus, tapi sekarang badannya lebih besar dariku.


Aldre menoleh padaku, lelahan air mata itu masih mengalir dipipinya. "Kenapa menatapkh seperti itu? "Tanyanya. Aku tersenyum. "Wajah kamu besar sekali, ya"


"Kamu pikie aku hulk! " rengutnya. Aku terkikik, "uhukk uhukk uhukk" aku bisa merasakan darah yang keluar dari mulutku.


Aldre panik melihatku batuk darah. "Ssttt, tenanglah tenang ok "


"Kau harus janji untuk sembuh, ya. Karena sekarang aku dan Ara hanya memiliki kamu Carissa" ucapnya dengan lembut. Aku mengangguk dan tersenyum.


"Kita sudah sampai tuan"


Kami tiba dirumah sakit. Dan aku tidak bisa lagi mempertahankan kesadaranku. Mataku terpejam tepat setelah Aldre meletakkanku diatas ranjang rumah sakit.


Jika Sin disini, aku ingin sekali mengatakan padanya bahwa, 'aku sangat menyayanginya. Dia sahabatku, salah satu dari ketiga sahabatku yang mau menerima segala kekuranganku. Aku selalu berharap kau kembali, Sin. Kita bisa memulai semuanya dari awal. Ara sudah memaafkanmu, dan aku yakin Aldre juga akan memaafkanmu. Kembalilah Sin, aku akan selalu menantimu sahabatku. Bukankah kau sendiri yang mengatakan bahwa genggaman tangan kita tak boleh terlepas? Aku dan Ara masih berusaha mengeratkan genggaman itu. Jadi aku mohon kembalilah'


"dok, pasien kehilangan kesadarannya! "


"Siapkan ruang operasi suster "


"Baik dokter"


"Tolong lakukan yang terbaik, dokter" Aldre menatap dokter penuh harap.


"Tentu Mr, Skholvies kami akan melalukan yang terbaik" dokter dan para perawat mendorong ranjang Carissa menuju ruang operasi.


.....


Akan ada saatnya kau membiarkan seseorang pergi dari hidupmu, meski kau tahu kehilangan dirinya bukanlah perihal mudah untuk dilalui.


.....


T B C?


BYE!